Jutaan Sarjana Menganggur, PT Harus Segera Bertransformasi

Perguruan tinggi di Indonesia harus bertransformasi untuk mengatasi 1,1 juta sarjana menganggur pada 2025 akibat ketidakcocokan kompetensi dengan industri.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Fauzan, saat membuka secara resmi Studentpreneur Bootcamp 2026 di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/7/2026)./ Ist
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Fauzan, saat membuka secara resmi Studentpreneur Bootcamp 2026 di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/7/2026)./ Ist

Bisnis.com, MALANG —Tata kelola perguruan tinggi di Indonesia dinilai lambat beradaptasi sehingga memicu lahirnya 1,1 juta sarjana pengangguran pada 2025 akibat mismatch kompetensi dengan kebutuhan industri, dan oleh karenanya perlu segera bertransformasi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Fauzan, melontarkan kritik tersebut saat membuka secara resmi Studentpreneur Bootcamp 2026 di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/7/2026).

Pendidikan tinggi nasional tengah menghadapi tiga tantangan krusial yang saling berkaitan, yakni problematika mutu, akses, dan relevansi,” ujarnya.

Dia menyoroti masih banyaknya perguruan tinggi yang menolak bertransformasi dan enggan menjadikan dinamika kehidupan sosial riil sebagai referensi dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya.

"Perguruan tinggi di Indonesia itu masih menggunakan cara-cara atau manajemen pengelolaannya menggunakan abad 20. Satu sisi, kita ini sudah masuk di abad 21," tegasnya.

Menurutnya, kegagalan kampus dalam membaca kebutuhan zaman tersebut membuat lulusannya hanya dibekali dengan keahlian-keahlian generik. Imbasnya, para sarjana baru ini tidak memiliki nilai tawar spesifik dan pada akhirnya gagal terserap oleh lapangan pekerjaan yang kian dinamis.

"Sehingga yang terjadi adalah banyaknya mismatch. Di tahun 2025 saja, itu ada 1,1 juta alumni atau sarjana yang belum memperoleh pekerjaan setelah diidentifikasi karena memang peran-peran generik yang dia miliki," tambahnya.

Guna meretas problematika relevansi tersebut, Wamen Diktisaintek mendesak perguruan tinggi untuk berani keluar dari zona nyaman dengan membangun ekosistem kolaborasi lintas sektor. 

Dia secara khusus mengapresiasi inovasi UMM melalui program Center of Excellence (CoE) atau kelas profesional yang menggandeng perusahaan besar guna mencetak lulusan yang benar-benar siap kerja, bukan sekadar siap dilatih.

"Dalam teori sustainability kampus, sustainability kampus itu hanya bisa dilakukan jika kampus itu bekerja sama atau berkolaborasi dengan pemerintah, dengan dunia usaha, dan dunia industri. Kalau tiga hal ini berkolaborasi, selesai bangsa ini," paparnya.

Selain menuntut transformasi kelembagaan, dia juga memotivasi mahasiswa dengan membagikan kisah perjuangan masa lalunya yang penuh keterbatasan finansial hingga harus rela bekerja serabutan untuk membiayai sekolah. Pengalaman tersebut diakuinya sebagai proses penempaan paradigma berpikir otak kanan yang mengutamakan daya juang tinggi.

"Saya meyakini Saudara masuk di sini ini tidak banyak menggunakan otak kiri, tetapi lebih banyak menggunakan otak kanan. Artinya adalah, sama sekali dia tidak ingin dikasihani, tetapi dia ingin membangun survivability kehidupannya supaya dia bisa mandiri," ujarnya.

Di samping kemandirian, dia juga menuntut generasi muda untuk membuang jauh-jauh pola pikir minimalis. Mahasiswa diharapkan memiliki mentalitas petarung yang tangguh agar mampu bersaing dan tidak menjadi bagian dari penyumbang angka pengangguran intelektual.

"Tanamkan mental Saudara adalah mental maksimalis. Pupuk kerja keras, tidak mudah menyerah kapan dan di mana saja. Sarjana yang pola berpikirnya biasa-biasa saja itu mendominasi jumlahnya," tuturnya.(K24)

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Choirul Anam
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro