APPBI : Kinerja Mal Surabaya Tetap Tumbuh Tahun Ini

Tren kinerja pusat perbelanjaan di Jawa Timur tahun ini masih akan tumbuh seiring dengan hadirnya sejumlah mal eksisting oleh para pengembang besar di Surabaya.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  19:25 WIB

Bisnis.com, SURABAYA - Tren kinerja pusat perbelanjaan di Jawa Timur tahun ini masih akan tumbuh seiring dengan hadirnya sejumlah mal eksisting oleh para pengembang besar di Surabaya.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur, Sutandi Purnomosidi mengatakan tahun ini belum ada pembangunan mal baru, tetapi pengembang masih melanjutkan pembangunan mal eksisting dari mal yang sebelumnya.

"Tahun ini hanya ada dari pengembangan mall yang sebelumnya, seperti Pakuwon Mall sendiri akan membuka lagi 10.000 m2 untuk area home decor," katanya, Selasa (21/1/2020).

Selain itu, lanjutnya, East Coast Mall garapan Pakuwon Group di kawasan Surabaya Timur juga akan berganti nama menjadi Pakuwon City Mall seiring dengan adanya penambahan East Coast 2 yang bakal diresmikan April mendatang.

"Sambil menunggu pembukaan Ciputra Worls Surabaya (CWS) yang eksisting, Pakuwon Group juga akan membangun Cinema XXI di Food Junction Grand Pakuwon Benowo Surabaya Barat," katanya.

Bahkan, lanjutnya, Royal Plaza juga akan membuka Lower Ground (LG) khusus untuk area food and beverage (F and B) yang bakal diisi oleh para tenant seperti Marugame, Gokana, dan Fusia.

Sutandi yang juga merupakan Direktur Pakuwon Group itu mengatakan pertumbuhan ritel untuk sektor F and B memang cukup bagus. Mereka berlomba-lomba untuk memasuki pasar di dalam mal.

Beberapa brand F and B yang siap menyerbu pasar di dalam mal eksisting di Surabaya ini misalnya seperti Nam Hong, Union Group, dan Susi Hiro yang diyakini bakal menjadi destinasi kuliner baru di Surabaya.

"Melihat kondisi tahun lalu, ritel untuk F and B sendiri bisa tumbuh 20%. Berbeda dengan ritel seperti departemen store yang hanya tumbuh 8%," katanya.

Menurut Sutandi, pertumbuhan ritel departemen store tersebut salah satu disebabkan oleh tren milenial yang mulai menyukai belanja online.

Namun begitu, melihat peluang online tersebut, pengelola mal mencoba untuk menarik para pedagang atau UMKM online agar produknya didisplay di dalam mal.

"Generasi milenial cenderung berbelanja produk online, tapi kemudian kami coba buka supaya produk lokal online juga masuk ke offline," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mal, surabaya

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup