Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Karantina Surabaya Musnahkan 59 Paket Tanpa Dokumen

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya memusnahkan 59 paket tanpa dokumen di Kediri, Jumat (18/10/2019).
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 Oktober 2019  |  05:38 WIB
Petugas Karantina memperlihatkan paket sitaan berisi bibit tanaman dan produk pertanian ilegal di Kantor Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya wilayah kerja Kantor Pos Besar Kediri, Jawa Timur, Jumat (18/10/2019). Sebanyak 59 paket ilegal dari 16 negara dimusnahkan dengan cara dibakar guna menanggulangi penyebaran Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). - Antara/Prasetia Fauzani
Petugas Karantina memperlihatkan paket sitaan berisi bibit tanaman dan produk pertanian ilegal di Kantor Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya wilayah kerja Kantor Pos Besar Kediri, Jawa Timur, Jumat (18/10/2019). Sebanyak 59 paket ilegal dari 16 negara dimusnahkan dengan cara dibakar guna menanggulangi penyebaran Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). - Antara/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya memusnahkan 59 paket tanpa dokumen di Kediri, Jumat (18/10/2019).

Paket ini berisi berbagai macam benih komoditas pertanian dengan beratnya mencapai 67,97 kilogram (kg)

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi, mengatakan paket tanpa dokumen ini berasal dari transaksi perdagangan dengan memanfaatkan media daring. Transaksi ini sendiri membuka peluang lalu lintas komoditas pertanian melalui jasa pengiriman misalnya kantor pos tanpa disertai dokumen yang dipersyaratkan atau ilegal.

“Pemasukan 59 paket sejumlah 67,96 kilogram ini berisi berbagai macam benih tanaman hias, tanaman perkebunan, sayuran dan buah, umbi ginseng, bawang putih, lada, jamur, dan kurma dari berbagai negara periode Juni sampai September 2019 melalui Kantor Pos Besar Kediri. Pemasukan tersebut tanpa disertai dokumen yang dipersyaratkan sehingga statusnya illegal,” ujar Musyaffak dalam keterangan yang diterima Bisnis.

Adapun dokumen yang harus dipenuhi dalam pemasukan barang dari luar di antaranya Surat Izin Pemasukan (SIP) dari Kementan untuk benih dan sertifikat kesehatan/phytosanitarry Certifikate (PC) dari negara asal. Karena itu, Musyaffak menegaskan walaupun hanya berjumlah puluhan kilogram dan nilai ekonominya tidak terlalu tinggi, berdasarkan risikonya benih merupakan media pembawa risiko tinggi untuk membawa dan menyebarkan penyakit tumbuhan.

“Pemasukan komoditas pertanian tersebut berasal dari 16 negara yaitu Perancis, Hongkong, Korea, Rumania, Malaysia, Saudi Arabia, Thailand, Taiwan, Amerika Serikat, Belanda, India, Inggris, Jepang, China, Singapura dan Laos,” sebutnya.

Musyaffak menceritakan tindakan penahanan yang dilanjutkan dengan pemusnahan ini bermula dari informasi hasil X Ray bea cukai yang disampaikan kepada petugas Kantor Pos Besar Kediri. Selanjutnya petugas kantor pos meneruskan kepada petugas karantina setempat dan melakukan pengamanan dengan menahan komoditas pertanian ilegal tersebut sambil menunggu kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan.

Musyaffak menyatakan pemasukan ilegal ini telah melanggar UU Nomor 16 Tahun 1992 pasal 6 yang menyatakan bahwa setiap media pembawa atau komoditas pertanian yang dilalulintaskan dalam wilayah Indonesia wajib melengkapi sertifikat kesehatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

benih badan karantina
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top