Pertumbuhan Kafe & Restoran di Surabaya Dongkrak Pendapatan Daerah

Target PAD Kota Surabaya Rp5,19 triliun, hingga Mei 2019 sudah teralisasi sekitar 40% an.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  15:29 WIB
Pertumbuhan Kafe & Restoran di Surabaya Dongkrak Pendapatan Daerah
Ilustrasi suasana kafe dan restoran di dalam area Tunjungan Surabaya pada saat momen Ramadhan dan Lebaran 2019. - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA – Perkembangan usaha sektor kafe dan restoran di Kota Surabaya yang diperkirakan tumbuh 20% tahun ini berpotensi menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditarget Rp5,19 triliun.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pajak Daerah (BPKPD) Kota Surabaya, Yusron Sumartono mengatakan dari target Rp5,19 triliun tersebut, hingga Mei 2019 sudah teralisasi sekitar 40% an.

“Selain berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), PAD kita ini bisa mengandalkan perkembangan kafe dan restoran yang masih sangat bagus di Surabaya,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (13/6/2019).

Dia mengungkapkan selama Januari – Mei ini, perolehan pajak cukup banyak didapat dari sektor kafe dan restoran baru di Surabaya. Sedangkan PBB dan BPHTB biasanya akan terealisasi pada akhir tahun setelah jatuh tempo.

Adapun Pemkot Surabaya tahun ini menargetkan PAD bisa mencapai Rp5,19 triliun atau mengalami peningkatan 10,13% dibandingkan realisasi 2018 yang hanya mencapai Rp4,7 triliun.

Dari realisasi PAD 2018 tersebut, sebesar Rp3,7 triliun di antaranya disumbang oleh pajak daerah yang terdiri dari pajak restoran, pajak hiburan, pajak air dan tanah, pajak parkir, pajak penerangan jalan, pajak reklame serta PBB dan BPHTB. Sedangkan sisanya merupakan dari hasil retribusi daerah dan pengelolaan kekayaan daerah.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran (Apkrindo) Jatim, Tjahjono Haryono mengatakan meski kondisi ekonomi semester I dinilai kurang bergairah, tapi minat wirausaha sektor kuliner di Surabaya masih tinggi.

“Tahun ini kami perkirakan usaha-usaha kuliener baru tumbuh 20%, dan dari total usaha kuliner yang ada di Surabaya, sebanyak 40% nya merupakan anak muda milenial dengan rentang usia 20 tahun – 30 tahun,” ujarnya.

Menurut Tjahjono, pengusaha muda ini bahkan bukan berasal dari keluarga kaya yang punya modal besar. Justru mereka merupakan anak muda biasa yang ingin merintis usaha kuliner dengan mengkreasikan berbagai menu untuk menarik konsumen.

Selain itu, lanjutnya, pengusaha muda ini juga membidik segmen yang cukup merata. Ada yang segmen menengah ke atas dan menengah ke bawah. Sebagai contoh, dalam semester I/2019, sudah ada kafe dan restoran yang baru mengembangkan usahanya di Surabaya, seperti Saladstop, GIOI, juga Kopi Becak yang baru buka di dalam mal Tunjungan Plaza dengan membidik segmen middle up.

Sedangkan di segmen menengah ke bawah, misalnya ada Ayam Geprek Kakk!, Bebek Semangat, Bebek Juara, hingga nasi goreng milenial. Mereka, kata Tjahjono, merupakan anak muda yang baru memulai usaha kulinernya di Surabaya.

“Seperti GIOI itu awalnya hanya ada di Jakarta, sekarang dia kembangkan di sini. Nanti di semester II ini pun masih akan tumbuh usaha-usaha kuliner baru karena pasar Surabaya dianggap sangat berpotensi, ” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surabaya

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top