Kementan Pacu Optimalisasi Lahan Rawa

Oleh: Pandu Gumilar 08 November 2018 | 18:40 WIB
Kementan Pacu Optimalisasi Lahan Rawa
Lahan rawa. /dephut.go.id

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian berencana meningkatkan fokus untuk mengoptimalkan lahan rawa sebagai lahan pertanaman baru untuk tanaman jenis hortikultura serta tanaman pangan padi, jagung dan kedelai.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan hal tersebut seusai rapat pimpinan nasional yang berlokasi di Kementerian Pertanian.  "Rapimnas fokus pada pengembangan rawa. Kami fokus menggarap lahan yang dulu tidur sekarang kita bangunkan," katanya pada Selasa (6/11).

Namun, Amran meyakinkan bahwa lahan yang akan digunakan tidak termasuk lahan rawa gambut. Kementerian Pertanian akan bekerjasama dengan petani untuk memanfaatkan area penggunaan lain yang bukan kawasan hutan.

"Tahun ini kami hanya menggarap 50.000 hektare. Tahun depan kami ingin sebanyak-banyaknya. Hal tersebut masih dalam tahap perancangan tapi sudah saya perintahkan untuk menggarap seluasnya," katanya.

Amran menjelaskan pertanaman di lahan rawa akan terintegrasi dengan budi daya lain semisal ikan air tawar. Dengan begitu dalam sekali tanam dapat menghasilkan banyak komoditas.

Selain itu, petani bebas memilih komoditas yang ingin dibudidayakan, baik tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai maupun tanaman hortikultura seperti sayur-mayur dan juga cabai. "Ada juga ikan yang diintegrasi. Jadi protein bisa didapatkan dari sayur dan ikan lalu ada padi."

Kementerian Pertanian, lanjutnya, sudah mengalokasikan alat berat seperti eskavator untuk menggarap lahan tidur tersebut.

Sebelumnya, Amran mengatakan lahan rawa bisa menjadi bagian penting masa depan pertanian Indonesia. Saat musim kemarau pada Juli-September, lahan rawa menjadi penyumbang produksi nasional.

Amran menyebutkan potensi lahan rawa di Indonesia sangat luas yakni mencapai 34,1 juta hektare. Lahan rawa ini tersebar di 18 provinsi dan 300 kabupaten. Dari total luas tersebut, potensi untuk pengembangan pertanian seluas 21,82 juta hektare atau 64%.

“Apabila digarap 10 juta hektare saja yang tersebar di Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi dan Kalimantan Barat, ditanam minimal dua kali setahun, dengan produktivitas 6 ton/ha, akan menghasilkan padi 120 juta ton setara 60 juta ton beras. Beras surplus bahkan bisa memasok kebutuhan dunia.”

Maka dari itu, Amran menjelaskan pemanfaatan lahan rawa harus dengan prinsip sustainable agriculture. Program dirancang skala luas dengan mengkorporasikan koperasi petani, regenerasi petani dengan mewirausahakan 4 juta jiwa.

“Kemudian harus dikerjakan dengan full mekanisasi dan pola mina padi sehingga dapat menghemat Rp15 juta/ha, dari biaya cetak sawah Rp19 juta menjadi Rp 4 juta per hektar. Pemerintah kabupaten mendukung biaya bahan bakar,” jelasnya.

Terbukti, lahan rawa di Kalimantan Selatan ditanam jagung dengan pola zig-zag dan pemupukan menghasilkan 20 ton/hektar, bawang merah 10 ton/hektar dan semangka 7 kg/buah dengan pola tumpangsari pepaya.

“Produktivitas dulu 2 ton per hektare umur 6 bulan, sekarang menjadi 6 ton per hektare. Bahkan bisa ditanam padi 3 kali setahun produktivitas 8,3 ton per hektare, hasilnya 250 juta ton.”

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya