Pertanian Sulut Butuh Hilirisasi

Oleh: Deandra Syarizka 08 November 2018 | 13:44 WIB
Pertanian Sulut Butuh Hilirisasi
Petani menggarap lahan pertanian/ANTARA-Mohammad Ayudha

Bisnis.com, MANADO--  Provinsi Sulawesi Utara dinilai perlu melakukan hilirisasi industri pertanian dan menciptakan produk turunan kelapa yang memiliki nilai tambah guna mendongkrak kinerja sektor pertanian yang tengah melambat.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulut Soekowardojo menjelaskan, pelambatan kinerja sektor pertanian yang terjadi selama dua kuartal terakhir  menjadi tantangan terbesar Provinsi Sulawesi Utara dalam mencapai target pertumbuhan perekonomian tahun ini yang ditetapkan di rentang 6.1% hingga 6.6%.

Bila hendak mencapai target  pada tahun ini,  maka pertumbuhan ekonomi Sulut pada kuartal IV harus mencapai di atas 6%. Namun,  pihaknya ragu dapat mencapai angka pertumbuhan tersebut mengingat data pertumbuhan ekonomi di dua kuartal terakhir menunjukkan tren pelambatan. 

"Bahwa kita tumbuh di atas nasional memang positif,  tetapi kalau mau lebih lagi kita harus tumbuh tidak hanya di atas nasional,  tetapi di atas 6%," ujarnya,  Kamis (08/11)

Adapun pada kuartal ketiga tahun ini,  pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada kuartal III terkoreksi menjadi 5,66%, atau menurun 0,17% dibandingkan kuartal II 2018 sebesar 5,83%.

Angka tersebut mengalami penurunan lebih dalam bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana pertumbuhan ekonomi Sulut menyentuh level 6,49%. 

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi Sulut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai  5,17%.

Soeko menjelaskan, kinerja sektor pertanian yang mendominasi struktur perekonomian Sulut menjadi tantangan terbesar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Rendahnya harga kopra yang anjlok hingga 40% di sepanjang tahun menjadi salah satu faktor. 

 Padahal,  kopra merupakan salah satu komoditas ekspor utama Sulut.  Penurunan harga kopra terjadi diduga akibat suplai yang berlebih dan dibarengi dengan penurunan harga komoditas minyak kelapa di dunia.  

"Karena harga kopra terlalu rendah sehingga nilai tambah di sektor pertanian hanya naik 1.7%. Imbasnya ke industri pengolahan juga," ujarnya.  

Soeko menilai,  salah satu solusi jangka panjang yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja sektor pertanian Sulut adalah dengan melakukan hilirisasi.  Selain itu,  juga dengan menghasilkan produk turunan kelapa yang lebih memiliki nilai tambah di pasar ketimbang hanya kopra, minyak kelapa,  dan arang.  

"Salah satu upaya mengurangi ketergantungan ekspor barang mentah adalah dengan hilirisasi.   Namun hilirisasi perlu kepastian barang baku," ujarnya.  

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)  Sulut, di samping sektor pertanian,  dua sektor lainnya yang menunjukkan kinerja melambat adalah sektor industri pengolahan serta jasa keuangan dan asuransi. 

Sektor industri pengolahan yang berkontribusi 8,8% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)  Sulut hanya  1,76%. Sementara,  sektor jasa keuangan dan asuransi yang berkontribusi 3,7% terhadap PDRB bahkan mencatatkan pertumbuhan yang minus 0,57%.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya