KAMPANYE POLITIK, Mesin Suara di Daerah Optimalisasi Peran Medsos

Oleh: Uli Febriarni 10 September 2018 | 09:43 WIB
KAMPANYE POLITIK, Mesin Suara di Daerah Optimalisasi Peran Medsos
Media sosial/Istimewa

Bisnis.com, KULONPROGO – Tim pemenangan partai politik (parpol) peserta Pemilu 2019 miliki tim pemenangan yang menyasar media sosial.

Ketua DPD PKB Kulonprogo, Sihabuddin mengungkapkan, tim pemenangan Pemilu PKB memiliki Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) yang diketuai oleh seorang bacaleg tingkat propinsi, bacaleg PKB sendiri banyak yang merupakan anak-anak muda dari Ansor dan Fatayat.

PKB akan bekerja keras untuk memenangkan Pemilu dan calon yang diusung. Menurut dia, untuk meraih suara pemilih pemula/milenial memerlukan strategi kusus untuk meraih kepercayaan mereka.

PKB meyakini, kalau pemilih yang tidak memiliki ideologi kuat untuk membangun Kulonprogo dan Indonesia, pada umumnya menentukan pilihan berdasarkan materi atau berpikir pragmatis. Kurang mengedepankan kualitas dan kuantitas serta visi misi yang jelas.

Pragmatisme menjadi tantangan yang besar. Namun yang harus dilakukan adalah memberikan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat. Sehingga dengan proses yang baik, harapanya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.

Disinggung soal kampanye hitam, PKB menitipkan perjuangan melawan kampanye hitam juga kepada para tokoh agama.

"Untuk menyampaikan kepada jamaah. Selain itu juga berharap besar pada Bawaslu [dalam pengawasan]," kata dia.

Sekretaris DPC PDI P Kulonprogo, Istana mengungkapkan, saat ini tahapan tim pemenangan masih dalam masa pembentukan, termasuk koalisi bersama partai koalisi. Ia meyakinkan, strategi pemenangan yang diambil mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh PDI P di tingkat pusat.

Strategi pemenangan pilpres yang diambil PDI P adalah pendekatan kepada rakyat, kerja nyata untuk rakyat. Namun sebagai partai yang menuju partai modern, PDI P juga sudah mengaplikasikan penggunaan teknologi di berbagai program kerja.

"Terbukti dari Pilkada kemarin, kami juga mengoptimalkan media dan teknologi informasi. Menggunakan dua hal itu ternyata efektif," kata dia.

Cara tersebut diambil karena kampanye yang menyasar generasi milenial tidak lepas dari penggunaan teknologi informasi. Istana membenarkan, sebagian besar anggota tim pemenangan yang menjalankan kampanye media sosial dan merupakan bagian dari BSPN PDIP, terdiri dari anak muda yang dekat dengan teknologi.

Senada dengan Sihabudin, ia juga menyebut musuh Pemilu 2019 masih berkutat pada pragmatisme jual beli suara. Selain itu menyebar isu yang tidak membangun, memecah belah persatuan, SARA, tak kalah penting kampanye hitam media sosial.

"Itu [kampanye hitam di media sosial] menjadi musuh masyarakat mestinya," ungkapnya.

Ketua Bawaslu Kulonprogo, Ria Harlina mengungkapkan, beberapa jenis pelanggaran yang potensial terjadi selama Pemilu yaitu perusakan alat peraga kampanye (APK), politik uang, kampanye menggunakan fasilitas pendidikan, pemerintahan, rumah ibadah, kampanye hitam di media sosial.

Kendati demikian, untuk semua potensi pelanggaran tersebut, tak bisa hanya menyerahkan pengawasan kepada Bawaslu saja. Melainkan juga warga.

"Kalau menemukan pelanggaran-pelanggaran tadi, harap laporkan kepada kami. Jangan takut melapor," ujarnya.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer