Anjlok 70% Akibat Bom, Peritel Jatim Siapkan Penetrasi Pasar

Oleh: Peni Widarti 16 Mei 2018 | 16:42 WIB
Ketua Aprindo Jatim, April Wahyu Widati mengungkapkan akibat peristiwa bom Surabaya selama 2 hari itu, pengusaha ritel dari seluruh kategori ritel telah kehilangan omset sampai Rp33,9 miliar/Bisnis - Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur tengah menyiapkan program penetrasi untuk menggairahkan pasar pasca tragedi bom Surabaya dan Sidoarjo yang mengakibatkan penjualan ritel anjlok hingga 70%.

Koordinator Wilayah Timur Aprindo Abraham Ibnu mengatakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan semangat belanja di toko modern, Aprindo berencana menyiapkan program-program menarik konsumen misalnya seperti promo harga spesial, diskon, buy 1 get 2 or 3 dan lainnya.

"Selain itu kami juga akan bersurat kepada Walikota Surabaya untuk memulihkan psikologi warga Surabaya supaya tidak takut lagi, dan ekonomi bergerak terus," katanya dalam konferensi pers, Rabu (16/5/2018).

Menurutnya, Surabaya merupakan kota metropolitan, di mana sektor perdagangan sedang tumbuh, dan sebagai kota kedua terbesar setelah Jakarta serta sebagai pusat industri di Indonesia Timur.

"Surabaya juga jadi gerbang kota/kabupaten lain. Kami berharap pemkot mulai mikir recovery untuk kegiatan belanja, termasuk kami akan pasang spanduk banner untuk semangat belanja tidak takut teror," jelasnya.

Ketua Aprindo Jatim, April Wahyu Widati mengungkapkan akibat peristiwa bom Surabaya selama 2 hari itu, pengusaha ritel dari seluruh kategori ritel telah kehilangan omset sampai Rp33,9 miliar. Adapun di Surabaya dan Sidoarjo tercatat ada 1.052 outlet kategori minimart, 20 outlet hypermart, dan 12 outlet departemen store.

"Memang dampak dari kejadian kemarin sangat luar biasa. Padahal target pertumbuhan penjualan ritel Jatim tahun ini adalah 13%-15%," katanya.

Ada 2 jenis ritel, yang pertama ritel terintegrasi dengan mal yang mengalami penurunan sampai 70% an, di antaranya seperti supermarket Hero, Hypermarket dan departemen store. Kedua, ritel standing alone yang mengalami penurunan sekitar 50% seperti minimarket dan supermarket Hero, dan Ranch Market.

Regional Manager Jatim Matahari Departmen Store, Hendri Lismono mengungkapkan pada saat 2 hari peristiwa bom, trafik kunjungan mall yang di dalamnya terdapat Matahari Depstore hanya sekitar 500 orang saat jam makan siang. Padahal hari biasanya trafiknya bisa mencapai 2.000 an kunjungan.

"Matahari turunnya sampai 78%. Memang bagi masyarakat untuk beli makanan saja takut, apalagi beli pakaian. Sehingga dampak kejadian itu sangat besar," katanya.

Store Manager Hypermart Food Junction Pakuwon, Kristianus mengatakan bukan hanya peristiwa bom, tapi adanya berita-berita hoax di sosial media yang menyebutkan mal-mal sebagai target teroris membuat kunjungan mal menjadi anjlok.

Branch Manager Indomart Cabang Gresik, Veronica Gratiawati menambahkan khusus Indomart sendiri mengalami penurunan penjualan 20%-30% terutama gerai yang berada di sekitar lokasi 3 gereja korban bom.

"Sale turun luar biasa, padahal harusnya minggu ini adalah saatnya panen penjualan pada H-7 bulan puasa," katanya.

Corporate Communication Alfamart, Ame Dwi Pramesti menambahkan gerai-gerai Alfamart yang berada di sekitar titik ledakan bom Surabaya pun mengalami penurunan penjualan 40%-45%.

"Untuk menggairahkan pasar kami siapkan promo JSM (Jumat, Sabtu, Minggu), subsidi Rp30.000 juga bazar murah," imbuhnya.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya