BGN Jatim Klaim SPPG Tembok Dukuh jadi Pemasok MBG Pertama yang Bermasalah di Surabaya

Ratusan siswa di Surabaya diduga keracunan usai konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Tembok Dukuh. BGN Jatim hentikan sementara operasional dapur.
Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur Teguh Wahyu Bowo saat memberikan keterangan atas kejadian keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Tembok Dukuh, Surabaya diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis/Bisnis-Julianus Palermo
Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur Teguh Wahyu Bowo saat memberikan keterangan atas kejadian keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Tembok Dukuh, Surabaya diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis/Bisnis-Julianus Palermo

Bisnis.com, SURABAYA – Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur menjelaskan fenomena ratusan siswa di Surabaya yang terdampak usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diolah dan didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan, merupakan kasus pertama yang berkaitan dengan dugaan kasus keracunan massal di Kota Pahlawan. 

Informasi tersebut disampaikan oleh Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo usai peristiwa gejala keracunan yang terjadi pada kurang lebih 200 siswa dari 13 satuan pendidikan di wilayah setempat yang menjadi penerima manfaat program prioritas presiden itu.

"Dari informasi yang sudah terdapat info, kami langsung ke sini menindaklanjuti dan evaluasi. Kami arahkan jeda distribusi yang berkelanjutan sesuai dengan [arahan] dari Bu Kepala SPPG [Tembok Dukuh Bubutan] sudah dijelaskan," ungkap Wahyu saat ditemui awak media di Kantor SPPG Tembok Dukuh Bubutan Surabaya, Senin (11/5/2026).

Wahyu juga mengeklaim peristiwa yang menyebabkan ratusan peserta didik mengalami gejala-gejala, seperti pusing, mual, dan muntah diduga terjadi usai mengonsumsi MBG yang diproduksi SPPG di Kota Surabaya baru terjadi kali ini.

"[Peristiwa dugaan keracunan usai mengonsumsi MBG di Kota Surabaya] baru satu SPPG ini saja," tegasnya.

Usai peristiwa naas tersebut, Wahyu menyebut bahwa pihaknya segera melakukan evaluasi terhadap SPPG terkait sembari menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel MBG yang dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) dan dinas kesehatan untuk menelusuri penyebab pasti dari gejala keracunan massal itu.

Lebih lanjut, BGN Jawa Timur dan pihak pengelola SPPG terkait telah mencapai kata sepakat untuk menghentikan sementara aktivitas operasional dapur yang biasanya memasok hingga 3.020 porsi MBG di wilayah setempat. 

"Kami masih menunggu [uji] lab. Kami akan evaluasi dahulu, kami tindak lanjuti, setelah itu kami masih tutup dahulu dapur ini sementara waktu," pungkasnya. 

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah melakukan investigasi mendalam terkait insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di kawasan Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya, diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim Emil Elestianto Dardak menyatakan bahwa Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim Erwin Astha Triyono telah terjun ke lokasi untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut serta meninjau penanganan medis kepada para siswa yang terdampak.

"Iya bentar. Prof. Erwin lagi ngecek, Kadinkes lagi ngecek, bagaimana pertama penanganan dan situasinya. Jadi mohon waktu nanti kami akan hari ini juga kami akan berikan informasi yang terbaru tentang hal-hal ini," ujar Emil saat ditemui di Gedung DPRD Jawa Timur, Senin (11/5/2026).

Mengenai mekanisme pertanggungjawaban oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait, ia menegaskan bahwa penjatuhan sanksi tetap diberlakukan bagi mitra yang dinilai lalai dalam menjaga standar higienitas dan keamanan pangan.

Menurutnya, kewenangan pemberian sanksi dilakukan secara kolektif dengan koordinasi utama di bawah kendali Badan Gizi Nasional (BGN). Saat ini, BGN disebut telah menerapkan sanksi bagi SPPG yang terlibat dalam sejumlah insiden serupa sebelumnya.

"Begini, kewenangan pemberian sanksi tentu dilakukan secara kolektif, tapi terutamanya melalui BGN, dan BGN telah menerapkan sanksi ya untuk SPPG yang mengalami insiden-insiden. Kemudian efektivitas dari penerapan sanksi BGN juga kami pahami terus melakukan evaluasi. Artinya apakah kemudian setelah dikasih sanksi ada perbaikan atau tidak," tuturnya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro