Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemicu Banjir di Kota Batu Perlu Diwaspadai Daerah Lain

Gangguan ekosistem akibat alih fungsi lahan oleh manusia menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir bandang di Batu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 November 2021  |  06:59 WIB
Foto udara Tim SAR gabungan bersama relawan dan warga membersihkan endapan lumpur saat pencarian korban akibat banjir bandang di Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (5/11/2021). Berdasarkan laporan sementara dari BPBD Kota Batu hingga hari kedua pencarian korban banjir bandang, tim SAR berhasil menemukan enam jenazah korban dan tiga korban masih dalam proses pencarian. - Antara/Zabur Karuru.
Foto udara Tim SAR gabungan bersama relawan dan warga membersihkan endapan lumpur saat pencarian korban akibat banjir bandang di Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (5/11/2021). Berdasarkan laporan sementara dari BPBD Kota Batu hingga hari kedua pencarian korban banjir bandang, tim SAR berhasil menemukan enam jenazah korban dan tiga korban masih dalam proses pencarian. - Antara/Zabur Karuru.

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Pakar Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Suratman mengatakan banjir bandang yang melanda Kota Batu, Jawa Timur, pada Kamis (4/11) menunjukkan ada gangguan ekosistem di wilayah tersebut.

"Banjir ini sebagai peringatan ekosistem yang terganggu oleh manusia," kata Suratman melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Jumat (5/11/2021).

Suratman menuturkan gangguan ekosistem akibat alih fungsi lahan oleh manusia menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir bandang di Batu.

Banjir, kata dia, terjadi karena ada desakan penggunaan lahan untuk pertanian maupun permukiman.

Pengaruh tekanan penduduk dalam penggunaan lahan, menurut dia, tidak lagi sesuai dengan daya dukung lingkungan dan kemampuan lahan.

"Perlu dilihat kalau sebagai daerah resapan air, kawasan lindung semestinya banyak pohon-pohonnya. Jadi harus mengendalikan keterbukaan lahan dan ada konservasi," kata Guru Besar Fakultas Geografi UGM ini.

Sementara itu dari sisi sistem tanah, dikatakan Suratman, kawasan Kota Batu memiliki lansekap yang juga rentan terjadi banjir.

Banyak wilayahnya berupa lereng-lereng dan perbukitan. Selain itu banyak kawasan dengan kemiringan di atas 40 derajat dengan ketebalan tanah yang cukup tebal.

Beberapa kondisi tersebut, ujar dia, menjadi pemicu banjir.

Lebih lanjut, Suratman mengungkapkan Kondisi Kota Malang dengan suhu yang dingin dan lembab menjadikan pelapukan massa batuan tanah aktif sehingga saat hujan deras mengakibatkan banjir yang membawa material-material seperti lumpur dan sampah.

"Dari material vulkanik suburnya luar biasa. Secara ekonomi ini menggiurkan, tetapi secara risiko bencana mengkhawatirkan," kata dia.

Suratman menambahkan dengan isu perubahan iklim, Indonesia patut waspada.

Menurut dia, persoalan hujan ekstrem dan pengaruh daerah pegunungan dengan elevasi tinggi serta memiliki curah hujan lebih dari 3.000 milimeter per tahun patut menjadi perhatian bersama.

Indonesia dengan banyak gunung vulkanik dan tingginya proses alih fungsi lahan, katanya, perlu menjadi hal yang harus diwaspadai.

"Ini jadi peringatan terutama di Pulau Jawa, harus waspada karena banyak wilayahnya yang memiliki kondisi serupa dengan Batu sehingga rentan banjir," kata Suratman.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim kota batu

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top