Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cukai Jangan Naik, Keluhan Pekerja SKT Jatim Bakal Sampai ke Presiden

Rata-rata pekerja SKT adalah tulang punggung keluarga yang suaminya terimbas pandemi, terkena PHK. Fakta-fakta inilah yang nanti akan dilaporkan kepada Presiden
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 06 Oktober 2021  |  15:20 WIB
Cukai Jangan Naik, Keluhan Pekerja SKT Jatim Bakal Sampai ke Presiden
Watimpres Soekarwo saat berbicara dengan salah seorang pekerja SKT MPS Kapas Bojonegoro, Rabu (6/10 - 2021)

Bisnis.com, BOJONEGORO - Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) RI memastikan bakal menyampaikan keluhan para pekerja Sigaret Kretek Tangan (SKT) rokok Jawa Timur kepada Presiden Joko Widodo agar cukai hasil tembakau tahun depan tidak naik. 

Anggota Watimpres Soekarwo atau yang akrab disapa Pakde Karwo mengatakan dalam kunjungan kerjanya ke Bojonegoro sekaligus menghadiri HUT Koperasi Kareb MPS Kapas Bojonegoro tim Watimpres telah mendengarkan cerita dan harapan para pekerja SKT yang mayoritas adalah perempuan.

"Tadi mereka (pekerja SKT) saya tanya satu-satu, rata-rata mereka adalah tulang punggung keluarga yang suaminya terimbas pandemi, kena PHK, ada yang buruh kasar. Fakta-fakta inilah yang nanti akan kita laporkan kepada Pak Presiden bahwa masalah padat karya ini sangat penting,” jelasnya seusai mengunjungi Mitra Produksi Sigaret (MPS) Kapas Bojonegoro, Rabu (6/10/2021). 

Dia mengatakan pendapatan para pekerja SKT ini bahkan sudah jauh di atas UMK yang ditetapkan provinsi sehingga pendekatannya adalah kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, pihaknya akan menyampaikan hal tersebut untuk menjadi pertimbangan presiden dalam memberikan kebijakan soal cukai.

Menurutnya, industri SKT sudah memiliki ongkos produksi yang tinggi, selain upah pekerja juga ada cukai yang mempengaruhi biaya produksinya. Berbeda dengan produk sigaret kretek mesin yang lebih efisien.

“Dengan tingginya biaya produksi SKT ini, maka perlu subtitusi untuk mengurangi beban yaitu tax (cukai) nya jangan tinggi-tinggi. Kalaupun pemerintah saat ini perlu tambahan fiskal, kalau bisa enggak lah (ambil dari padat karya),” ujarnya.

Mantan Gubernur Jatim itu menambahkan bahwa Watimpres juga akan menyampaikan kepada presiden jika pada 2021 saat tidak ada kenaikan cukai, MPS Kapas Bojonegoro akhirnya mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

MPS Kapas Bojonegoro melaporkan jumlah pekerja SKT pada 2019 mencapai 1.800 orang, tetapi pada 2020 akhirnya menyusut menjadi 800 orang akibat adanya kenaikan cukai. Namun pada 2021, saat tidak ada kenaikan cukai, MPS kini telah menambah jumlah pekerja sebanyak 1.100 orang sehingga kini menjadi 1.900 orang.

“Masalah pekerja padat karya ini yang akan diperjuangkan, kalau cukai naik, yang bertambah 1.100 orang pekerja itu bisa hilang lagi, dan ada pengangguran baru, impact dari pengangguran bisa kriminalitas dan kesulitan menyekolahkan anak. Menurut perhitungan para ahli, posisi padat karya kalau bisa dipertahankan karena memberikan konsep mengelola keadilan yang Makmur,” imbuhnya.

Direktur Utama Koperasi Kareb - MPS Kapas Bojonegoro, Sriyadi Purnomo mengungkapkan tidak ada kenaikan cukai pada tahun ini telah menunjukkan kondisi yang luar biasa sebab industri SKT bisa menyerap tenaga kerja.

“Ini luar biasa, dengan tidak naiknya cukai 2021 kita bisa bernapas lega, artinya dari tahun ke tahun kita mengalami penyusutan pekerja, tetapi tahun ini di MBS Kapas pekerjanya bisa 1.000 - 2.000 an, dan harapannya bisa menyerap sampai 7.000 an pekerja,” ujarnya.

Sriyadi yang juga Ketua Paguyuban MPS Indonesia (MPSI) itu menambahkan industri SKT berharap pemerintah tidak menaikkan kembali cukai 2022 agar kinerja industri ini bisa meningkat. Tahun ini, MPS Kapas sendiri telah memproses sebanyak 25.000 ton tembakau untuk disuplai ke pabrikan rokok, eksportir, konsumen dan pedagang.

“Kita sudah bisa membantu eksportir untuk ekspor tembakau sebanyak 30 persen dari total 25.000 ton per tahun tersebut. Harapan kami petani tembakau kita hasilnya diambil oleh perusahaan besar sehingga proses kami tetap bisa ngebul,” imbuhnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top