Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor Jatim Turun, Dua Hal Ini Disinyalir Jadi Pemicu

Komoditas ekspor yang mengalami penurunan permintaan pasar adalah kopi, teh, rempah-rempah, perabot, dan penerangan rumah, daging ikan olahan, lemak dan minyak hewan/nabati serta ikan dan udang.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 15 Juni 2021  |  15:50 WIB
Ilustrasi. - Antara/Zabur Karuru
Ilustrasi. - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, SURABAYA - Kinerja ekspor nonmigas Jawa Timur pada Mei 2021 tercatat turun 11,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya karena sejumlah faktor penghambat. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Dadang Hardiwan mengatakan faktor yang cukup mempengaruhi penurunan kinerja ekspor nonmigas pada Mei 2021 adalah banyaknya hari libur atau hari raya keagamaan seperti Idulfitri, Kenaikan Isa Almasih, dan Hari Raya Waisak. 

"Termasuk masih tingginya tarif ocean freight yang terjadi sejak akhir tahun lalu sehingga eksportir kesulitan dalam melakukan ekspor," katanya dalam paparan berita statistik, Selasa (15/6/2021). 

Dia memaparkan realisasi ekspor nonmigas Jatim pada Mei 2021 mencapai US$1,56 miliar atau turun 11,43 persen  dibandingkan April 2021 yakni US$1,76 miliar. 

Namun begitu, jika kinerja ekspor nonmigas Mei 2021 ini dibandingkan dengan Mei 2020 mengalami tren peningkatan 42,29 persen atau pada Mei 2020 terealisasi hanya US$1,07 miliar. 

"Peningkatan secara year on year ini dipengaruhi oleh faktor kondisi pandemi Covid-19, di mana Mei tahun lalu merupakan puncak pandemi sehingga aktivitas ekonomi terganggu khususnya ekspor dan impor. Kemudian di tahun ini aktivitas ekonomi mulai bergeliat kembali sehingga ada peningkatan kinerja," jelasnya. 

Dadang mengatakan ekspor nonmigas ini berkontribusi sebanyak 90,80 persen dari total ekspor Jatim. Menurut sektor non migas, ekspor seluruh sektor usaha mengalami penurunan pada Mei ini. 

Untuk ekspor sektor pertanian pada Mei 2021 tercatat mencapai US$100,9 juta atau turun 31,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya, begitu juga dengan sektor industri pengolahan US$1,45 miliar atau turun 9,65 persen, dan sektor pertambangan US$2,82 juta atau turun 11,56 persen. 

“Namun jika dibandingkan periode sama tahun lalu, ekspor seluruh sektor usaha di Jatim meningkat baik migas, pertanian tumbuh 0,2 persen, dan industri pengolahan naik 46,69 persen, kecuali pertambangan yang turun 10,79 persen,” imbuh Dadang.

Dadang menyebutkan, komoditas ekspor yang mengalami pertumbuhan tinggi pada Mei adalah golongan tembaga, disusul besi dan baja, perhiasan/permata, kapal laut, dan pakaian jadi bukan rajut.

“Sementara komoditas ekspor yang mengalami penurunan permintaan pasar adalah kopi, teh, rempah-rempah, perabot, dan penerangan rumah, daging ikan olahan, lemak dan minyak hewan/nabati serta ikan dan udang,” ujarnya.

Adapun 10 negara yang menjadi tujuan utama ekspor Jatim sepanjang Januari - Mei 2021 adalah Amerika Serikat dengan kontribusi 15,82 persen, disusul Jepang 15,71 persen, China 12,91 persen, Malaysia 7,64 persen, India 4,36 persen, Vietnam 3,61 persen, Korea Selatan 3,21 persen, Thailand 3,17 persen, Belanda 2,90 persen dan Australia 2,43 persen.

“Sedangkan negara yang mengalami permintaan tinggi dari produk Jatim adalah Swiss, Singapura, Kenya, Vietnam dan Qatar, tetapi ada juga yang mengalami penurunan ekspor yakni India, Malaysia, China, AS dan Jepang,” imbuh Dadang.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor jatim
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top