Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penggalakan Budi Daya Kedelai Perlu Kembali Dilakukan

Kedelai merupakan tanaman subtropis yang tidak mudah ditanam dan membutuhkan biaya produksi yang tinggi.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  17:29 WIB
Tanaman kedelai. - Bisnis.com
Tanaman kedelai. - Bisnis.com

Bisnis.com, SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendorong petani maupun pemerintah untuk menggencarkan kembali budi daya tanaman kedelai agar Indonesia tidak bergantung terus terhadap impor.

Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kadin Jatim, Edi Purwanto mengatakan memang kedelai merupakan tanaman subtropis yang tidak mudah ditanam dan membutuhkan biaya produksi yang tinggi.

“Namun saat ini sebenarnya sudah ada produsen benih kedelai dengan kualitas unggul dan produktivitas tinggi 3 ton - 3,2 ton/hektare, salah satunya seperti PT Taro Tama Nusantara yang ada di Jember dan sudah melakukan demplot di Malang dan Bondowoso,” katanya, Selasa (5/1/2021).

Dia mengatakan kedelai yang ditanam di Amerika memiliki produktivitas 5 ton per hektare, sedangkan di Indonesia hanya mampu 1,3 ton - 1,5 ton per ha sehingga dianggap tidak menguntungkan bagi petani.

“Selain itu kualitas tanaman kedelai di sini juga masih rendah sehingga kurang diminati oleh perajin tahu dan tempe lantaran biji kedelai yang kecil dan kulit ari yang keras. Tentunya ini menjadi kendala dalam swasembada tanaman kedelai,” ujarnya.

Alhasil, katanya, produksi kedelai lokal pun hanya mencapai 320.000 ton tahun lalu, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 2,5 juta ton/tahun sehingga terpaksa harus impor dalam jumlah besar. Di wilayah Jatim sendiri produksi kedelai lokal 2020 hanya 57.235 ton, sedangkan kebutuhannya 447.912 ton/tahun.

“Dengan kondisi pandemi seperti sekarang, malah ada fluktuasi harga akibat tertutupnya jalur distribusi dan turunnya produksi di Amerika. Normalnya harga kedelai impor Rp6.800 - Rp7.500/kg sekarang menjadi Rp9.583/kg.

Edi menambahkan bukan hanya mendorong petani untuk menanam kembali kedelai, tetapi juga dibutuhkan kampanye penggunaan kedelai lokal kepada para pedagang dan perajin tahu dan tempe.

“Selama ini persepsii yang berkembang adalah kedelai lokal tidak enak dan tidak ekonomis jika dibuat tahu dan tempe. Jadi pengembangan sentra-sentra kedelai lokal yang berkualitas juga harus dilakukan,” imbuhnya.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto berjanji akan menjembatani para petani dan pengusaha kedelai olahan dengan pemerintah agar budidaya kedelai lokal dengan kualitas unggul ini bisa digerakkan. “Dengan harapan swasembada komoditas kedelai nasional ini bisa tercapai,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai pertanian jatim
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top