Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Restrukturisasi Kredit Perbankan di Malang Tembus Rp7,18 Triliun

Restrukturisasi mensyaratkan debitur terdampak dan kreditnya lancar sebelum pemerintah mengumumkan Covid-19.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  06:32 WIB
Multifinance. - Istimewa
Multifinance. - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Restrukturisasi kredit perbankan yang disetujui di wilayah Malang dan sekitarnya menembus Rp7,18 triliun per -28 Mei 2020.

Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri mengatakan nilai kredit yang direstrukturisasi itu dari 60 persen pemohon (debitur) yang disetujui atau sejumlah 66.786 debitur. Segmen leasing ada sekitar 50 persen yang disetujui atau sejumlah 42.484 debitur dengan nilai kredit yang terstrukturisasi sejumlah Rp1,09 triliun.

"Pada masa pandemi Covid 19, stimulus dalam rangka antisipasi dampak ekonomi a.l diwujudkan melalui restrukturisasi kredit. Untuk kota Malang efektif. Melalui program ini, kita mampu membantu pengusaha Malang untuk tetap bertahan dan menghindari terjadinya lay off (PHK) karyawan," ungkap Sugiarto Kasmuri pada Vidcon (video conference) terbatas antara Wali Kota Malang Sutiaji dengan Pimpinan OJK Malang Sugiarto Kasmuri serta Sektor Jasa Keuangan di Malang, Selasa (2/6/2020).

Stimulus dalam bentuk restrukturisasi, tetap memerhatikan dan mensyaratkan pada debitur terdampak dan kreditnya lancar sebelum pemerintah mengumumkan Covid-19. Ini untuk menghindari moral hazard, yakni adanya pihak-pihak yang menjadi free rider atas kebijakan stimulus tersebut.

Adapun kinerja kredit pada lembaga jasa keuangan di Malang hingga April 2020 mencapai Rp17,28 triliun. Sekitar 50 persennya dikucurkan pada kelompok UMKM dengan tingkat rasio kredit bermasalah yang terkendali di kisaran dibawah 3 persen secara gross.

Secara umum risiko kredit di sektor jasa keuangan Kota Malang, kata dia, masih menunjukkan tingkat risiko yang terkendali. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 3,88 persen, sektor konstruksi sebesar 4,06% dan untuk sektor industri pengolahan sebesar 1,69 persen.

"Tekanan terhadap ekonomi di Kota Malang sudah mulai terasa sejak Maret 2020, yang itu juga awal kasus Covid-19 masuk Kota Malang," ujar Sugiarto.

Dari tiga sektor, kata dia, sektor perdagangan besar dan eceran yang paling terdampak. Hal itu diketahui dari angka pertumbuhan kredit hingga April 2020. Pada sektor perdagangan besar dan eceran, pertumbuhan kredit hanya mencapai 1,89 persen, lebih rendah bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang angka pertumbuhan kreditnya mencapai 5 persen lebih.

Untuk dua sektor yang meliputi sektor konstruksi dan sektor industri pengolahan, pertumbuhannya di masa Covid, kata dia, masih relatif stabil, yakni masing masing tumbuh 14,37 persen dan 29,19 persen.

Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan paket kebijakan stimulus ekonomi akan berjalan dengan baik, apabila semua pihak mampu menjalankan protokol Covid dengan penuh disiplin pada masa transisi maupun new normal.

“Ini penting, karena pergerakan ekonomi sangat linier dengan mobilitas orang. Sehingga kemampuan pengendalian covid dalam aktifitas sosial, akan mempercepat pemulihan ekonomi yang ada. Masa transisi akan jadi ujian apakah masyarakat kota Malang siap untuk kembali menggerakkan perekonomian seiring dengan disiplin menjalankan protokol Covid-19," ucapnya.(K24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit malang
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top