Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Surabaya Jadi Zona Merah Tua Nyaris Hitam Covid-19, Begini Strategi Risma

2.147 orang terkonfirmasi positif dalam perawatan, 223 sembuh dari Surabaya dan 17 orang sembuh luar Surabaya.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  13:08 WIB
Peta sebaran Covid/19 yang dirilis Pemprov Jatim.
Peta sebaran Covid/19 yang dirilis Pemprov Jatim.

Bisnis.com, SURABAYA - Kota Surabaya jadi zona merah tua mendekati hitam penyebaran Covid-19 dengan kumulatif orang terinfeksi virus corona mencapai 2.633 kasus.

Peta sebaran Covid-19 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur dibagi dalam gradasi warna berdasar jumlah kasus. Bilamana kasus terkonfirmasi lebih dari 2.049 kasus maka tampilan di peta menjadi merah tua mendekati hitam. Sedangkan bila ada 1-2 kasus maka di peta berwarna pink muda.

Adapun berdasar data yang dirilis Humas Pemkot Surabaya, kasus kumulatif di Kota Pahlawan 2.633 orang, kumulatif terkonfirmasi Surabaya 2.535 orang, kumulatif terkonfirmasi luar Surabaya 98 orang, kumulatif meninggal Surabaya 240 orang, dan kumulatif terkonfirmasi luar Surabaya 6 orang.

Dari jumlah kasus tersebut, 2.147 orang terkonfirmasi positif dalam perawatan, 223 sembuh dari Surabaya dan 17 orang sembuh luar Surabaya.

Kumulatif PDP 3.057 orang, PDP meninggal 3 orang. Sedangkan PDP dalam pengawasan 1.929 orang dan PDP sembuh 1.125 orang. Kumulatif ODP 3.711 orang, ODP selesai dipantau 3.205 orang, dan 506 ODP sedang dipantau.

Soal kasus Covid-19, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melakukan berbagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Ibu Kota Provinsi Jatim, salah satunya dengan menekankan tracing (pelacakan) dan pemetaan suatu wilayah secara masif.

Tri Rismaharini, di Surabaya, Rabu, mengatakan ketika pihaknya pertama kali menerima data seseorang dinyatakan positif Covid-19, maka yang dilakukan saat itu adalah melakukan tracing.

"Jadi kami punya beberapa klaster yang ada di Surabaya. Kita tracing, siapa dia, ketemu di mana, kemudian siapa saja di situ," kata Risma.

Dari hasil tracing itu, lanjut dia, kemudian ditemukan orang dengan resiko (ODR). Dari dasar data tersebut, Pemkot Surabaya mendetailkan siapa saja atau keluarga yang ada di situ.

Ia mencontohkan dalam satu perusahaan setelah dilakukan test ditemukan 1 orang positif, maka satu orang itu langsung dilakukan tracing untuk seluruh keluarganya. "Dan orang itu kita masukkan sebagai ODR," katanya.

Setelah itu, kata dia, dokter mendatangi rumahnya dan melakukan pemeriksaan. Jika kondisinya berat, maka dimasukkan ke rumah sakit. Namun, jika kondisinya tidak berat orang tersebut dibawa ke Hotel Asrama Haji untuk isolasi.

Namun demikian, ia mengaku ada beberapa yang tidak mau karena mereka menyatakan tidak positif dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Nah ketika melakukan isolasi mandiri di rumah itu, kami memberikan makan supaya mereka tidak keluar (rumah). Setiap hari kelurahan mengirim makan 3 kali sehari. Siangnya kita berikan telur dan jamu. Itu mereka isolasi mandiri. Kadang-kadang ada vitamin," ujarnya.

Selain itu, Risma menyatakan saat ini pihaknya terus gencar melakukan rapid test (tes cepat) massal dan swab di beberapa lokasi yang dinilai ada pandemi.

Untuk itu, ia mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) karena telah membantu kebutuhan alat pelindung diri (APD) hingga alat kesehatan kepada Pemkot Surabaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim surabaya jawa timur

Sumber : Twitter dan Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top