Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IJB-Net Siapkan Strategi Genjot Perdagangan ke Jepang

Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) tahun ini menyiapkan sejumlah strategi baru untuk menggenjot neraca perdagangan terutama ekspor ke Jepang.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  16:15 WIB
Ilustrasi. Acara Peringatan Hubungan Indonesia-Jepang.  - 60jpid.com
Ilustrasi. Acara Peringatan Hubungan Indonesia-Jepang. - 60jpid.com

Bisnis.com, SURABAYA – Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) tahun ini menyiapkan sejumlah strategi baru untuk menggenjot neraca perdagangan terutama ekspor ke Jepang yang dalam beberapa tahun terakhir angka surplusnya mengalami penurunan.

Ketua Umum IJB-Net, Suyoto Rais mengatakan sebenarnya masih banyak potensi komotitas asal Indonesia yang bisa dikembangkan agar bisa masuk ke pasar Jepang, salah satunya adalah produk hasil perikanan dan makanan minuman (mamin).

“Untuk komoditas ini (perikanan dan mamin), kita masih belum bisa menggeser Thailand, Korea, Austalia dan China. Padahal ini sebenarnya perlu dikembangkan karena Jepang sendiri sebanyak 60 persen sangat bergantung pada luar negeri untuk menyuplai kebutuhannya,” ujarnya, Selasa (28/1/2020).

Sementara, lanjutnya, komoditas asal Indonesia yang paling banyak masuk ke Jepang masih berupa LNG, minyak mentah, batu bara, mineral non-logam, produk kayu dan tekstil. Indonesia pun masih bertahap di posisi ke-10 sebagai negara pemasok utama di Jepang.

Berdasarkan data IJB-Net, nilai perdangan Indonesia – Jepang pada 2018 tercatat mencapai US$37,4 miliar dan Indonesia mengalami surplus US$1,5 miliar.

Namun surplus tersebut terus mengalami penurunan sejak 2014 yang surplusnya mencapai US$6,1 miliar, pada 2015 turun menjadi US$4,8 miliar, pada 2016 turun lagi menjadi US$3,1 miliar, dan pada 2017 menjadi US$2,6 miliar.

“Lalu pada 2018 surplus kita hanya US$1,5 miliar, dan untuk 2019 memang belum dirilis tetapi perkiraan kami angka perdagangannya sekitar US$32 miliar dengan nilai surplus hanya US$100 juta. Memang masih surplus, tetapi angkanya cenderung menurun,” jelas Suyoto.

Adapun sejumlah strategi yang disiapkan IJB-Net yakni membawa perusahaan binaan IJB-Net untuk mengekspor produk daging ayam, makanan halal, sidat olahan, bunga krisan, tuna, pupuk organik dan lainnya.

Selain itu, IJB-Net akan mulai mengirim SDM kompeten dengan visa SSW (special skill worker) atau tokutei gino, serta akan membantu JICA sebagai konsultan dalam mengembangkan Making Indonesia 4.0 yang dimotori Kemenperin RI.

“Mitra IJB-Net dari Jepang juga mulai berkunjung ke Indonesia untuk mencari kandidat-kandiat potensial. Mudah-mudahan dengan makin banyaknya WNI yang tinggal di Jepang, diharapkan mereka bisa jadi ujung tombak yang secara tak langsung bisa menggejot ekspor kita, dan menghasilkan devisa,” imbuhnya.

Suyoto menambahkan, di dalam negeri sendiri, Indonesia perlu menambah pelaku usaha ekspor. Untuk itu IJB-Net akan membuat pelatihan bagi para entrepreneur ekspor agar memahami seluk-beluk pasar di Jepang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang jawa timur
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top