Produksi Padi Jatim Diproyeksi 10,5 Juta Ton

Produksi padi di Jatim diproyeksikan menyentuh 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara beras 6,996 juta ton.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 29 November 2019  |  20:47 WIB
Produksi Padi Jatim Diproyeksi 10,5 Juta Ton
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim Hadi Sulistyo pada sosialisasi Kostratani kepada kepala dinas, camat, kepala BPP dari 11 kabupaten dan 42 kecamatan, di Malang, Jumat (29/11/2019). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG — Produksi padi di Jatim diproyeksikan menyentuh 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara beras 6,996 juta ton.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim Hadi Sulistyo mengatakan untuk jagung sebesar 6,674 juta ton dan kedelai sebesar 249.331 ton.

“Dari angka tersebut, artinya ada penambahan luas tanam dan luas panen yang diprediksi akan memberikan tambahan produksi,” katanya pada sosialisasi Kostratani kepada kepala dinas, camat, kepala BPP dari 11 kabupaten dan 42 kecamatan di Malang, Jumat (29/11/2019).

Menurut dia, sejauh ini upaya peningkatan produksi sudah banyak ditempuh, seperti pembangunan dan perbaikan sarana irigasi, subsidi benih, pupuk, pestisida, dan bantuan modal, serta pendampingan, penyuluhan, dan pelatihan.

Hasil KSA BPS, produksi komoditas padi Provinsi Jatim pada 2018 sebesar 10,537 juta ton GKG yang setara dengan beras sebesar 6,849 juta ton. Sedangkan komoditas jagung sebesar 6,543 juta ton, dan kedelai sebesar 244.42 ton.

Dia menegaskan pula, penyuluhan pertanian dilaksanakan secara terintegrasi dengan subsistem pembangunan pertanian yang diarahkan sebagai salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian.

Pada 2019, Provinsi Jatim terdiri atas 29 kabupaten, 9 kota, 666 kecamatan, 777 kelurahan, 7.724 desa, Balai Penyuluh Pertanian 577, dan jumlah penyuluh PNS sebanyak 1.745 orang. Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) 4.273 orang dan penyuluh swasta 13 orang.

Permasalahan substantif yang dihadapi dalam percepatan pencapaian swasembada pangan a.l alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian, rusaknya infrastruktur jangan irigasi, semakin berkurangnya dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian serta belum terampilnya para petani mengoperasikan peralatan pertanian.

Dalam menghadapi permasalahan dan merespon tantangan-tantangan tersebut, maka untuk pemantapan sistem penyuluhan ditempuh melalui langkah strategis, yakni penguatan fungsi kelembagaan penyuluhan pertanian.(k24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jawa timur

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup