BI Dukung Pengembangan Pariwisata Ekologis Pantai Clungup di Malang

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang mendukung pengembangan pariwisata edukasi ekologis Pantai Clungup, Kab. Malang, Clungup Mangrove Conservation (CMC), lewat bantuan prasarana dan menanam mangrove.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 02 November 2019  |  22:19 WIB
BI Dukung Pengembangan Pariwisata Ekologis Pantai Clungup di Malang
Anggota Korkom Genbi (Generasi Baru Indonesia) Malang tengah menanam mangrove di Pantai Clungup pada kegiatan Bersih Indonesia Genbi Malang 2019, Sabtu 2 November 2019. - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG—Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang mendukung pengembangan pariwisata edukasi ekologis Pantai Clungup, Kab. Malang, Clungup Mangrove Conservation (CMC), lewat bantuan prasarana dan menanam mangrove.

Manajer Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan BI Malang Siti Senorita Printaningrum mengatakan BI membantu kantong dan tempat sampah memenuhi permintaan dari pengelola CMC agar pengunjung tidak mengotori kawasan wisata Pantai Clungup dan Pantai Gatra.

“Kami bersama Genbi (Generasi Baru Indonesia), mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari BI, juga membantu kelestarian pantai di sana dengan menanam mangrove dan membersihkan sampah plastik di pantai yang terbawa ombak,” katanya di sela-sela Bersih Indonesia Genbi Malang 2019 di Pantai Clungup, Malang, Sabtu (2/11/2019).

Ke depannya, BI Malang siap membantu Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, pengelola CMC, untuk mengembangkan kawasan tersebut, jika mereka memang membutuhkannya.

Hal itu dilakukan karena sesuai dengan komitmen BI Malang untuk mendorong pengembangan kawasan wisata di wilayah kerja kantor. Yang sedang dilakukan, mengembangkan kawasan objek wisata di Kab. Malang.

Sebagai kegiatan awal untuk menyusun cetak biru pengembangan pariwisata di daerah tersebut dengan melakukan focus group discussion bersama stake holder lainnya, seperti Pemda.

Pendiri CMC dan Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, Lia Putrinida, mengatakan kegiatan pariwisata di Pantai Clungup dan Pantai Gatra dan lima pantai lainnya di sekitarnya terutama pada pelestarian karang dan tanaman mangrove.

Pengunjung di objek wisata, diedukasi terkait bagaiamana bagaimana berperilaku mengembangkan objek wisata tersebut, setidaknya tidak mengganggu kelestarian karang dan tanaman mangrove.
“Karena pengunjung objek wisata dilarang membawa sampah yang sulit didaur ulang seperti sampah berbahan plastik,” ucapnya.

Selain edukasi, ada kegiatan atraksi seperti diving, snorkeling, canoeing, menginap, dan lainnya. Karena sisi edukatif itulah, maka kawasan tidak didesian dengan gebyar yang terlalu banyak mendulang pengunjung. Tahun 2018, pengunjung pantai tersebut mencapai 50.000 orang.

“Itu terlalu besar, kurang cocok dengan misi mengembangkan objek wisata dengan misi konservasi dan edukasi prolingkungan yang berkelanjutan. Idealnya jumlah pengunjung hanya sekitar 30.000/tahun ,” ucapnya.

Karena alasan itulah, dia tidak gampang menerima bantuan jika ada persyaratan yang justru tidak pro pada kelestarian lingkungan. Contohnya, ada bantuan yang mensyaratkan dibangun papan nama dengan konstruksi beton. “Jadi bantuan dari harus pro pada pelestarian lingungan.”

Institusi yang telah membantu pengembangan kawasan di sanam antara perguruan tinggi, Kementerian Pariwisata, Kementerian KKP, Kementerian LHK, Kementerian Pemuda dan Olahraga.

“Tapi jika ditotal tidak banyak nilai bantuannya. Kami memang tidak berharap bantuan itu nilainya karena khawatir justru mengubah pola pikir dari pengelolanya. Kami ingin pengelolanya betul-betul tertanam sifat pengabdian,” ujarnya.

Dari 117 hektare kawasan wisata, 71 hektare berupa hutan mangrove, 30 hektare berupa kerumbu karang. Ada 10 hektare yang merupakan kawasan resapan air, namun kondisinya kritis sehingga direncanakan akan dipulihkan pada 2020 nanti.

Dari mengelola pantai, pendapatan kotor yang diperoleh mencapai Rp2 miliar/tahun. Dari dana sebesar itu, 30% dikembalikan pada pajak, sisanya untuk dana operasional dan pengembangan kawasan.

“Ke depan kami rencanakan untuk mengelola produk kuliner berbasis mangrove dan kegiatan lainnya sebagai pengganti jika pengunjung di sana betul-betul berkurang, selain men-create kegiatan yang menarik, namun tetap dalam bingkai pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Setiap Kamis dalam sepekan, objek wisata tutup. Idul Fitri tutup selama 14 hari, begitu juga Natal tutup mulai 23 Desember sehingga pengelola bisa menjalankan bersosialisasi dan melakukan kegiatan keagamaan dengan nyaman.

Pengunjungnya, dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Ada Eropa, Asia Pasifik, dan tentu saja wisatawan nusantar. Mereka ke sana terutama ingin belajar tentang mengembangakan wisata edukasi berbasis pelestarian lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
malang

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup