Minyak Bumi Menyembur pada Halaman Sebuah Rumah di Surabaya

Semburan lumpur di depan halaman rumah milik Liswati, warga Perumahan Kutisari Indah Utara Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Senin (23/9) tidak didominasi lumpur, melainkan murni minyak.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 24 September 2019  |  18:31 WIB
Minyak Bumi Menyembur pada Halaman Sebuah Rumah di Surabaya
Petugas Linmas Pemkot Surabaya sedang menjaga lokasi semburan lumpur di halaman rumah Jl. Kutisari Indah Utara III/No.19 Surabaya, Selasa (24/9/2019). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA - Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menyatakan semburan lumpur di depan halaman rumah milik Liswati, warga Perumahan Kutisari Indah Utara Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Senin (23/9) tidak didominasi lumpur, melainkan murni minyak.

"Ini murni minyak," kata Whisnu Sakti Buana didampingi Camat Tenggilis Mejoyo, A Daya Prasetyono saat mendatangi lokasi, Selasa (24/9/2019).

Menurut Whisnu, meski volume semburan lumpur sudah menurun, namun Pemkot Surabaya tetap melakukan pengawasan di lokasi selama sepekan.

"Sekarang memang sudah menurun, namun untuk memastikan kondisinya aman perlu dimonitor," katanya.

Untuk itu, Whisnu meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya semburan lumpur minyak tersebut. Namun, ia meminta pihak Muspika dibantu kepolisian dan TNI bisa bekerja sama dalam melakukan penjagaan dan pemantauan di lokasi.

Dalam kesempatan berbeda, Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meminta pemerintah melakukan monitoring terus terhadap semburan lumpur yang ada di halaman rumah Jl. Kutisari Indah Utara III/No.19 Surabaya.

Pakar Geologi ITS Amien Widodo mengatakan dalam waktu dekat ini pemerintah perlu memantau kondisi semburan lumpur tersebut untuk memastikan area itu berbahaya bagi warga atau tidak.

"Selain itu juga tidak direkomendasikan karena bisa saja, ketika satu titik ditutup, semburan bisa pindah ke titik lain, karena kan di bawah masih banyak (migas)," jelasnya saat memantau lokasi semburan lumpur, Selasa (24/9/2019).

Dia mengatakan untuk saat ini di lokasi tersebut perlu dibuatkan bak kontrol yang besar untuk menampung semburan lumpur. Jika berlebihan, bisa dikeluarkan di got atau tempat sampah.

Menurutnya, di Jatim bagian utara memang dikenal dengan cekungan migas yang memiliki potensi minyak dan gas. Pada zaman Belanda telah diusahakan, sehingga Surabaya memiliki lapangan minyak milik Belanda sekitar 1800 an. Cekungan itu ada di kawasan Krukah, Wonokromo, Kutisari dan sampai Gununganyar.

"Sekarang itu statusnya sudah abandon, jadi memang kemungkinan dia bisa keluar lagi karena minyak di bawah sana itu berproduksi dan terus bertambah sehingga ketika ada tekanan, dia bisa keluar, seperti yang terjadi di Kutisari," jelasnya.

Amien menambahkan dulu juga pernah ada pengeboran di sekirar 1 km dari lokasi semburan lumpur Kutisari. Kondisinya hampir sama seperti di Bojonegoro yang menggunakan pipa untuk menyedot.

"Nah pemicunya apa, kita susah menemukan, karena gak ada data gempa, tapi kemungkinan karena produksi di bawah sana meningkat maka menekan ke atas," katanya.

Amien berharap semburan lumpur Kutisari ini bisa berhenti sendiri seperti pengalaman di Benjeng pada 2018, terdapat semburan tetapi dalam satu bulan sudah berhenti dan hilang.

"Sekarang yang terjadi di Gresik juga begitu, umumnya tidak sampai satu bulan," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
unik, surabaya

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup