Panen Bawang Merah, Jatim Bakal Gandeng Industri Pengolahan Makanan

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah startegi untuk menjaga harga bawang merah petani tidak jatuh pada saat momen panen raya di beberapa sentra produksi.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 06 September 2019  |  17:15 WIB
Panen Bawang Merah, Jatim Bakal Gandeng Industri Pengolahan Makanan
Petani memanen bawang merah di Dempet, Demak, Jawa Tengah - Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah startegi untuk menjaga harga bawang merah petani tidak jatuh pada saat momen panen raya di beberapa sentra produksi.

Kepala Dinas Pertanian Jatim, Hadi Sulistyo mengatakan pemerintah akan berupaya mengatur stok bawang yang over produksi, dan menutup sementara pasokan dari luar Jatim,serta melakukan operasi pasar untuk membeli bawang merah di sentra lalu mendistribusikannya ke kota/kabupaten yang bukan sentra.

“Selain itu, kami akan melakukan kerja sama dengan industri olahan yang menggunakan bawang merah sebagai bahan baku produksi, serta berharap petani sendiri mampu membuat bawang merah menjadi produk olahan makanan guna meningkatkan nilai tambah,” jelasnya, Jumat (6/9/2019).

Hadi mengatakan memang harga rata-rata bawang merah di tingkat petani sejak Agustus sekitar Rp9.350/kg. Harga tersebut turun dibandingkan harga rerata pada Juli yakni Rp17.778/kg.

“Harganya turun karena adanya panen raya di beberapa sentra produksi seperti di Nganjuk, Probolinggo, Banyuwangi, Bojonegoro dan Sumenep, ditambah adanya pasokan dari luar Jatim seperti Demak, Brebes dan Bima,” katanya.

Dia melanjutkan, bahkan dalam bulan-bulan ke depan masih ada potensi panen dari beberapa wilayah sentra penghasil bawang merah yang bisa mempengarui harga bawang merah di tingkat petani.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Jatim, luas tanam bawang merah di Jatim hingga Juli 2019 mencapai 9.249 ha, dengan total panen selama Juli sebanyak 455.804 kuintal. Produksi terbanyak berada di wilayah Probolinggo sebanyak 301.886 kuintal, disusul wilayah Nganjuk 62.228 kuintal, Malang 49.268 kuintal, Kediri 13.627 kuintal, dan Ngawi 6.845 kuintal.

“Harga jual bawang merah di tingkat petani per Juli yang paling rendah tercatat ada di Mojokerto yang hanya Rp8.000/kg, lalu Kediri Rp12.200/kg, Malang Rp13.894/kg, lalu Tulungagung, Nganjuk, Kota Proboliggo dan Batu masing-masing sekitar Rp14.000/kg,” jelasnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan komoditas bawang merah pada Agustus 2019 telah menjadi penyumbang deflasi alias penghambat inflasi Jatim yang mencapai 0,12%.

“Perubahan harga bawang merah di Jatim dari Juli ke Agustus ini mencapai -14,62% dengan andil dalam deflasi -0,0624. Selain bawang merah, tomat sayur, angkutan udara dan bawang putih juga menjadi penghambat inflasi kita,” katanya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengolahan Hasil Hortikultura (Asperhorti) Jatim, M. Maulud mengatakan petani menginginkan agar pemerintah membangun cold storage yang dikelola secara profesional di sentra-sentra produksi bawang merah.

“Sebenarnya sudah ada cold storage, tapi belum optimal. Kami ingin pengelolaan cold storage itu bisa seperti yang ada di Kudus, dengan biaya penyimpanan hanya Rp1.000/kg/bulan. Itu akan sangat membantu petani saat panen raya,” katanya.

Menurutnya, pemerintah harus membantu menyalurkan hasil produksi ke sektor industri, tetapi petani tidak perlu membuat produk olahan karena fokus petani adalah bagaimana meningkatkan produksi yang bagus dan berkualitas.

Maulud menambahkan, harga ideal bawang merah di tingkat petani adalah Rp14.000 – Rp15.000/kg mengingat Harga Pokok Produksi Petani (HPP) sekitar Rp12.000/kg.

Adapun dari total anggota Aperhorti Jatim sebanyak 300 an, sekitar 10% di antaranya merupakan petani bawang merah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bawang merah, jatim

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top