NTB Tawarkan Investasi Agro Industri ke Pengusaha Jatim

Investor Jatim bisa membangun industri atau pabrik pengolahan tepung jagung dan pabrik gula tebu.
Peni Widarti | 24 April 2019 17:12 WIB
Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi NTB, Lalu Gita Ariadi (kanan) dan Kabid Perencanaan dan Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Provinsi Jatim, Tiat. S Suwardi (kiri) saat acara Roadshow Temu Bisnis Pemprov NTB dengan Pengusaha Jatim, Rabu (24/4/2019). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) gencar menjaring investor asal Jawa Timur untuk menawarkan investasi di sektor agro industri, tambang dan pariwisata seiring dengan potensi ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi NTB, Lalu Gita Ariadi mengatakan pemerintah NTB harus aktif mempromosikan potensi daerahnya setelah mengalami bencana gempa. Apalagi saat itu, banyak investor yang mengevaluasi rencana investasinya di Lombok.

"Jadi kalau kita pasif, kondisi tidak akan jadi lebih baik. Kami yakinkan kepada calon investor bahwa setiap musibah ada hikmah. Misalnya ada investor Rusia dan Eropa yang mundur, lalu kami cari investor yang secara naluri familiar dengan gempa, misalnya Jepang,” katanya sesuai Roadshow Temu Bisnis Dinas PMPTSP dengan Pengusaha Jatim, Rabu (24/4/2019).

Dia mengatakan pihaknya menawarkan kepada investor Jatim untuk membangun industri atau pabrik pengolahan tepung jagung dan pabrik gula tebu karena ada potensi tanaman jagung dan tebunya.

Selain itu, juga ada smelter atau pengolahan hasil tambang tembaga di Batu Hijau Sumbawa Barat, serta pembangunan hotel dan atraksi untuk melengkapi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, termasuk kawasan Samota (Teluk Saleh, Moyo dan Tambora) yang kaya akan hasil ikan di Teluk Saleh, wisata Moyo yang pernah dikunjungi Lady Diana, dan juga Gunung Tambora yang pernah meletus dan meninggalkan hamparan yang subur untuk ditanami tebu dan jagung.

Dalam kesempatan yang sama, Kabid Perencanaan dan Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Provinsi Jatim, Tiat. S Suwardi menambahkan kerja sama Jatim dan NTB ini sudah dilakukan sejak tahun lalu untuk meningkatkan investasi di kedua belah pihak.

“Namun untuk saat ini, kita mau beri peluang bagi NTB untuk meningkatkan investasinya, maka kami mengundang para pengusaha Jatim untuk melihat potensi di NTB,” ujarnya.

Konsultan bisnis sekaligus pelaku UMKM Jatim, Bambang mengatakan pihaknya meminta pemerintah NTB untuk menyiapkan lahan seluas 1.500 ha di kawasan sekitar hutan kayu jati untuk dikembangkan sebagai pabrik pengolahan porang menjadi glukomanan.

“Porang adalah tanaman liar yang ada di bawah pohon jati, dan itu bisa diambil glukomananya untuk dijadikan bahan baku pembalut (fungsi penyerap), dan itu sudah banyak dipakai di China dan Jepang,” katanya.

Dia mengatakan tanaman liar tersebut banyak tumbuh di NTB dan merupakan bagian dari hasil hutan bukan kayu (HHBK). Bahkan tanaman porang itu dapat membuat pohon Jatim tumbuh dengan baik.

Menurut Bambang, investor harus melihat supply-chain ketika akan berinvestasi, yang berarti bahwa pabrik tidak bisa didirikan jika tidak ada bahan baku dan pasar. Selama ini yang terjadi, banyak industri yang berdiri tetapi tidak diimbangi ketersediaan bahan baku.

“Nah kita ini sering kali gagal di supply-chain, ketika permintaan banyak, tapi bahan baku kurang. Ini harus diurutkan,” imbuhnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, ntb

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup