Industri Penopang Otomotif Diarahkan ke Jatim

Pengembangan industri kendaraan listrik ini harus diimbangi dengan industri komponen.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  15:38 WIB
Industri Penopang Otomotif Diarahkan ke Jatim
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (batik kuning) dan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak (batik biru) saat mengunjungi booth Daihatsu di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Surabaya, Jumat (29/3 - 2019).Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA - Kementerian Perindustrian mendorong agar Provinsi Jawa Timur bisa memiliki kawasan industri otomotif terutama pabrik komponen untuk mendukung pengembangan mobil listrik Tanah Air.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan mobil listrik akan semakin menarik karena arah industri otomotif ke depan adalah memproduksi kendaraan yang low carbon emission vehicle (LCEV), electrified vehicle dan flexy engine.

Hanya saja, katanya, pengembangan industri kendaraan listrik ini harus diimbangi dengan industri komponen, seperti baterai mengingat baterai merupakan komponen termahal dalam mobil listrik.

"Kami berharap agar industri komponen itu bisa ditarik ke daerah. Sebut saja di Sulawesi Tengah itu akan memproduksi bahan baku baterai nikel, lalu di Jatim didorong untuk industri baterainya," katanya saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Surabaya, Jumat (29/3/2019).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (ketiga kanan), Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak (kedua kanan) dan Ketua Gaikindo Yohannes Nangoi (ketiga kiri) saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Surabaya, Jumat (29/3/2019)./Bisnis-Peni Widarti

Dia mengatakan saat ini pemerintah sendiri sedang menyusun regulasi yang mendukung industri otomotif dalam memproduksi kendaraan listrik. Sejumlah kebijakan insentif fiskal yang sudah disetujui DPR, di antaranya seperti bea masuk, penurunan pajak maupun PPnBm sampai 3%.

"Prinsipnya nanti emisi yang paling rendah ya PPnBm nya terendah, emisi tinggi PPnBm nya tinggi. Harapannya di daerah juga ada harmonisasi pajak daerahnya," katanya.

Dia mengatakan pemerintah juga sudah merencanakan kuota untuk electric vehicle sekitar 20% dari produksi kendaraan nasional atau sekitar 400.000 unit pada 2025.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan saat ini Pemprov Jatim sedang menyusun RPJMD yang di dalamnya juga akan mendorong perluasan industri lain selain rokok, tembakau, makanan dan minuman (RTMM).

"Memang industri kita 2/3 nya adalah RTMM, bukan berarti itu akan diganti, tapi kita mendiversifikasi ke otomotif agar landasan industri kita luas. Detroitnya Indonesia itu di Karawang, kalau Jatim mau di depan maka kita cari lagi ceruk pasar yang belum tersentuh," katanya.

Menurutnya, pengembangan industri otomotif di Jatim masih sangat menjanjikan apalagi dengan konektivitas yang menghubungkan Solo - Surabaya dan pelabuhan yang mengubungkan Jatim dengan Indonesia Timur.

Untuk itu, lanjutnya, Pemprov Jatim akan menyiapkan lahan kawasan industri otomotif di wilayah berpotensi seperti Nganjuk, Jombang dan Ngawi atau ke arah timur ada Probolinggo, maupun di Pantura yakni Lamongan dan Tuban.

Emil berharap, pengembangan industri otomotif di Jatim juga bisa menyerap tenaga kerja dari 700.000 lulusan SMK yang 60%-70% merupakan jurusan mesin dan komputer.

"Selain itu, produsen China ataupun Jepang di Karawang kan ada yang ekspor ke Vietnam dan Filipina. Nah diharapkan Jatim bisa ke arah sana (ekspor)," imbuhnya.

Di samping itu, tambahnya, dukungan terhadap industri otomotif di Jatim tersebut bukan berarti pemerintah berpihak pada industri besar, tetapi industri besar merupakan tumpuan untuk membuka peluang bagi industri kecil.

" Itu yang disebut backward forward linkage effects industri kecil. Kan industri kecilnya nanti bisa bikin stiker mobil, modifikasi mobil, dan di sini juga banyak UKM yang produksi sparepart tertentu," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri otomotif

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup