BI Jawa Timur Beri Perhatian Lebih Kopi, Ini Alasannya

Muhammad Zakki memperkirakan tahun 2030 Indonesia akan menjadi importir kopi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 11 Maret 2019  |  20:27 WIB
BI Jawa Timur Beri Perhatian Lebih Kopi, Ini Alasannya
Petugas memberikan kopi gratis kepada masinis saat gelaran "Ngopi Bareng KAI 3, Enjoy Your Journey with Indonesian Coffee" di Stasiun Bandung, Jawa Barat, Senin (11/3/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, SURABAYA – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Timur mendorong peningkatan kualitas kopi lokal di wilayah setempat dengan melihat kebutuhan pasar dan petani di daerah, tujuannya agar kualitas kopi pascapanen menjadi lebih baik dan menambah penghasilan petani.

"Pendekatan BI saat ini adalah dengan melihat kebutuhannya apa di daerah, kami bisa masuk melalui pembinaan petani atau pengembangan lainnya. Dan goalnya yang penting income naik, kualitas pascapanen baik, sehingga bisa menghasilkan ekspor," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur Difi A Johansyah di Surabaya, Senin (11/3/2019).

Difi pada acara Peringatan Hari Kopi Nasional 2019 mengatakan, instansinya bekerja sama dengan Pemprov Jatim dan Dewan Kopi Indonesia terus berusaha meningkatkan kualitas kopi Jatim, sebab potensinya cukup bagus.

"Jawa Timur mempunyai produk Kopi Dampit dan Kopi Pasuruan, ditambah lagi punya pusat pengembangan dan laboratorium kopi serta kakau di Jember. Artinya, potensinya cukup bagus," tuturnya.

Selain itu, kerja sama dengan Dewan Kopi Indonesia adalah membuat perkembangan kopi yang berkesinambungan, karena beberapa produksi kopi lokal adalah warisan belanda.

"Kami mendorong kualitas kopi bisa seragam, agar tingkat penerimaan masyarakat baik. Dan itu adalah tantangan kita bersama," tuturnya.

Difi mengatakan, banyak strategi dilakukan BI Jatim untuk mengangkat kopi Jatim, salah satunya melalui jalur promosi melalui media dan pembinaan langsung kepada petani.

"Strateginya kami bantu promosikan, seperti Kopi Dampit atau Pasuruan. Dan yang terpenting itu bagaimana ketika masyarakat butuh mereka gampang mendapatkannya," katanya.

Ia mengakui, kebutuhan kopi saat ini sangat tinggi karena adanya perubahan yang cukup dahsyat di kehidupan urban masyarakat kota, sebab kopi sudah menjadi gaya hidup yang dikelola kaum milineal, namun tantangannya bahan baku kopinya terbatas.

"Oleh karena itu, pertumbuhan kopi perlu diremajakan dan diperluas agar kebutuhan kopi dalam negeri bisa dipenuhi. Jangan sampai impor, karena kualitas kopi nasional sangat bagus di dunia," tuturnya.

Sementara itu Ketua Dewan Kopi Nasional Provinsi Jawa Timur, Muhammad Zakki memperkirakan tahun 2030 Indonesia akan menjadi importir kopi, karena kebutuhannya yang sangat tinggi.

"Untuk mengatasi hal itu, perlu digerakkan bagaimana petani tidak hanya sekedar menanam secara konvensional saja, tapi bisa juga menjadi industri petani kopi," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup