Bulog Diharapkan Jadi Stabilisator Harga Selain Beras

Perum Bulog diharapkan mampu menjadi stabilisator harga untuk komoditas selain beras dalam upaya memberi jaminan kepada petani serta mengendalikan tingkat inflasi daerah khususnya di Jawa Timur.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 04 Maret 2019  |  17:46 WIB
Bulog Diharapkan Jadi Stabilisator Harga Selain Beras
Pekerja mengemas jagung impor yang akan didistribusikan ke peternak di gudang Bulog di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1/2019). - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Perum Bulog diharapkan mampu menjadi stabilisator harga untuk komoditas selain beras dalam upaya memberi jaminan kepada petani serta mengendalikan tingkat inflasi daerah khususnya di Jawa Timur.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak mengatakan skema yang dilakukan Bulog cukup penting dalam mengendalikan harga beras. Dia berharap untuk kedepan upaya itu bisa diterapkan pada komoditas lain supaya tidak mengalami fluktuasi harga dan menyumbang inflasi daerah.

"Justru kalau harga lagi anjlok, Bulog harus masuk. Mungkin saja bukan hanya pada kasus beras, kita butuh peran stabilisasi harga untuk komoditi lainnya. Itu yang kita harapkan," kata Emil, usai menghadiri Capacity Building TPID Se-Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, di Kota Malang, Senin (4/3/2019).

Jika nantinya Bulog bisa menjadi stabilisator harga untuk komoditas selain beras, lanjut Emil, petani bisa mendapatkan jaminan pembelian pada saat suatu komoditas tertentu mengalami penurunan harga yang drastis.

Mengenai urusan beras, Bulog berfungsi menstabilkan harga beras pada saat harga komoditas tersebut sedang tinggi, dengan menggelontorkan pasokan ke pasar konsumen. Kunci utama dalam melakukan hal tersebut adalah ketersediaan stok yang mencukupi.

Namun, jika stok yang dimiliki Perum Bulog tersebut tidak mencukupi, atau kurang dari yang ada di pasar konsumen, maka langkah penggelontoran tersebut akan percuma. Hal tersebut dikarenakan, apa yang dilakukan Perum Bulog tersebut tidak bisa memengaruhi harga pasar.

Menurut Emil, kendala yang selalu dihadapi Bulog dalam melakukan serapan adalah pada saat harga pasar lebih tinggi dari besaran harga pembelian pemerintah (HPP) yang sudah ditetapkan. Namun, saat harga rendah, Bulog menjamin adanya serapan yang bisa dilakukan sesuai dengan ketentuan.

"Bulog ini tujuannya menstabilkan harga dengan cara memiliki stok yang cukup untuk mempengaruhi pasar. Jadi jika stok tidak cukup, bagaimana dia mempengaruhi pasar," kata Emil.

Berdasarkan Instruksi Presiden No. 5/2015 Tentang Kebijakan Pengadaan Gabah atau Beras dan Penyaluran Beras Oleh Pemerintah, besaran HPP Bulog untuk gabah kering panen adalah Rp3.700 per kilogram di tingkat petani dan Rp3.750 per kilogram di tingkat penggilingan.

Sementara itu, untuk gabah kering giling, HPP ditetapkan Rp4.600 per kilogram di tingkat penggilingan dan Rp4.650 di gudang Bulog.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bulog, Harga Beras

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup