Sunrise Steel Bangun Pabrik Baja Canai Dingin Berkapasitas 200.000 Ton/Tahun

Produsen baja PT Sunrise Steel tahun ini mulai membangun pabrik untuk produk hulu yakni baja canai dingin (cold-formed) di Mojokerto dengan kapasitas terpasang 200.000 ton/tahun.
Peni Widarti | 11 Februari 2019 17:38 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, SURABAYA – Produsen baja PT Sunrise Steel tahun ini mulai membangun pabrik untuk produk hulu yakni baja canai dingin (cold-formed) di Mojokerto dengan kapasitas terpasang 200.000 ton/tahun guna memenuhi kebutuhan bahan baku produk hilir yakni baja lapis ringan di Indonesia.

Presiden Direktur Sunrise Steel Henry Setiawan mengatakan lokasi pabrik baja canai dingin tersebut masih berada di satu kawasan dengan pabrik baja lapis milik Sunrise Steel sebagai bentuk efisiensi produksi.

“Jadi nanti kami akan beli baja canai panas (hot-rolled), lalu diproses di pabrik baru menjadi baja canai dingin, untuk kemudian dijual ke Sunrise Steel untuk diolah menjadi baja lapis, lalu disuplai ke anak usaha kami PT Kepuh Kencana Arum dan produsen lainnya untuk diolah menjadi baja lapis ringan,” katanya, Senin (11/2/2019).

Dia mengatakan kebutuhan baja lapis ringan di Indonesia masih cukup tinggi, meski dalam 2-3 tahun terakhir ini sektor properti masih tampak wait and see. Menurutnya pasar yang menyerap produk baja ringan yang biasanya dipakai untuk rangka atap/kuda-kuda rumah ini ternyata lebih besar di sektor ritel atau end user.

“Jadi kebutuhan baja lapis ringan ini tidak terkait langsung dengan pertumbuhan sektor properti baru, tapi justru atap rumah-rumah masyarakat kini mulai banyak mengganti atap kayu yang sudah lapuk dengan baja ringan. Sehingga kebutuhan produk ini lebih didorong oleh agenda pemeliharaan,” jelasnya.

Selain akan membangun pabrik produk hulu, tahun ini juga Sunrise Steel sudah mulai mengoperasikan line baja lapis kedua sehingga mampu memproduksi dua kali lipat dari kapasitas sebelumnya yang hanya 260.000 ton/tahun.

“Mungkin persisnya kami akan memproduksi baja lapis tahun ini totalnya 400.000 ton/tahun,” imbuhnya.

Henry yang juga merupakan Wakil Ketua Indonesia Zinc Aluminium Steel Indusrty (IZASI) ini mengatakan industri baja Tanah Air cukup optimistis dengan bisnis baja lantaran adanya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 110 Tahun 2018 tentang pengendalian produk baja impor.

Selama ini, lanjutnya, Indonesia telah digempur oleh produk baja lapis impor yang harganya sangat rendah dari produk lokal sehingga mengacaukan harga produk baja dalam negeri. Murahnya produk baja impor tersebut terjadi karena pengenaan bea masuk 0% dan mendapat tax insentif dari pemerintah negara asal produk.

“Kami berharap dengan permendag tersebut, industri baja kita bisa tumbuh lebih bagus lagi, dan harganya bisa terkoreksi naik paling tidak bertahap sampai 10% bergantung suplai dan demand,” imbuhnya.

Henry menambahkan, pengusaha baja berharap pemerintah atau Kemendag ke depan semakin bisa bijaksana dalam memberikan kuota impor produk baja lapis agar tidak menggangu harga baja lapis ringan di pasar.

Tag : industri baja, sunrise steel
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top