BI Jatim Fokus Kembangkan Komoditas Pertanian Berpangsa Pasar Ekspor

Bank Indonesia (BI) Jatim akan fokus mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan berorientasi ekspor lewat program kluster di 2019.
Choirul Anam | 30 Januari 2019 19:54 WIB
Kepala Perwakilan BI Jatim Difi A. Johansyah (kiri) bersama Kepala Perwakilan BI Kediri Djoko Raharto (kanan) dan Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Jatim Hermanta pada Pelatihan Wartawan Ekonomi Jatim di Probolinggo, Rabu (30/1/2019). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, PROBOLINGGO — Bank Indonesia (BI) Jatim akan fokus mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan berorientasi ekspor lewat program kluster di 2019.

Kepala Perwakilan BI Jatim Difi A. Johansyah mengatakan komoditas tersebut a.l kedelai, bawang putih, jagung, padi organik, kopi, dan cokelat.

"Tapi komoditas terkait menjaga ketahanan pangan, tetap menjadi perhatian dengan program kluster di 2019," katanya pada Pelatihan Wartawan Ekonomi Jatim di Probolinggo, Rabu (30/1/2019).

Komoditas terkait ketahanan pangan, yakni telur, cabai, dan sapi pedaging. Di Jatim, kata dia, komoditas pangan menjadi penyumbang penting pangan nasional. Namun idealnya komoditas pertanian dan perkebunan di Jatim tidak hanya kompetitif di dalam negeri, melainkan juga bisa menembus pasar ekspor setidaknya mengurangi angka impor seperti pada komoditas bawang putih.

"Tapi untuk komoditas bawang putih, program kluster tersebut difokuskan pada produksi bibit," ucapnya.

Program tersebut menangkap peluang kewajiban importer untuk menanam bawang putih sebesar 5% dari realisasi impor.

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan A. mengatakan BI Malang di 2019 akan fokus pada pengembangan bawang putih, padi organik, dan kopi lewat program kluster.

Ketiga komoditas tersebut, kata dia, sangat potensial untuk memasuki pasar ekspor dan mengurangi impor. Namun untuk memasuki pasar ekspor, tentu komoditas-komoditas tersebut harus mempunyai keunggulan kompetitif sehingga dapat diterima pasar.

Oleh karena itulah, kata dia, perlu lebih diperbaiki lagi sisi budi dayanya. Misalnya untuk kopi maka perlu memilih bibit yang baik, pohon pelindung, dan pemakaian pupuk organik. Intinya, budi dayanya dilakukan secara organik.

"Tapi untuk komoditas yang mendukung ketahanan pangan, tetap kami perhatikan," ujarnya.

Kepala Perwakilan BI Kediri Djoko Raharto menegaskan di wilayah kerja kantor tersebut juga mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan yang berorientasi ekspor.

Komoditas tersebut, seperti kopi. Di Tulungagung, petani di sana berhasil menanam sekitar 40.000 pohon kopi Arabica specialty yang sebagian pengadaannya dibantu BI.

Kopi yang ditanam tersebut, sebagian sudah berhasil berbuah. Karena itulah, BI Kediri berusaha mendatangkan pembeli, terutama eksporter, dengan melakukan kegiatan lelang kopi.

Komoditas lainnya, kakao yang potensi ekspornya tinggi. Kampung Cokelat Blitar berhasil mengekspor 350-400 ton dari berbagai daerah di Indonesia.

"Kalau cokelat justru ditanam di Blitar dan sekitarnya kan lebih baik," ucapnya.

Komoditas lainnya, kunyit. Komoditas tersebut sudah ada yang siap membeli untuk ekspor. Perusahaan ekspor di Surabaya sudah mendapatkan kontrak ekspor sebanyak 2.000 ton, namun yang terealisasi baru 600 ton. " Kekurangannya bisa dipenuhi dari kunyit yang ditanam di Trenggalek," ujarnya.

Ada 740 hektare lahan yang siap ditanami masyarakat komoditas kunyit. Komoditas lain yang bisa dikembangkan untuk ekspor, yakni porang biasa digunakan untuk a.l kapsul dan mi khas Jepang.

Ekspoternya sedang membangun pabrik di Madiun dengan kapasitas produksi 60 ton/hari. "Ini potensi yang luar biasa," katanya.

Tag : bank indonesia
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top