JALAN BEBAS HAMBATAN DAERAH : SERR Masih Tunggu Kejelasan

Pemerintah daerah di Jawa Timur masih menunggu kelanjutan rencana pembangunan jalan tol Surabaya East Ring Road sepanjang 22 kilometer pascabatalnya pendelegasian operator Jembatan Surabaya—Madura kepada PT Hutama Karya.
Rivki Maulana & Irene Agustine | 04 Desember 2018 02:00 WIB
Suasana Jembatan Suramadu di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (27/10/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

JAKARTA — Pemerintah daerah di Jawa Timur masih menunggu kelanjutan rencana pembangunan jalan tol Surabaya East Ring Road sepanjang 22 kilometer pascabatalnya pendelegasian operator Jembatan Surabaya—Madura kepada PT Hutama Karya.

Belum lama ini, pemerintah memutuskan jembatan tol Suramadu berubah fungsi menjadi jalan bebas hambatan nontarif.

Padahal, Hutama Karya sempat diwacanakan untuk ditugaskan mengelola jembatan tol tersebut sekaligus membuatnya tersambung dengan membangun jalan tol lingkar timur Surabaya atau SERR.

Dengan begitu, pendapatan dari kedua tol ini dapat digunakan untuk membantu pembangunan jalan tol Trans-Sumatra.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Pemerintah Provinsi Jawa Timur Gatot Sulistyo Hadi mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu pemerintah pusat mengenai rencana kelanjutan pembangunan SERR setelah tol Suramadu digratiskan.

Dia mengatakan bahwa saat ini surat dukungan dari Gubernur Jawa Timur kepada Kementerian PUPR telah disampaikan yang intinya menyetujui untuk dibangun SERR guna mengurai kemacetan di Surabaya.

"Posisinya Jatim menunggu pemerintah pusat, setelah itu menunggu nanti kami sampaikan ke wali kota dengan surat gubernur," kata Gatot kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, pembangunan jalan tol SERR sangat dibutuhkan sebagai akses paling efisien menuju Jembatan Suramadu.

"Kalau ke Suramadu lewat tengah itu sudah crowded sekali. Waktu tempuhnya lama 2 jam dan sulit aksesnya," ujarnya.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry Trisaputra Zuna mengatakan bahwa saat ini pemerintah masih mengevaluasi rencana kelanjutan pembangunan jalan tol tersebut setelah rencana pengoperasian jembatan tol Suramadu kepada Hutama Karya batal.

"Kemarin mau ditugaskan dengan jembatan tol Suramadu kepada Hutama Karya, setelah Suramadu ini digratiskan masih dievaluasi apakah terus ini pembangunan SERR saja," katanya.

Kendati demikian, Herry memastikan bahwa sesuai dengan rencana jaringan jalan tol, SERR memang harus dibangun. Bahkan, pembangunan SERR harus tersambung dengan tol Surabaya—Gempol sehingga menjadi lebih efisien.

"Jadi, masih dibahas kelanjutannya setelah Suramadu excluded. Ini harus tersambung sampai Surabaya—Gempol di atas sehingga bisa efisien," ujarnya.

AKSES PELABUHAN MAKASSAR

Sementara itu, PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) berniat membangun jalan tol akses menuju Makassar New Port sepanjang 2 kilometer.

Jalan akses ini akan mendukung aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan terbesar di wilayah Indonesia bagian timur itu.

Direktur META Danni hasan mengatakan bahwa jalan akses ke Makassar New Port akan terhubung dengan jalan tol Tallo—Bandara Hasanuddin dan jalan tol Pelabuhan Soekarno Hatta-Pettarani.

Dua jalan tol ini dikelola oleh entitas di bawah perseroan, yaitu PT Jalan Tol Seksi Empat dan PT Bosowa Marga Nusantara.

Saat ini, katanya, trase jalan tol untuk akses ke Makassar New Port belum ditetapkan sehingga perseroan belum bisa mengestimasi kebutuhan dana untuk pembangunannya.

"Kami mendapat mandat untuk membangun akses ke Makassar New Port, rutenya nanti tergantung persetujuan pemerintah," jelasnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Menurut Danni, kendati jalan akses hanya 2 kilometer, pembangunannya terbilang menantang.

Pasalnya, jalan akses akan melalui beragam persimpangan dengan jalan bukan tol yang sudah ada.

Kendati begitu, dia berharap agar pembangunan jalan bisa selesai sebelum operasional penuh Makassar New Port pada 2019. (Rivki Maulana/Irene Agustine)

Tag : makassar, surabaya
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top