INVESTOR RITEL : Rekor Baru di Tengah Gejolak Pasar

Kabar positif hadir di pasar modal Indonesia pada Kamis (22/11). Otoritas bursa mencatat rekor baru pertumbuhan jumlah investor saham dalam negeri pada tahun ini. Ini merupakan angin segar bagi pasar modal di Tanah Air di tengah kondisi pasar yang secara umum masih terkonsolidasi.
Emanuel B. Caesario | 23 November 2018 02:00 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Kabar positif hadir di pasar modal Indonesia pada Kamis (22/11). Otoritas bursa mencatat rekor baru pertumbuhan jumlah investor saham dalam negeri pada tahun ini. Ini merupakan angin segar bagi pasar modal di Tanah Air di tengah kondisi pasar yang secara umum masih terkonsolidasi.

Per Senin (19/1), tercatat ada 200.935 single investor identification (SID). Angka tersebut tercatat sebagai capaian tertinggi sejak dibukanya kembali pasar modal Indonesia 41 tahun silam.

Kendati masih sangat banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh otoritas pasar modal Indonesia, capaian ini patut disyukuri. Kini, total investor saham di pasar modal Indonesia sudah mencapai 829.426 SID. Artinya, ada pertumbuhan 31,97% dibandingkan dengan akhir 2017.

Padahal, sepanjang tahun berjalan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terkoreksi 5,74% dan investor asing masih tercatat net sell Rp44,43 triliun sepanjang tahun.

Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa upaya edukasi dan literasi masyarakat terhadap investasi pasar modal tidak mudah. Namun, capaian tahun ini sudah melebihi target awal BEI, yakni 130.000, sehingga tergolong cukup sukses.

Menariknya, pertumbuhan investor generasi muda usia 18-25 tahun adalah yang tertinggi. Dalam 2 tahun terakhir, pertumbuhan jumlah investor muda tersebut mencapai 128% dan kini mencakup sekitar 30% dari total investor saham atau sekitar 250.000 SID.

Selain itu, konsentrasi investor di Pulau Jawa yang pada 3 tahun lalu mendekati 80%, turun signifikan menyentuh angka 73,7% pada Oktober 2018. Artinya, laju pertumbuhan jumlah investor baru di Pulau Jawa tidak secepat pertumbuhan jumlah investor di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur.

Dalam 2 hari terakhir saja, ungkap Hasan, sudah bertambah lagi sekitar 2.500 investor sehingga per Kamis (22/11), sehingga secara total sudah sekitar 832.000 SID. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan investor baru masih akan bertambah 40.000 SID.

“Dalam sehari, kira-kira bertambah hingga 1.500 SID. Mudah-mudahan dalam 20-25 hari kerja yang tersisa pada tahun ini bisa bertambah lagi 40.000 atau mendekati 250.000 total SID baru hingga akhir tahun,” katanya, Kamis (22/11).

Bila ditambah dengan investor reksa dana, total investor di pasar modal Indonesia hingga Senin (19/11) adalah 1,57 juta SID. Diperkirakan hingga akhir tahun, total investor akan saham dan reksa dana akan menembus antara 1,6 juta hingga 1,7 juta.

Aktivitas transaksi juga meningkat. Rata-rata investor aktif per bulan hingga akhir Oktober mencapai 126.240 SID, meningkat 27,8% dibandingkan dengan rata-rata 2017 yang sebanyak 98.718 SID per bulan, dan melonjak 114% dibandingkan dengan rata-rata 2015 yang hanya 58.970 SID per bulan.

Nilai transaksi harian juga meningkat dari yang tadinya antara Rp7,4 triliun hingga Rp7,5 triliun per hari pada tahun lalu, menjadi Rp8,3 triliun hingga Rp8,4 triliun per hari saat ini.

Peningkatan ini tidak terlepas dari efektivitas kampanye Yuk Nabung Saham yang dijalankan pasar modal Indonesia selama 3 tahun terakhir. Sepanjang tahun ini saja, BEI telah mengadakan tidak kurang dari 5.027 kegiatan edukasi dan sosialisasi pasar modal di seluruh Indonesia.

Faktor lain, antusiasme masyarakat untuk memiliki galeri investasi saham juga sangat tinggi. Hingga kini, sudah ada 410 galeri investasi yang tersebar di seluruh Indonesia, sudah melampaui target awal BEI yang hanya 400 galeri.

“Kita bahkan harus ‘mengerem’ laju pembukaan galeri investasi ini karena animo perguruan tinggi dan pusat keramaian untuk meminta anggota bursa dan BEI membuka galeri investasi ini sangat tinggi, tetapi di sisi lain ada keterbatasan sumber daya. Mudah-mudahan bisa 100 galeri lagi tahun depan,” katanya.

Inarno Djayadi, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, mengatakan penambahan jumlah investor yang signifikan ini juga didukung oleh para emiten yang turut berkontribusi menjaring investor baru dari kalangan karyawan masing-masing.

BEI memberikan penghargaan kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang berkontribusi tertinggi di antara 17 emiten lainnya. Hingga kini, emiten dengan kode BBRI tersebut sudah menyumbang sekitar 40.000 investor baru dan diperkirakan terus meningkat hingga 55.000 investor sampai dengan akhir tahun.

SEJUMLAH CATATAN

Kendati demikian, capaian ini bukan tanpa catatan. Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mengatakan bahwa bila mengingat jumlah penduduk Indonesia yang memiliki kemampuan investasi memadai yang mencapai lebih dari 100 juta penduduk, capaian ini masih jauh dari memuaskan.

Otoritas pasar modal masih harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalannya selama ini. Dia berharap, pada tahun-tahun mendatang, laju peningkatan ini dapat digenjot lebih tinggi lagi sebab ruang bagi pertumbuhan jumlah investor masih sangat tinggi.

Memang, meyakinkan masyarakat berinvestasi di pasar modal bukanlah pekerjaan mudah segampang mengajak mereka membuka rekening bank. Prosesnya tidak bisa instan. Oleh karena itu, proses edukasi harus dimulai sejak dini, bahkan di bangku SMP dan SMA.

“Nilai kapitalisasi pasar saham kita itu tumbuh 18% per tahun dalam 38 tahun terakhir, tetapi sayang bahwa itu tidak sepenuhnya dinikmati investor lokal tetapi asing. Peningkatan basis investor ini penting bagi upaya penyejahteraan masyarakat kita,” katanya.

Aria Santoso, pengamat pasar modal Indonesia, mengatakan pertumbuhan jumlah investor yang tinggi ini harus benar-benar diimbangi oleh edukasi dan pembiasaan secara intensif dan berkelanjutan.

Pasalnya, tidak jarang investor baru yang terjaring berasal dari kegiatan seminar atau pameran yang kurang memberikan edukasi secara mendalam. Investor baru ini kemungkinan justru tidak segera aktif berinvestasi setelah membuka rekening, apalagi investor baru dari kalangan milenial yang masih memiliki keterbatasan penghasilan.

“Kalau investor muda ini terus dididik dan dibiasakan, makin lama mereka akan makin berani karena pemahamannya makin baik. Size dan kualitas investasinya juga akan semakin meningkat,” katanya.

Aria sepakat bahwa penambahan jumlah investor pada tahun-tahun mendatang masih bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi sebab kampanye Yuk Nabung Saham yang sudah berjalan akan terus membuahkan hasil.

Bila mengingat jauhnya ketertinggalan pasar modal Indonesia, kegiatan literasi dan edukasi yang dilakukan otoritas bursa dan seluruh stakeholder terkait harus semakin tinggi lagi. Figur-figur publik yang sudah melek investasi perlu lebih banyak dilibatkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.

“Menurut saya, potensi pertumbuhan jumlah investor mencapai hitungan jutaan per tahun mestinya memungkinkan, hanya saja kita butuh sumber daya yang lebih banyak. Tokoh-tokoh yang bisa mengedukasi ini juga masih terbatas,” katanya.

Setelah jumlah investor terus bertambah, otoritas bursa harus bisa memastikan agar jangan sampai kepercayaan para investor ini terhadap pasar modal Indonesia tercederai karena berbagai praktik tidak terpuji di pasar modal.

Dia mendukung upaya-upaya otoritas bursa selama ini untuk meningkatkan kualitas pasar modal dan menambah variasi produk. Namun, otoritas bursa juga perlu menjaga pasar sebab tidak jarang masih banyak emiten yang cerdik memanfaatkan celah pasar untuk kepentingan pribadi tetapi berpotensi merugikan investor publik.

Tag : investor saham
Editor : Maria Yuliana Benyamin

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top