KECELAKAAN LION AIR JT-610 : Jasa Raharja Bayarkan Santunan Rp4,90 Miliar

JAKARTA - PT Jasa Rahara (Persero) menyerahkan total santunan sebesar Rp4,90 miliar kepada 100 ahli waris korban kecelakaan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610.
Reni Lestari & Dika Irawan | 22 November 2018 02:00 WIB

JAKARTA - PT Jasa Rahara (Persero) menyerahkan total santunan sebesar Rp4,90 miliar kepada 100 ahli waris korban kecelakaan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610.

Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo mengatakan setiap ahli waris dari para korban menerima santunan kematian masing-masing sebesar Rp50 juta.

Besaran santunan kematian tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/2017 tentang Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang, Alat Angkutan Penumpang Umum di Darat, Sungai atau Danau, Feri atau Penyeberangan, Laut, dan Udara.

Sementara itu, dua korban anak-anak hanya mendapatkan biaya penguburan masing-masing Rp4 juta karena ahli waris atau orang tua kandungnya turut menjadi korban dalam kecelakaan nahas tersebut.

"Dari 100 ahli waris tersebut, sebanyak 98 di antaranya sudah kami serahkan secara langsung ke rekening masing-masing, total Rp4,9 miliar," ujar Budi, Rabu (21/11).

Adapun tim Disaster Victim Identification (DVI) sampai hari ini telah mengidentifikasi sebanyak 107 jenazah korban kecelakaan. Namun demikian, Jasa Raharja telah mengantongi 188 data keahliwarisan korban, termasuk awak pesawat sebanyak 7 jiwa.

Dari 189 korban, Jasa Rharja telah mengantongi 188 data keahliwarisan . Satu-satunya data keahliwarisan yang belum diketahui dan masih dalam proses pencarian yakni korban warna negara asing asal Italy atas nama Andrea Manfredi. Sebanyak 186 data keahliwarisan sudah lengkap sementara dua lainnya masih dalam proses pelengkapan berkas.

Dia juga menjelaskan, 7 ahli waris dari korban yang telah teridentifikasi, belum menerima santunan karena terganjal sejumlah kendala, antara lain 1 korban memiliki 2 orang istri dan 1 orang ahli waris berada di lembaga pemasayarakatan.

"Kemudian yang 4 orang belum ikhlas untuk menerima perlindungan santunan dasar dari pemerintah, kami tidak memaksakan karena kami juga berempati," katanya.

Budi juga menegaskan, bagi warga negara asing yang menjadi korban dalam kecelakaan ini, termasuk pilot pesawat atas nama Bhavye Suneja yang berkebangsaan India, akan mendapat santunan dengan besaran yang sama.

"Untuk warga negara asing, santunannya sama, karena diatur dalam PMK sebesar Rp50 juta. Dan kami sudah beberapa kali menyampaikan santunan kepada WNA, karena yang dilindungi pemerintah adalah semua WNI dan WNA yang berada di Indonesia, mereka mendapatkan perlindungan dasar ini," jelasnya.

Sementara itu Budi juga menegaskan, bagi para korban yang belum teridentifikasi maupun tidak ditemukan, Jasa Raharja akan tetap membayarkan santunan kepada ahli waris korban. Hal itu berkaitan dengan rencana tim DVI untuk menutup proses identifikasi pada Jumat 23 November 2018.

Proses identifikasi tersebut diketahui menyisakan 24 sample DNA yang menunggu hasil pencocokan data ante mortem dan post mortem. Dengan tersisanya 24 sample DNA ini, tidak menutup kemungkinan ada jenazah yang nantinya tidak teridentifikasi.

Sementara itu, PT Equity Life Indonesia (Equity Life) secara simbolis menyerahkan klaim asuransi senilai Rp100 juta kepada PT Amas Interconsult dan Liyanah, ahli waris sekaligus istri korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, Darwin Harianto.

Almarhum adalah salah satu nasabah yang diproteksi oleh Equity Life dari sejumlah karyawan PT Amas Interconsult yang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat. Sedangkan, perusahaan tersebut bertindak sebagai pemegang polis. Dalam hal ini, PT Amas Interconsult memproteksi karyawannya dengan program Pro Whole Life. Salah satu produk dari Equity Life.

Samuel Setiawan, Presiden Direktur Equity Life mengatakan, penyerahan santunan ini merupakan bukti komitmen Equity Life untuk selalu memberi rasa aman, tenang dan nyaman bagi seluruh nasabah. Setiap produk yang disediakan, diharapkan menjadi solusi perlindungan dan perencanaan keuangan yang bisa memastikan kelangsungan masa depan keluarga lebih baik.

“Segenap keluarga besar Equity Life mengucapkan turut berdukacita kepada keluarga Almarhum Bapak Darwin Harianto. Semoga santunan ini bermanfaat bagi keluarga yang ditinggalkan,” katanya.

Samuel mengatakan, pemegang polis dan ahli waris memberikan apresiasi yang tinggi atas kinerja Equity Life terhadap respon yang cepat terkait proses klaim. Dalam waktu 2 hari setelah pengajuan klaim, santunan senilai Rp100 juta sudah langsung cair dan dibayarkan kepada Liyanah dan PT Amas Interconsult sebagai ahli waris.

Dia menambahkan, Equity Life siap membayarkan kewajiban klaim kepada seluruh ahli waris dari nasabah yang menjadi korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610. “Secara proses, kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang cepat dan mudah lewat Program Jet Claim kami, sehingga tentunya memudahkan keluarga yang ditinggalkan. Bagi kami, nasabah merupakan hal utama dan harus dipastikan mendapatkan pelayanan terbaik,” katanya. (Reni Lestari/Dika Irawan)

Tag : lion air, jasa raharja, equity life
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top