EDITORIAL : Menghadap Laut, Menjaganya Juga

Bagi negeri kepulauan seperti Indonesia --dengan duapertiga wilayah adalah lautan—ajakan untuk menghadap laut adalah pilihan sangat masuk akal dan relevan.
Redaksi | 01 November 2018 02:00 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kiri) dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat prosesi serah terima penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) kepada Norwegia di Nusa Dua, Bali, Selasa (30/10/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Kita tidak bisa memunggunginya lagi, dan mengabaikan kehidupan laut begitu saja. Laut, adalah sumber alam sangat berharga.

Namun, sebagai salah satu sumber rantai kehidupan manusia, saat ini kelestarian laut dinilai mengkhawatirkan. Salah satunya karena begitu banyak sampah plastik di laut, sumber pencemaran. Banyak yang memperkirakan pada 2050, jumlah sampah plastik yang berada di laut jumlahnya akan melebihi populasi ikan.

Media banyak mengabarkan, betapa plastik telah merusak biota laut, bahkan kehidupan burung-burung camar, yang tanpa sengaja menelan plastik. Burung-burung ini tak bisa membedakan ikan dan plastik, ketika mencari makan.

Di lautan, sampah plastik akan terurai menjadi mikroplastik. Ikan-ikan di laut yang kerap kita konsumsi, akan memakan mikroplastik tersebut. Ïni tentunya sangat membahayakan diri kita sendiri, karena kita makan ikan yang mengandung mikroplastik.

Hanya saja, kita saat ini berhadapan dengan sebuah siklus plastik yang linear, membuat, menggunakan dan membuang. Padahal, yang kita perlukan saat ini adalah sebuah siklus tak terputus layaknya sebuah lingkaran, di mana plastik yang dibuat, digunakan, dibuang, lalu didaur ulang.

Siklus yang tak terputus ini penting untuk menekan volume sampah plastik yang terus meningkat. Plastik sudah layaknya laknat bagi bumi, tidak terurai di daratan, apalagi di lautan. Semua pihak tahu masalahnya, tapi seolah buntu untuk bertindak seperti apa.

Selain itu, banyaknya aktivitas penangkapan ikan ilegal juga menjadi ancaman bagi kelestarian laut. Pelaku penangkapan ilegal dan merusak kerap kali menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, sehingga mencemarkan ekologi laut.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, 93% ikan di Indonesia dieksploitasi berlebihan oleh alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Sejauh ini Indonesia telah melakukan upaya untuk melindungi lautan dengan berperang melawan illegal fishing, dengan menenggelamkan 488 kapal pelaku kejahatan tersebut.

Nah, memerangi sampah plastik dan penangkapan ikan ilegal ini sama pentingnya. Namun, tanpa ada ada illegal fishing sekalipun, plastik akan secara sistemik mencemari populasi ikan dalam jumlah besar. Ikan yang tak layak konsumsi, sia-sia juga bagi manusia.

Memerangi plastik di lautan adalah sebuah ikhtiar luar biasa dalam menjaga kelestarian laut kita. Perairan yang terhubung antar wilayah negara, memerlukan sebuah koordinasi yang kuat antar pihak, juga kolaborasi.

Sejauh ini, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyiapkan peta jalan untuk mereduksi produksi kemasan plastik sampai dengan 2025. Peta jalan tersebut akan diperkuat dengan peraturan menteri tentang sampah spesifik yang saat ini masih dalam tahap diskusi.

Indonesia punya strategi nasional dan daerah di mana pada 2025 ditargetkan 30% pengurangan sampah dan 70% penanganan sampah plastik. Mengurangi produksi dari hulu, sama artinya mencegah peredaran sampah sampai ke laut.

Perhelatan Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Nusa Dua Bali yang digelar awal pekan ini dan berhasil mengumpulkan 287 komitmen nyata, dengan nilai lebih dari 10 miliar dolar AS dan menciptakan 14 juta kilometer persegi Kawasan Konservasi Laut patut diapresiasi. Kolaborasi terbukti efektif dalam mencapai tujuan besar menjaga kelestarian alam.

Hanya dengan laut yang lestari, maka kita bisa bicara bagaimana mengelola sumberdaya laut secara berkelanjutan. Sebab laut bukan semata-mata untuk kita, tetapi adalah warisan anak cucu kita. Ini sebuah adagium klise, namun selalu relevan.

Tantangan kita ke depan adalah bagaimana langkah menghadap ke laut diikuti kesadaran untuk menjaga kelestariannya. Laut bagi masyarakat Indonesia adalah bagian penting kehidupan, sekaligus sumber makanan krusial, ketika sejumlah wilayah laut di beberapa belahan dunia sudah terlanjur rusak dan tak lagi dihuni ikan.

Tag : kelautan
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top