Bertemu Jokowi, Presiden ADB Siapkan Pinjaman US$1 Miliar Bantu Korban Bencana Sulteng

Asian Development Bank (ADB) sudah menyiapkan dana sebesar US$500 juta guna membantu rehabilitasi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.
Rinaldi Mohammad Azka | 12 Oktober 2018 16:43 WIB
Presiden Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao - Ilustrasi/www.adb.org

Bisnis.com, NUSA DUA — Asian Development Bank (ADB) sudah menyiapkan dana sebesar US$500 juta guna membantu rehabilitasi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

ADB bahkan telah mengalokasikan tambahan dana US$500 juta untuk berjaga-jaga jika Indonesia membutuhkan tambahan bantuan.
 
Presiden ADB Takehiko Nakao mengikrarkan bantuan darurat senilai hingga US$1 miliar untuk mendukung penanganan dan upaya rekonstruksi di daerah terdampak secepat mungkin. Hal ini diungkapkannya saat bertemu Presiden Joko Widodo di sela-sela Annual Meetings IMF-World Bank Group (WBG) 2018, di Nusa Dua, Bali.

Pinjaman tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rekonstruksi infrastruktur yang sangat penting, termasuk pasokan air dan sanitasi, sekolah, jalan dan jembatan, serta jaringan listrik. Bantuan ini di luar dari program pinjaman reguler ADB bagi Indonesia, yang rata-rata mencapai US$2 miliar setiap tahunnya.

Pinjaman bantuan darurat ADB akan disiapkan lewat berkoordinasi dengan pemerintah, masyarakat yang terdampak, dan para pemangku kepentingan lainnya, serta diproses secara cepat untuk dapat segera disetujui Dewan Direktur ADB.
 
Pinjaman tersebut akan memiliki ketentuan khusus berupa masa tenggang 8 tahun dan masa pembayaran kembali selama 32 tahun, lebih lama daripada biasanya. ADB juga akan memberi bantuan teknis guna mendukung kajian kebutuhan kerusakan yang dipimpin pemerintah dan perencanaan pemulihan serta rekonstruksi.
 
Dalam pertemuannya dengan Jokowi, Nakao memuji manajemen makroekonomi Indonesia yang baik. Dia menekankan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia sebagaimana ditunjukkan dengan proyeksi kuatnya tingkat pertumbuhan PDB pada 5,2% dan tingkat inflasi yang stabil di level 3,4% pada 2018.
 
Menurut Nakao, defisit transaksi berjalan sekitar 2,5% masih terkelola dan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal pada sekitar 2% dari PDB patut diapresiasi. Cadangan devisa tetap dijaga pada tingkat yang cukup dan Indonesia mendapatkan peringkat layak investasi di pemerintahan ini.
 
 “Depresiasi terhadap rupiah adalah karena dorongan spekulasi, karena posisi makroekonomi Indonesia secara keseluruhan masih kuat,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (12/10/2018).

Pada Senin (8/10), ADB telah menyetujui hibah darurat senilai $3 juta yang berasal dari Dana Tanggap Bencana Asia Pasifik (Asia Pacific Disaster Response Fund) ADB untuk mendukung upaya pemberian bantuan dengan segera di Sulawesi Tengah (Sulteng).
 
Dalam pertemuan tersebut, ADB menegaskan dukungan terhadap Indonesia melalui pinjaman proyek di berbagai sektor termasuk energi, pengembangan keterampilan, irigasi, dan pengembangan kawasan perbatasan, serta pinjaman berbasis kebijakan dengan matriks kebijakan untuk mendukung manajemen sektor publik dan iklim investasi.

Selain pinjaman pada pemerintah, operasi sektor swasta ADB menyediakan pinjaman pada proyek-proyek sektor swasta yang strategis termasuk energi panas bumi.
 
ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, sambil melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 anggota.

Pada 2017, operasi ADB mencapai US$32,2 miliar, termasuk US$11,9 miliar dalam bentuk pembiayaan bersama atau kontijensi.

Tag : adb, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top