14 Hari Pascagempa, Warga Kecamatan Dolo Selatan Sigi Andalkan Api Unggun

PT PLN (Persero) telah menjanjikan aliran listrik akan segera pulih di seluruh kawasan terdampak gempa bumi di Sulawesi Tengah (Sulteng). Namun, nyatanya empat belas hari pascagempa mengguncang Tanah Kaili, sejumlah daerah sama sekali belum teraliri listrik.
Andini Ristyaningrum | 12 Oktober 2018 09:37 WIB
Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan - Antara

Bisnis.com, MAKASSAR - PT PLN (Persero) telah menjanjikan aliran listrik akan segera pulih di seluruh kawasan terdampak gempa bumi di Sulawesi Tengah (Sulteng). Namun, nyatanya empat belas hari pascagempa mengguncang Tanah Kaili, sejumlah daerah sama sekali belum teraliri listrik.

Salah satunya di Desa Baluase, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulteng. Warga setempat hanya memanfaatkan kayu bakar dan pelita dengan bahan bakar seadanya. Warga yang memasang tenda darurat di depan rumah hanya diterangi api unggun.

"Setelah gempa kemarin belum pernah ada lampu nyala di sini. Ini cuma pakai api unggun saja sama pelita," kata Erik Syahrir Warga Desa Baluase, Kamis (11/10/2018)

Ada pula warga yang memilih tinggal di tenda darurat yang dipasang di lapangan desa. Kebanyakan dari warga tersebut masih merasa trauma untuk kembali ke rumah. Terlebih guncangan masih seringkali terasa pasca gempa bumi bermagnitudo 7,4 SR 28 September lalu.

Erik juga mengatakan biasanya warga juga  menggunakan mesin generator untuk penerangan. Namun, itu dilakukan jika hanya dalam keadaan mendesak saja, sebab bahan bahar yang terbatas harus digunakan dengan hemat.

"Itu saja kalau kita salat maghrib dan isya di masjid, kita pakai lampu motor untuk penerangan," tutur Erik.

Suasana Desa Baluase pada malam hari terasa lebih mencekam. Belum lagi jika hujan mengguyur, api unggun tak bisa dinyalakan lagi. Tak banyak yang bisa dilakukan warga setempat selain menunggu kepastian dari pemerintah 

"Ini saja bantuan logistik nanti berapa hari setelah kejadian baru ada bantuan. Bantuan dari swasta lebih cepat daripada pemerintah, " terang Erik.

Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya di satu titik saja tetapi juga melihat sejumlah daerah yang terdampak gempa. Berdasarkan data BNPB hingga Kamis (11/10/2018) jumlah rumah rusak di Kabupaten Sigi mencapai 897 unit.

 

Tag : listrik, Gempa Palu
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top