Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018: BI Akui Fenomena Super Dolar

Bank sentral mengakui fenomena super dolar berhasil menekan banyak mata uang tidak hanya negara berkembang, tetapi juga negara maju. 
Hadijah Alaydrus | 09 Oktober 2018 14:47 WIB
Dolar AS. - Bloomberg

Bisnis.com, NUSA DUA - Bank sentral mengakui fenomena super dolar berhasil menekan banyak mata uang tidak hanya negara berkembang, tetapi juga negara maju. 

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo melihat sepanjang ketegangan perdagangan atau trade war masih berlangsung, investor akan mencari safe haven di luar. Dengan demikian, likuditas dolar semakin mengetat dan harganya meningkat. 

"Inilah hebatnya super dolar. Dalam kondisi negaranya maju, semua memilih dolar," tegas Dody di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-WB di Bali, Selasa (9/10).

Rupiah terhadap dolar sore ini, 15.34 WITA, Selasa (9/10), melemah 0,21% ke level Rp15,249 per dolar AS. Per 8 Oktober 2018, rupiah telah melemah sebesar 10,93% (ytd) terhadap dolar AS.

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melanjutkan kebijakan moneternya yang pre emptive dan ahead the curve. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut akan ditempuh bank sentral untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top