PASOKAN JAGUNG : Menimbang Opsi Dekati Produsen

Tingginya harga jagung di tingkat konsumen dalam beberapa minggu terakhir di saat produksi diklaim surplus membuat pemerintah mengeluarkan imbauan agar industri mau mendekati sentra-sentra produksi komoditas itu alias bergeser ke luar Jawa.
Pandu Gumilar | 02 Oktober 2018 02:00 WIB

Tingginya harga jagung di tingkat konsumen dalam beberapa minggu terakhir di saat produksi diklaim surplus membuat pemerintah mengeluarkan imbauan agar industri mau mendekati sentra-sentra produksi komoditas itu alias bergeser ke luar Jawa.

"Kami ingin bahwa investasi bergerak ke wilayah yang stabil usahanya. Kalau hanya terfokus di sini [Jawa] pembangunan tidak merata. Kami berharap, sambil mereka [pengusaha] melakukan relokasi usaha, [regulator] melakukan perbaikan infrastruktur agar pengangkutan lebih efisien," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto, Senin (1/10).

Menurutnya daripada produsen pakan ternak atau peternak mengeluh perihal harga jagung yang mahal di Jawa akan lebih baik mereka membuka pasar di luar Jawa.

Gatot menambahkan, sentra produksi jagung tidak terkonsentrasi di Jawa, misalnya, di Sulawesi Utara yang menjadi sentra produksi baru jagung dapat menjadi solusi untuk mendapatkan sumber bahan pakan yang lebih murah.

Hanya saja diakui olehnya, infrastruktur logistik disana tidak terlalu baik jika membidik pasar domestic sehingga hasil produksi didorong untuk ekspor.

"Kami juga paham [keinginan] peternak layer dan asosiasi, kami juga fasilitasi untuk datang ke Maluku agar mereka beli ke sana dengan harga murah. Mereka biasa beli di depan pintu, dan saat beli di beda pulau, butuh nyali," katanya.

Menurutnya selain menggenjot produksi atau ketersediaan secara linear, keterjangkauan antara industri dengan produsen pun harus diperhatikan untuk mendapatkan harga yang kompetitif.

Ditjen Tanaman Pangan memperkirakan produksi jagung tahun ini mencapai 30 juta ton pipilan kering. Di sisi lain, perkiraan kebutuhan jagung tahun ini mencapai 15, 5 juta ton pipilan kering, alias ada surplus sebesar 12,98 juta ton.

Selain itu, regulator juga sudah mendistribusikan benih jagung untuk lahan seluas 2,8 juta ha dan sarana pascapanen kurang lebih 52.324 unit berupa combine harvester, dryer, corn sheller dan corn combine harvester untuk meningkatkan kualitas dan menekan biaya produksi.

Adapun, rata-rata perkembangan harga jagung pipilan kering di tingkat petani sejak Januari sampai September 2108 cenderung meningkat. Harga tertinggi terjadi pada September yakni sebesar Rp4.144 per kg.

Padahal, berdasarkan Permendag No. 58 tahun 2018 tentang Penetapan Harga Acuan di Petani dan Harga Acuan di Konsumen, jagung dengan kadar air 15% ditetapkan Rp3.150/kg, sedangkan harga acuan di konsumen Rp4.000/kg.

Adapun, jagung kadar air 20% dijual Rp 3.050 per kg, jagung kadar air 25% Rp 2.850 per kg, jagung kadar air 30% Rp 2.750 per kg dan jagung kadar air 35% Rp 2.500 per kg.

BANYAK PERTIMBANGAN

Imbauan pemerintah itu ditanggapi dingin oleh pelaku usaha peternakan unggas maupun pakan ternak. Pasalnya, infrastruktur, logistik, serta serapan hasil produksi menjadi pertimbangan utama.

Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Sudirman mengatakan tanpa diminta pun sebenarnya industri pakan sudah menyebar ke daerah-daerah di luar Jawa, seperti Sulawesi Selatan, Lampung, hingga Sumatra Barat.

"Di Jawa pun sudah tidak terkonsentrasi di Banten dan Jawa Timur saja kok. Sekarang sudah berkembang di daerah baru seperti Cirebon, Batang dan Grobogan," katanya pada Senin (1/10).

Sudirman mengatakan daerah-daerah yang sudah dia sebutkan merupakan sentra produksi jagung, dan sudah mulai dibangun peternakan juga.

Namun, Sudirman menjelaskan bahwa terdapat dua pertimbangan utama untuk membangun industri pakan ternak dan peternakan di suatu wilayah.

Pertama, harus dekat dengan sumber bahan baku, bukan jagung saja karena jagung paling hanya memenuhi 50% kebutuhan komponen produksi. Ada bahan baku yang harus diimpor jadi industri harus dekat dengan pelabuhan berikut akses infrastrukturnya.

Kedua, harus dekat dengan konsumen. "Bila di suatu lokasi ada peternakan maka di situ ada industri pakan ternak. Biasanya peternakan ayam tumbuh baik kalau di situ ada produksi jagung. Namun yang perlu digaris bawahi pertumbuhan peternakannya lebih cepat daripada pertumbuhan jagungnya."

Menurutnya, setidaknya pada satu daerah itu penduduknya minimal 2 juta—3 juta jiwa sehingga industri peternakan dan pakan bisa tumbuh baik.

Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan membangun peternakan di sentra produksi mungkin saja tapi perlu dipertimbangkan juga soal serapannya.

"Membangun di Kolaka, Sulawesi Tenggara mungkin saja, tapi pasarnya kecil. Kalau tidak ada serapan mau jual kemana? Kami buat peternakan, agar harga tidak jatuh ya harus perhitungkan serapan juga," katanya.

Singgih mengatakan menciptakan pasar baru mungkin saja dilakukan tapi memerlukan biaya produksi tinggi terutama untuk operasional peternakan. Di sisi lain, pasar Jabodetabek sudah aman karena pasar membutuhkan ayam sekitar 2 juta—3 juta ekor per hari. "Kebutuhan ayam dan telur Jawa itu serap 60% produksi nasional. Tidak mungkin relokasi."

Ya, pemerintah selaku regulator memang harus mulai mencari strategi jitu untuk mengatasi masalah pasokan jagung bagi kebutuhan industri domestik untuk menjaga keberlanjutan di sisi hilir setelah opsi impor jagung telah dipangkas secara signifikan. Kejadian bahwa harga jagung di tingkat konsumen mahal di tengah klaim surplus produksi seyogyanya tak lagi terjadi di masa depan.

Tag : jagung, pakan ternak
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top