KOMODITAS TELUR : Peternak Blitar Minta Revisi Harga Acuan

BLITAR — Peternak ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, meminta pemerintah dapat segera merevisi harga acuan terkait dengan tren terus menurunnya harga telur, yang merupakan salah satu komoditas pangan tersebut.
k24 | 26 September 2018 02:00 WIB
ilustrasi. - JIBI/Nurul Hidayat

BLITAR — Peternak ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, meminta pemerintah dapat segera merevisi harga acuan terkait dengan tren terus menurunnya harga telur, yang merupakan salah satu komoditas pangan tersebut.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Blitar Sukarman mengatakan harga acuan telur yang ditetapkan pemerintah dengan ketentuan harga terbawah Rp17.000/kg dan Rp19.000/kg sudah tidak lagi memadai.

“Dengan kenaikan harga pakan yang tinggi, maka harga acuan telur terbawah mestinya Rp19.000/kg,” katanya saat menerima kunjungan kerja TPID [tim pengendalian inflasi daerah] Provinsi Sulawesi Barat di Blitar, Selasa (25/9).

Begitu juga dengan harga day old chicken (DOC). Saat ini harga DOC mencapai Rp10.000/ekor, naik tajam bila dibandingkan dengan 3 pekan sebelumnya yang mencapai Rp6.000/ekor.

Harga pakan naik dari Rp4.800/kg menjadi Rp5.800/ekor. Secara teori, setiap kenaikan harga pakan sebesar Rp100/kg, idealnya diikuti dengan kenaikan harga telur Rp300/kg.

Dengan harga pakan sebesar itu maka kenaikan harga telur mestinya mencapai Rp3.000/kg. “Karena itulah harga acuan saat ini sudah tidak cocok di lapangan dan harus direvisi,” ujarnya.

Yang lebih memprihatinkan, kata dia, dengan kenaikan DOC dan pakan maka harga telur semestinya naik lebih tinggi. Namun, saat ini, harga telur justru turun tajam menjadi Rp15.600—Rp16.000 per kg lebih rendah daripada harga sepekan sebelumnya yang mencapai Rp16.500—Rp17.000 per kg.

Padahal, untuk memperoleh keuntungan, setidaknya harga telur mencapai Rp19.000/kg karena harga pokok produksinya mencapai Rp18.000/kg.

Dia menduga, turunnya harga telur terkait dengan peningkatan produksi. Hal itu terjadi karena adanya kenaikan produksi sebagai dampak dari penggantian ayam petelur afkir yang dijual pada Lebaran lalu.

Saat ini, ayam pengganti ayam afkir berada pada puncak produksi. Rerata produksi telur dalam 2 pekan terakhir di Blitar mencapai 800 ton/hari, padahal saat normal produksi telur di kisaran 450—600 ton saja.

Padahal peternak sudah mematuhi imbauan pemerintah mengurangi masa produksi ayam dari 24 bulan menjadi 22,5 bulan.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto berharap pemerintah hadir mengatai permasalahan yang dialami peternak ayam petelur dengan mendatangkan jagung sebagai pakan utama ayam.

Dengan kebijakan tersebut, maka harga jagung menjadi terjangkau peternak dan dapat menekan ongkos produksi. Dengan proses produksi yang efisien, maka peternak masih bisa memperoleh untung saat harga telur turun.

Untuk keperluan itu, pemerintah tidak harus melakukan ekspor jagung, tetapi bisa mendatangkan jagung dari produsen jagung.

Dengan cara itu, selain dapat memberikan akses pasar bagi petani, pemerintah juga tidak perlu melakukan impor jagung yang bisa berdampak mengganggu cadangan devisa.

Yang juga bisa dilakukan pemerintah, melakukan operasi pasar untuk membeli telur dari peternak.

“Jangan hanya saat harga telur naik pemerintah bereaksi untuk menurunkan harga dan selalu berhasil. Giliran harga telur tajam pemerintah juga harus bersikap,” kata Sukarman.

Kasie Bina Usaha Dinas Peternakan Kab. Blitar Indriawan mengakui yang juga mengalami penurunan harga selain telur juga daging ayam broiler. Harga bahan pangan tersebut turun menjadi Rp15.000/kg di tingkat peternak, sedangkan 2 pekan lalu harganya masih Rp17.500—Rp18.000 per kg.

Terkait dengan turunnya harga telur dan ayam broiler, menurut dia, karena gejala tahunan. Intinya, setiap sura (dalam penanggalan Jawa), kegiatan pernikahan tidak ada sehingga permintaan telur menurun.

Karena itulah, gejala tersebut hanya bersifat sesaat. Adapun produksi ayam broiler di Blitar, mencapai 1,42 juta/kuartal.

Menurut dia, dampak penurunan harga terutama dirasakan peternak ayam petelur, sedangkan peternak ayam broiler lebih banyak bermitra sehingga harga ayam di tingkat peternak menjadi relatif stabil.

Tag : telur, telur ayam
Editor : Roni Yunianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top