IPAL Komunal Industri Tahu di Sragen Tak Berfungsi Optimal

Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang dibangun di areal seluas 260 m2 milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen tak berfungsi optimal.
Tri Rahayu | 27 Agustus 2018 07:52 WIB
Bangunan IPAL komunal menempati lahan milik Pemkab Sragen seluas 260 m2 di wilayah Kampung Teguhan RT 009/RW 003, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, Minggu (26/8). - JIBI/Tri Rahayu

Bisnis.com, SRAGEN — Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang dibangun di areal seluas 260 m2 milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen tak berfungsi optimal.

Air limbah yang keluar dari IPAL tersebut ke Sungai Garuda bukan cairan bening tetapi berupa cairan yang masih bercampur limbah bewarna keputih-putihan.

Sementara sejumlah pelaku industri tahu lainnya ada yang langsung membuang limbah ke sungai. Limbah yang tidak diolah tersebut menyebabkan pencemaran air Sungai Garuda dan menyebabkan bau yang tidak sedap.

Ketua RT 008/RW 003, Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, Triyanto Dibyo Martono, saat ditemui Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di kediamannya, Minggu (26/8), menyampaikan Teguhan merupakan sentra industri tahu berskala rumah tangga sejak zaman Jepang.

Jumlah pelaku industri tahu di lingkungan RT 008, sebut dia, paling banyak, yakni 25-30 orang. Pelaku industri tahu lainnya, kata dia, berada di lingkungan RT 009/RW 003 yang jumlahnya sekitar 17 orang.

Pada tahun 1995, Triyanto menyampaikan limbah industri tahu Teguhan sudah dikelola dengan IPAL komunal yang dibangunkan pemerintah di wilayah RT 009. Semua pengusaha tahu itu, kata dia, membuang limbahnya lewat IPAL tersebut.

Jarak IPAL dengan para pengusaha di lingkungan RT 008, kata dia, relatif jauh sehingga membutuhkan instalasi saluran limbah.

“Sepertinya instalasi saluran limbah ke IPAL itu rusak sehingga banyak pengusaha tahu yang terpaksa membuang limbah ke sungai dan ada yang masih ke IPAL,” ujarnya.

Triyanto ingat sekitar 4-5 bulan lalu ada petugas dari Pemkab Sragen yang survei IPAL tetapi tindak lanjutnya belum tahu sampai sekarang. Triyanto berharap untuk mengatasi problem limbah industri tahu dibutuhkan IPAL komunal dalam ruang lingkup kecil.
“Misalnya 5-6 pengusaha tahu dibuat satu IPAL. Kemudian kelompok pengusaha tahu lainnya juga dibuatkan satu IPAL lagi. Nantinya ada IPAL komunal kecil-kecil sehingga tidak menimbulkan bau dan pencemaran lingkungan,” harapnya.

Seorang pekerja di industri tahu di lingkungan RT 009/RW 003 Teguhan, Paryanto, 45, mengatakan sejumlah pengusaha industri tahu termasuk miliknya membuang limbah lewat IPAL yang ada. Ketika melihat air limbah yang keluar ke sungai, Paryanto tak bisa berkata banyak karena memang kondisinya masih seperti itu.

“IPAL ini pernah dibongkar dan diperbaiki lima tahun lalu. IPAL ini memang menempati tanah milik Pemkab Sragen. Pembangunannya sudah lama,” katanya.

Sumber : JIBI/Solopos

Tag : sragen, limbah
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top