PARIWISATA DI AREA KONSERVASI : KLHK Kaji Pembatasan Pengunjung

JAKARTA— Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah menggodok kebijakan terkait wacana pembatasan dan pengetatan aturan kunjungan wisatawan ke sejumlah lokasi wisata yang berada di kawasan konservasi.
Juli Etha Ramaida Manalu | 10 Agustus 2018 02:00 WIB

JAKARTA— Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah menggodok kebijakan terkait wacana pembatasan dan pengetatan aturan kunjungan wisatawan ke sejumlah lokasi wisata yang berada di kawasan konservasi.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem KLHK Wiratno Selain untuk menjaga dan memastikan keselamatan para wisatawan, hal ini juga bertujuan untuk menjaga kelestarian kawasan wisata yang masuk dalam area konservasi tersebut.

Tak hanya pengunjung, arahan juga akan diberikan pada para operator atau pengusaha wisata di sekitar kawasan. “Kita akan melakukan tindakan-tindakan sama seperti di [Gunung] Rinjani ya, kita lakukan pembatasan. Di Rinjani itu pengunjungnya 80.000 orang per tahun dengan separuhnya orang asing,” katanya, Kamis (9/8).

Wiratno menyebutkan, pihaknya tidak setuju akan target jumlah wisatawan tinggi yang ditetapkan untuk sejumlah destinasi wisata di area konservasi.

Menurutnya, kegiatan wisata di area-area yang termasuk dalam kawasan konservasi harusnya lebih tersegmen dan memastikan adanya unsur edukasi seperti briefing atau arahan yang diberikan pada pengunjung terkait situasi tujuan wisata serta hal-hal yang diperbolehkan serta tidak diperbolehkan.

Dia menekankan bahwa konsep wisata mass tourism, tidak cocok untuk area-area ini. Untuk itu, pihaknya akan melakukan evaluasi atas 23 gunung yang menjadi tujuan mendaki favorit bagi wisatawan.

Evaluasi itu juga mencakup kawasan konservasi seperti Taman Nasional Komodo yang salah satu areanya, yakni Gili Lawa Darat mengalami kebakaran baru-baru ini dan diduga akibat ulah para pengunjung.

“Target wisatawan Indonesia yang dibebankan ke kawasan konservasi itu, it’s not fair. Itu tidak bisa, karena ini limited, bukan membiarkan ribuan orang ombyo’an selfie.Saya tidak setuju dengan target wisatawan yang besar besaran. Itu bukan [untuk diterapkan] di kawasan konservasi. Area konservasi ini very segmented and limited tourism, ini yang disebut eco tourism,” tegasnya.

Untuk itu, dia menambahkan khusus untuk kawasan Taman Nasional Komodo, selain membatasi jumlah pengunjung, pihaknya berencana memperketat pengawasan dengan dilakukan patroli.

Saat ini, jumlah pengunjung Taman Nasional Komodo sendiri tercatat mencapai 10.000 kunjungan per bulan. Rencananya, jumlah ini akan dibatasi dan diturunkan hingga setengahnya, tetapi angka ini masih dalam pembahasan lebih lanjut.

Adapun untuk 23 gunung yang menjadi lokasi tujuan pendakian favorit dan berada di kawasan konservasi, selain membatasi jumlah pengunjung, pihaknya juga akan mengupayakan adanya sistem evakuasi penyelamatan, sistem penjagaan, dan syarat yang sangat ketat untuk bisa mendaki.

Pembahasan terkait batasan dan hal-hal lainnya akan dilakukan bersama dengan pihak-pihak terkait juga para pakar.

Pembahasan terkait pembatasan dan sejumlah ketentuan lainnya ini, diharapkan bisa selesai tahun ini untuk kemudian diterapkan secepatnya. (Juli E.R.Manalu)

Tag : pariwisata, kawasan konservasi
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top