PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK : PLN Buka Tender PLTU 500 MW di Papua

JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berencana membangun pembangkit listrik tenaga uap dengan total kapasitas 500 megawatt (MW) di Papua.
Denis Riantiza M. | 10 Agustus 2018 02:00 WIB

JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berencana membangun pembangkit listrik tenaga uap dengan total kapasitas 500 megawatt (MW) di Papua.

Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PLN Ahmad Rofik mengatakan bahwa rencana pengadaan atau lelang proyek tersebut baru akan dilakukan setelah 2022.

“Setelah 2022 hampir 500 MW [megawatt] PLTU yang akan kami tenderkan di Papua,” ujar Rofik kepada Bisnis, baru-baru ini.

Dia menuturkan bahwa total kapasitas PLTU 500 MW tersebut akan dibangun tersebar di 10 lokasi dengan besaran yang berbeda-beda. Besaran kapasitas tiap pembangkit akan mengikuti tingkat kebutuhan beban listrik wilayah tersebut.

Saat ini, sebagian besar pembangkit listrik di Papua berbahan bakar gas. Pembangunan PLTU di Papua tersebut bertujuan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik PLN karena ongkos produksi pembangkit berbahan batu bara lebih murah dibandingkan dengan gas.

Di sisi lain, kata Rofik, potensi tambang batu bara di Papua ternyata juga cukup banyak meskipun batu bara yang dihasilkan jenis batu bara berusia relatif muda. Nantinya, PLN akan menyesuaikan desain pembangkit dan boiler dengan jenis batu bara tersebut.

Selain itu, PLN tengah menyelesaikan proses lelang pembangkit listrik dengan total kapasitas 60—100 MW untuk memenuhi kebutuhan listrik wilayah Maluku dan Papua. Pembangkit yang dilelang tersebut berbahan bakar gas atau pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) yang tersebar di tujuh lokasi.

PT Rekayasa Industri (Rekind), perusahaan desain dan konstruksi, menyatakan akan mengikuti tender proyek PLTU yang digelar PLN pada tahun ini.

Dirut Rekind Yanuar Budinorman mengatakan bahwa Rekind membentuk konsorsium untuk mengikuti tender proyek tiga PLTU di Nusa Tenggara Timur, Palu, dan Sulawesi Utara.

“Kami mungkin dengan EPC [engineering, procurement, & construction] bukan investasi. Bukan IPP [independent power producer/pengembang listrik swasta].”

Dia menambahkan, Rekind membentuk konsorsium dengan perusahaan yang memproduksi boiler. “Ini proses tender.”

Sebelumnya, Rofik mengatakan bahwa sudah ada 10 perusahaan yang turut serta dalam proses lelang tersebut. Proses lelang ditargetkan selesai tahun ini sehingga akhir 2018 diharapkan sudah teken kontrak.

Menurutnya, pembangunan proyek PLTMG tidak memakan waktu lama karena hanya membutuhkan waktu paling lama 12 bulan—15 bulan. Dia menargetkan, proyek pembangkit yang akan selesai lelang tahun ini dapat beroperasi secara komersial pada 2019.

“Biar mempercepat karena beberapa tempat masih kurang daya. Jadi kami percepat pembangunannya,” katanya.

Sampai dengan 2022, perseroan menargetkan penambahan kapasitas terpasang hingga 300 MW di Papua dan Maluku. Pada tahun ini, terdapat penambahan kapasitas terpasang sekitar 100 MW. Beberapa pembangkit yang siap beroperasi di antaranya PLTMG Namlea, PLTMG Saumiaki, PLTMG Dobo, dan lainnya.

PLN tengah berupaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Maluku dan Papua yang saat ini masih sekitar 70%. Rofik menuturkan, masih ada sekitar 1.216 desa induk di Papua yang belum terlistriki, sedangkan di Maluku sebanyak 636 desa induk belum dapat mengakses listrik. Tahun ini, pihaknya menargetkan rasio elektrifikasi Maluku dan Papua bisa mencapai 90%. (Denis Riantiza M.)

Tag : pltu
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top