IMBAS KETIDAKPASTIAN GLOBAL : Pengusaha Jateng Rem Agresivitasn

SEMARANG — Belum menentunya situasi perekonomian global dinilai dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia dan membuat para pengusaha di Jawa Tengah memilih tidak terlalu agresif dalam melakukan ekspansi.
k28/Lucky L. Leatemia | 07 Agustus 2018 02:00 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah. - Antara/Aditya Pradana Putra

SEMARANG — Belum menentunya situasi perekonomian global dinilai dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia dan membuat para pengusaha di Jawa Tengah memilih tidak terlalu agresif dalam melakukan ekspansi.

Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengatakan para pengusaha di Jateng pasti akan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Menurutnya, hal tersebut untuk mengantisipasi dinamika perekonomian global yang bisa berubah dengan sangat cepat.

“Ekspansi barang tentu berhati-hati. Yang jelas, kita sedang mempertahankan industri sekarang,” katanya kepada Bisnis, Senin (6/8).

Dia mengungkapkan para pengusaha mencoba berpikir realistis pada tahun ini. Meskipun begitu, tambahnya, bukan berarti tidak ada harapan untuk pertumbuhan hingga akhir tahun. “Kita bertahan bukan berarti harapan tidak ada. Harapan masih tetap ada,” tuturnya.

Dia pun memperkirakan situasi hingga akhir tahun kemungkinan besar belum banyak berubah. Artinya, pertumbuhan masih akan terjadi, tetapi belum signifikan.

“Ke depan situasi tetap akan begini. Belum ada pertumbuhan signifikan. Investasi banyak atau besar-besaran rasanya tidak mungkin. Fokus kita sekarang lebih mempertahankan industri yang sudah ada,” ujarnya.

Selain itu, tambahnya, banyak pengusaha di Jateng yang belum bisa memanfaatkan momentum nilai tukar rupiah. Pasalnya, sebagian besar bahan baku untuk industri di Jateng masih mengandalkan produk impor.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Didik Subiantoro menyatakan tren investasi di Jateng, setidaknya dalam 5 tahun terakhir, sudah baik. Hal tersebut ditandai dengan peningkatan persentase realisasi investasi dibandingkan dengan target.

Dia menjelaskan pada 2013 dan 2014 realisasi investasi Jateng masih sedikit di bawah target, yakni 99% dan 80%. Namun, sejak 2015, capaiannya selalu di atas target.

Pada 2015, realisasinya mencapai Rp26,04 triliun atau 109% dari target senilai Rp24 triliun. Selanjutnya pada 2016 realisasinya senilai Rp38,18 triliun atau 139% dari target yang ditetapkan Rp27,55 triliun.

Pada 2017, realisasi investasi Jateng menyentuh angka Rp51,54 triliun atau 124% dari target senilai Rp41,7 triliun.

Adapun pada kuartal I/2018 realisasi investasi Jateng telah mencapai Rp16,11 triliun atau 34% dari target senilai Rp47,15 triliun. “Dilihat dari persentasenya bisa disimpulkan kalau investasi di Jateng ini memang bergerak terus ke arah yang positif,” tuturnya.

Dalam perkembangan lain, nilai indeks tendensi konsumen (ITK) di Jawa Tengah pada kuartal II/2018 sebesar 126,73 yang berarti bahwa kondisi ekonomi rumah tangga di Jawa Tengah mengalami peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Samiran mengatakan, tiga hal yang mendorong peningkatan ini adalah meningkatnya volume konsumsi barang dan jasa dengan indeks 133,52, peningkatan pendapatan dengan indeks 128,13, dan kurang berpengaruhnya inflasi terhadap total pengeluaran rumah tangga yang tergambar dari indeks 119,82. “Nilai tersebut merupakan yang terbesar pada beberapa tahun terakhir,” kata Samiran, Senin (6/8).

Menurutnya, nilai ITK Jawa Tengah pada kuartal III/2018 diperkirakan sebesar 94,00, artinya kondisi ekonomi dipersepsikan oleh konsumen mengalami penurunan dibandingkan kuartal II/2018.

“Faktor yang mempengaruhinya adalah pesimisme rumah tangga untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi yang ditunjukkan dengan indeks pendapatan mendatang sebesar 97,09,” ujarnya.

Sementara itu, rumah tangga memiliki persepsi bahwa pada periode mendatang pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan juga akan mengalami penurunan ditunjukkan oleh indeks pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan sebesar 88,59.

Tag : jateng
Editor : Roni Yunianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top