Potensi Gelombang Tinggi Terjadi Lagi, Masyarakat Dilarang Nekat Melaut

Masyarakat pesisir dan nelayan dilarang nekat melaut mengingat potensi gelombang tinggi beberapa hari ke depan.
Sri Mas Sari | 06 Agustus 2018 07:43 WIB
Gelombang laut setinggi lebih dari 7 meter menerjang pantai Sembukan, Paranggupito, Wonogiri pada puncak ombak besar Samudera Hindia, Rabu (25/7/2018). Pengelola pantai dan warga setempat melarang wisatawan untuk mendekat ke pantai karena cukup membahayakan keselamatan. - Bisnis/Sunaryo Haryo Bayu
Bisnis.com, JAKARTA -- Masyarakat pesisir dan nelayan dilarang nekat melaut mengingat potensi gelombang tinggi beberapa hari ke depan.
 
Peringatan itu disampaikan oleh Kementerian Perhubungan menyusul tiga kecelakaan laut baru-baru ini. 
 
"Demi keselamatan pelayaran, agar nakhoda memperhatikan faktor cuaca sebelum berangkat, para penumpang tidak memaksakan kapal berangkat bila cuaca ekstrem dan saya minta para syahbandar tidak menerbitkan surat persetujuan berlayar (SPB) di tengah cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi," kata Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Agus H. Purnomo dalam siaran pers, Minggu (5/8/2018).
 
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis perkiraan gelombang tinggi terjadi di perairan Sabang, perairan Barat Aceh-Nias, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Pulau Sumba-Pulau Sawu-Pulau Rote, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, dan perairan selatan Kupang. Potensi tinggi gelombang di perairan itu 2,5-4 meter.
 
Masyarakat dan operator kapal pun diimbau mewaspadai potensi gelombang tinggi 4- 6 meter di perairan Kepulauan Mentawai, Perairan Enggano-Bengkulu, perairan barat Lampung, perairan selatan Banten-Jawa Timur, perairan selatan Bali hingga Sumbawa, Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan, Samudea Hindia barat Mentawai hingga selatan Pulau Sumbawa.
 
Sementara itu, tinggi gelombang 1,25-2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian utara, perairan timur Pulau Simeulue-Kepulauan Mentawai, Selat Sunda bagian utara, Laut Timor, perairan selatan Flores dan Selat Ombai, Laut Natuna Utara, Kepulauan Anambas-Natuna, perairan timur Batam-Pulau Bintan, perairan utara Bangka-Belitung, Laut Natuna dan Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makasar, perairan Kotabaru, Laut Sulawesi, perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Laut Maluku bagian utara, perairan utara Halmahera, dan Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua Barat.
 
Menurut pemantauan BMKG, terdapat pola tekanan tinggi di wilayah perairan barat Australia yang dapat memicu terjadinya peningkatan kecepatan angin timurandengan kecepatan 55 km per jam melewati Samudra Hindia barat Lampung hingga selatan Jawa, perairan selatan Banten hingga Jawa Barat.
 
Adapun tiga kecelakaan laut akibat cuaca ekstrem belum lama ini melibatkan KM Berkah Ilahi I di Perairan Pulau Nggelu Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, tepatnya  pada Minggu (29/7/2018). Kapal itu mengangkut 25 orang dengan rincian 20 orang berhasil diselamatkan, sedangkan 2 orang meninggal dunia dan 3 orang belum ditemukan.
 
Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Waikelo, Sumba, dengan tujuan Pelabuhan Sape. Setelah 3 jam berlayar, kapal berukuran 3 GT itu tiba-tiba dihantam gelombang tinggi 4-5 meter sehingga perahu tenggelam di perairan Torobabula timur Sape.
 
Kecelakaan laut juga terjadi pada Jumat (3/8/2018). Kapal nelayan KM Bunga Hati 2 berukuran 27 GT tenggelam di sekitar perairan Pulau Cendikia Indramayu, Jawa Barat, saat hendak menangkap ikan. Sebanyak 13 orang awak kapal ditemukan selamat setelah sebelumnya diberitakan hilang.
 
Berikutnya, KM Alyssa yang tenggelam di perairan Mentawai Sumatra Barat, Jumat (3/8/2018). Kapal berbobot 99 GT yang dinakhodai Irwanto Leo itu membawa 6 orang ABK dan 17 orang penumpang. Seluruhnya berhasil dievakuasi dengan selamat. Kecelakaan tersebut diduga karena gelombang tinggi 2-4 meter dan kecepatan angin hingga 25 knot.
 
Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub Junaidi meminta pemilik kapal dan nakhoda memastikan alat keselamatan tersedia di atas kapal, seperti life jacket.
Tag : gelombang tinggi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top