HARGA TELUR MAHAL : Revisi Harga Acuan Mendesak

JAKARTA — Revisi Permendag No.27/2017 dinilai mendesak dilakukan, khususnya untuk harga acuan telur di tingkat peternak ayam petelur (layer) dan harga jual di tingkat konsumen.
M. Richard | 25 Juli 2018 02:00 WIB

JAKARTA — Revisi Permendag No.27/2017 dinilai mendesak dilakukan, khususnya untuk harga acuan telur di tingkat peternak ayam petelur (layer) dan harga jual di tingkat konsumen.

Permendag tersebut mengatur penetapan harga acuan pembelian di petani dan harga acuan penjualan di konsumen untuk berbagai komoditas pangan, seperti beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng curah, bawang merah, daging sapi dan ayam, serta telur ayam.

Dalam paparan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), pemerintah disarankan menaikkan harga acuan telur di tingkat peternak dari Rp18.000/kg menjadi Rp21.000/kg—Rp21.500/kg.

Adapun, harga acuan telur di tingkat konsumen disarankan naik dari Rp22.000/kg menjadi Rp25.000/kg—Rp25.500/kg.

Ketua Pataka Yeka Hendra Fatika menjelaskan, saat ini struktur biaya produksi peternak ayam petelur skala kecil sudah meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu.

“Dengan revisi harga acuan tersebut, harga di tingkat konsumen juga diharapkan naik, sehingga dapat mengikuti margin distributor yang ditetapkan sebelumnya, yakni Rp4.000/kg,” jelasnya, Selasa (24/7).

Menurutnya, fluktuasi harga telur saat ini dipicu oleh peningkatan risiko usaha peternak layer dan penurunan produktivitas telur akibat berbagai penyakit, sehingga biaya rata-rata pakan per butir telur mengalami peningkatan.

Selain itu, lanjutnya, kasus kematian ayam mengakibatkan nilai penyusutan aset ayam petelur mengalami peningkatan. Penyebab lainnya adalah penguatan dolar AS terhadap rupiah yang berimplikasi pada kenaikan harga pakan, bibit, dan obat-obatan.

Bagaimanapun, menurut Yeka, kenaikan harga telur saat ini belum mengkhawatirkan. Pasalnya, rerata harga telur di Indonesia masih tergolong paling murah di dunia.

Sebagai perbandingan, berdasarkan data Numbeo pada Juli 2018, harga telur di Thailand mencapai Rp29.500/kg, di Singapura Rp36.300/kg, di China Rp30.744/kg, di Brasil Rp30.409/kg, di AS Rp45.400/kg, sedangkan di Prancis Rp57.346/kg.

Peternak telur dari Asosiasi Pinsar Petelur Nasional (PPN) Hidayat menambahkan biaya produksi dari peternak layer sudah naik tajam seiring dengan meroketnya harga day old chick (DOC), harga jagung pakan, dan harga konsentrat.

Di sisi lain, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menilai kebijakan pemerintah saat ini seharusnya difokuskan untuk meningkatkan produksi domestik.

“Produksi menurun dikarenakan kebijakan pelarangan antibiotic growth promoter [AGP], yang menyebabkan lebih cepatnya perkembangan penyakit pada ayam petelur,” tegasnya.

Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementerian Perdagangan Ninuk Rahayuningrum mengatakan, kebijakan harga acuan ditujukan untuk melindungi konsumen kelas menengah ke bawah.

“Kalau orang kaya mau harganya Rp50.000/kg juga tidak ada masalah, itu lebih pada upaya perlindungan,” katanya.

Ekonom Indef Rusli Abdullah menjelaskan, rekomendasi untuk menaikkan harga acuan telur berpotensi memacu inflasi lebih tinggi. “Itu rekomendasi yang disampaikan, kenaikan sekitar 19%, artinya cukup signifikan untuk mendorong inflasi,” katanya. (M. Richard)

Tag : telur ayam
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top