PENYALURAN KREDIT : BPR Bidik Pertumbuhan 12%

JAKARTA - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) optimistis pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini mencapai 10%-12% dengan melihat capaian kinerja pada awal 2018 cukup positif.
Nirmala Aninda | 06 Juni 2018 02:00 WIB

JAKARTA - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) optimistis pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini mencapai 10%-12% dengan melihat capaian kinerja pada awal 2018 cukup positif.

Sampai dengan Maret 2018 pertumbuhan aset mencapai 11,02% secara year on year (yoy) menjadi Rp127,5 triliun. Kenaikan aset ditopang oleh penghimpunan dana yang tumbuh 10,76% secara yoy menjadi Rp104,2 triliun.

Sementara itu, penyaluran pembiayaan tercatat tumbuh sebesar 8,67% secara yoy menjadi Rp91,6 triliun. Namun, porsi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat cukup tinggi, yakni 6,81%.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto optimistis menargetkan pertumbuhan pembiayaan di kisaran 10%-12% tahun ini, lebih tinggi dari realisasi pada 2017 yakni 9,5%.

"Ini kan posisi 3 bulan pertama, sampai dengan akhir tahun ini kami yakin kredit bisa tumbuh dua digit," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (31/5).

Joko meyakini dengan adanya momentum Idulfitri pada bulan Juni akan mendongkrak pertumbuhan pembiayaan seiring dengan meningkatnya kebutuhan di sektor mikro.

Dia memperkirakan sampai dengan kuartal II/2018 kinerja pembiayaan bagi BPR umum dan BPR syariah dapat meningkat setidaknya 1% sebab nasabah eksisting maupun calon nasabah akan membutuhkan modal kerja.

Perbarindo menargetkan agar pertumbuhan kinerja maksimal dengan menyasar memberikan kredit kepada sektor perdagangan. Pasalnya, sektor tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang sangat bagus, khususnya menjelang hari raya Idulfitri.

"Kami harapkan bisa lebih meningkat pertumbuhannya secara year on year pada semester I/2018 lebih tinggi 1% dari kuartal I/2018 sekitar 9,6% - 9,7%," katanya.

Selain memaksimalkan penyaluran pembiayaan, Joko melanjutkan, BPR akan menjaga rasio NPL di kisaran 5%. Dia mengklaim kredit bermasalah BPR masih dalam ambang batas normal mengingat segmentasi nasabah adalah ritel atau mikro.

Berdasarkan perhuitungannya, rata-rata besaran pembiayaan yang disalurkan oleh BPR kepada nasabah sebesar Rp30 juta per nasabah.

Hingga saat ini mayoritas penerima pembiayaan BPR berasal dari sektor perdagangan atau sebesar 25,29% dari seluruh portofolio nasabah BPR.

PERSAINGAN USAHA

Bagi Joko, kompetisi antara BPR dengan bank umum tidak dapat dilakukan dengan membandingkan dengan suku bunga pinjaman karena masing-masing institusi memiliki kapasitas serta market yang berbeda.

Meskipun demikian, dia optimistis eksistensi BPR tidak akan tergerus dengan kompetisi suku bunga yang ditawarkan oleh bank umum.

Saat ini, ungkapnya, BPR dan BPR syariah tengah mengembangkan layanan yang mengutamakan kecepatan, akurasi, dan konsep pendekatan personal sehingga memberi nilai tambah bagi BPR.

Hingga kuartal I/2018 peta sebaran bank kredit rakyat di Indonesia mencapai 1.615 BPR konvensional dan 167 BPR syariah. Sekitar 70% BPR tersebar di Jawa dan Bali.

Kendati demikian Joko menambahkan bahwa perkembangan BPR di Indonesia Timur tidak kalah pesat dengan total aset sampai dengan kuartal I/2018 sebesar Rp3,77 triliun untuk Maluku, Papua, dan Papua Barat. (Nirmala Aninda)

Tag : bpr
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top