PLTU BATANG : Proyek 2.000 MW Bakal Sesuai Target

BATANG Proyek pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU Batang, di Jawa Tengah, dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada 2020.
Yustinus Andri | 19 Maret 2018 02:00 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan PLTU di Ujungnegoro, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

BATANG — Proyek pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU Batang, di Jawa Tengah, dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada 2020.

Presiden Direktur PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) Takashi Irie mengatakan, proses konstruksi proyek yang akan menghasilkan kapasitas listrik 2.000 megawatt (MW) tersebut saat ini telah mencapai 40,2%. Takashi optimistis bahwa proyek tersebut akan rampung sesuai target awal.

“Dari dua unit yang ada, unit I targetnya selesai pada Juni 2020, sementara untuk unit II Desember 2020. Sampai saat ini belum ada kendala berarti yang kami temui,” katanya, Sabtu (17/3).

Adapun, pasokan dari pembangkit di daerah pesisir utara Pulau Jawa tersebut akan membantu PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menambah suplai listrik Jawa—Bali sebesar 5,7%.

Selain itu, pembangkit bertenaga uap dari batu bara itu akan membantu perusahaan listrik pelat merah untuk memenuhi kebutuhan industri di beberapa daerah di Jawa Tengah. Daerah tersebut antara lain di Pekalongan, Kendal dan Semarang.

Sebelumnya, PLN berencana membeli daya listrik PLTU Batang selama 25 tahun sejak hari pertama komersial. Pasokan listrik tersebut akan didistribusikan melalui saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV) sepanjang 7 km. Selain itu, akan sejumlah membangun gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) 500 kV untuk melengkapi gardu yang telah dimiliki PLN sebelumnya.

Sementara itu, terkait dengan tuntutan dampak lingkungan, Irie mengklaim bahwa abu batu bara hasil pembakaran, sebagian besar akan diambil oleh pabrik semen di Indonesia. Sementara itu, sisanya akan dibuang ke tempat penimbunan akhir yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Untuk operasional PLTU Batang sendiri, batu bara yang dikonsumsi mencapai 600.000 ton per bulannya. Pasokan bahan bakar tersebut sebagian besar akan dipasok oleh PT Adaro Energy Tbk. Seperti diketahui, Bhimasena merupakan perusahaan joint venture yang didirikan oleh tiga perusahaan konsorsium yakni Electric Power Development Co., Ltd (J-Power), PT Adaro Power yang merupakan anak perusahaan Adaro Energy, dan Itochu Corporation (Itochu).

Direktur Regional Jawa Bagian Tengah PLN Amir Rosidin telah menyatakan akan membantu Bhimasena untuk menyelesaikan persoalan lahan yang belum dibebaskan. Adapun total lahan yang belum dibebaskan saat ini mencapai 12,51 hektare.

“Proses pembebasan lahan tersisa sedang dalam proses. Tanah yang akan kami bebaskan tersebut pun semuanya sudah bersertifikat,” kata Amir dalam keterangan resminya.

Apabila pembebasan lahan yang tersisa tersebut selesai dilakukan, maka PLTU Batang akan berdiri pada lahan seluas 226.000 hektare. Tercatat, dana investasi yang dihabiskan untuk membangun pembangkit listrik tersebut mencapai US$4,2 miliar.

Tag : pltu, pltu batang
Editor : Roni Yunianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top