Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Garuda Food Sering Terkendala Pasokan Gas di Jatim

PT GarudaFood Putra Putri Jaya optimistis menargetkan pertumbuhan penjualan sebanyak 25% pada 2017 dibandingkan dengan tahun lalu yang ditopang oleh produk biskuit dan snack.
Regi Yanuar Widhia Dinnata
Regi Yanuar Widhia Dinnata - Bisnis.com 11 Juni 2017  |  21:34 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—PT GarudaFood Putra Putri Jaya optimistis menargetkan pertumbuhan penjualan sebanyak 25% pada 2017 dibandingkan dengan tahun lalu yang ditopang oleh produk biskuit dan snack.

Dian Astriana, Head of Corporate Communication PT GarudaFood Putra Putri Jaya (GarudaFood) mengatakan, dengan melihat pertumbuhan yang telah tercapai pada kuartal I/2017 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, perusahaan optimistis bisa mencapai target yang telah ditetapkan untuk tahun ini.

GarudaFood menargetkan adanya kenaikan selama 2017 mencapai 25% dari sisi penjualan dibandingkan dengan tahun lalu.

"Penjualan pada kuartal pertama secara kalkulatif baik, menanjak 18% dibandingkan triwulan I/2016. Kenaikan ini disokong oleh produk kategori biskuit dan snack. Pada tahun ini kategori tersebut akan diprediksi meningkat sampai akhir tahun," kata Dian ketika diwawancarai Bisnis Minggu (11/6/2017).

Dian menambahkan, sebelum kuartal II/2017 berakhir yakni akhir juni nanti, tercatat ada lonjakan penjualan produk GarudaFood terutama pada momen sebelum puasa dan minggu pertama Ramadan. Saat ini tercatat sudah ada kenaikan mencapai 25% pada periode April sampai pekan pertama Ramadan 2017 dibanding periode sama tahun lalu.

GarudaFood yakin target 2017 dapat tercapai melalui perbaikan dari segi internal perusahaan.
Salah satunya inovasi yang dilakukan pada pengoptimalan sistem produksi dan peningkatan performa produk. Selain itu perbaikan inovasi pada segala lini dari pengolahan bahan baku sampai produk jadi (hulu-hilir) sedang dilakukan oleh GarudaFood.

Terakhir pada sektor promosi iklan dan retail akan selalu dimonitoring agar penjualan selalu bisa direvisi.

Sementara itu, Dian mengakui, kendala yang dihadapi perusahaan masih di seputar ongkos logistik yg relatif mahal di Indonesia. Tidak hanya itu harga bahan baku juga terbilang mahal, sehingga harga menjadi tidak kompetitif, khususnya untuk produk yang diekspor.

"Energi juga sering terkendala, dengan permasalahan kelancaran supply gas di wilayah Jawa Timur tempat kami beroperasi," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin difteri
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top