INSIGHT : Hakikat Kecelakaan

Oleh: Pongki Pamungkas 09 November 2018 | 02:00 WIB

“Tak ada apa pun yang terjadi soal adanya kecelakaan. Tuhan sedang mempersiapkan Anda untuk sesuatu yang hebat”.

Kalau kita mendengar atau menyebut kata ‘kecelakaan’, konotasi yang kita tangkap adalah suatu peristiwa yang membawa akibat duka nestapa bagi para korban kecelakaan. Namun, dalam kasus ‘pergombalan’ asmara, kalimat berikut sungguh-sungguh gombal. “Bertemu denganmu adalah kecelakaan favoritku,” kata si perayu, si ‘penggombal’.

Tentu saja, kalau yang dirayu memang ada rasa ‘klik’ dengan si perayu, jadilah ini suatu kisah percintaan yang indah, seindah nirwana. Kecelakaan dalam konteks asmara ini adalah kejadian yang sangat menyenangkan.

Berikut ini suatu ‘kecelakaan’, yang mohon maaf, sebuah kisah ‘dewasa’. Seorang ibu lagi beli durian, dan minta dibelahin sekalian.Tukang durian langsung jongkok membelah duriannya. Karena celananya robek, si tukang durian tak sadar ‘itu’nya nongol keluar.

Melihat itu si ibu tersentak kaget dan menegur, "Bang, ‘itu’nya keluar tuuh.” Sambil tersipu malu, si tukang duren yang mengira si ibu menyebut duriannya, dengan polosnya berkata,

“colek aja bu. Nggak apa-apa. Enaak kok ... “. Ini juga bukan kecelakaan yang mengenaskan. Hanya suatu kesalahpahaman komunikasi yang menggelikan.

Kecelakaan serupa yang senada terjadi dalam kisah berikut. Seorang pemuda bernama Bhaskoro mendaftar ke BPJS. Petugas BPJS, seorang gadis yang cantik, ramah dan rada kenes, meladeni Bhaskoro. Ia menulis nama Baskoro sebagai pendaftar. Bhaskoro, yang nama Bhas nya terdiri atas huruf b dan h, mengoreksi, "Mbak, pakai BH.” Dengan senyum manis si petugas menjawab, "Iya mas, kan lagi kerja, nanti kalo mau bobo baru dilepas.”

Saat pasfoto, ternyata fotografer si petugas yang sama. Setelah selesai foto, Bhaskoro bilang : "Mbak, ntar aku di kasih CD nya nggak? " Sambil tersenyum genit dan muka memerah merona mbak petugas menjawab "Nanti ya, kan masih dipakai “. Ini suatu kecelakaan lagi, tak menyedihkan.

Kelancaran atau keselamatan dan kecelakaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Selalu hadir silih berganti. Jika kita meyakini hal ini, maka kecelakaan adalah hal yang lumrah terjadi, hadir di sisi kehidupan kita.

Namun, kapan pun kita menganggap bahwa kecelakaan adalah sesuatu yang salah dalam hidup, maka kita sedang menambahkan ketegangan dan duka pada sesuatu yang selayaknya diterima dengan wajar. Di situ akan hadir kesengsaraan, duka nestapa.

“Tak ada yang namanya kecelakaan. Itu kekeliruan penyebutan,” kata Napoleon Bonaparte. Pernyataan Napoleon ini menegaskan bahwa pada dasarnya ‘kecelakaan’ adalah suatu hal yang lumrah dalam kehidupan manusia. Sebagaimana halnya kesalahan adalah bagian dari proses kehidupan yang tak terelakkan.

Senada dengan Napoleon. “ Tak ada yang namanya kecelakaan. Itu hanya beberapa tujuan yang belum kita pahami,”kata Deepak Chopra. Kalimat ini bermakna lebih dalam. Lebih spiritual. Dengan terjadinya suatu kecelakaan, Yang Maha Kuasa tentu memiliki tujuan yang memang kabur, bahkan tak terlihat. Dia merencanakan sesuatu dari dampak kecelakaan itu. Hanya kita tak kuasa melihatnya. Itulah kodratnya, manusia merencanakan, Tuhan menentukan.

“Tak ada yang namanya kecelakaan. Segala sesuatunya berjalan untuk kebaikan kita,” kata David Jonggi Cho. Dia Maha Baik dan Maha Benar. Pasti ada kandungan hal positif dari terjadinya kecelakaan. “Tak ada apapun yg terjadi soal adanya kecelakaan. Tuhan sedang mempersiapkan Anda untuk sesuatu yang hebat”.

Masih dalam konteks spiritual, petitih berikut meneguhkan. “Anda tak bertemu orang lain bukan tak sengaja (karena ‘kecelakaan’). Itu selalu ada alasannya, suatu pembelajaran, atau suatu berkah (karunia Nya) “. Dia Maha Menentukan. Dia mengatur segala sesuatunya di dunia ini dengan alasan dan tujuan yang benar.

Kecelakaan akibat jatuhnya pesawat Lion Air di Karawang, yang menewaskan hampir 200 jiwa manusia, adalah musibah yang sangat menyedihkan. Para keluarga atau kerabat itu tentu tak pernah menduga, atau memikirkan sebelumnya, bahwa secara tiba-tiba, mereka akan ditinggal oleh keluarga yang mereka kasihi, selama-lamanya.

Tulisan ini sungguh tak berniat untuk menambah kesedihan para sanak yang tengah berduka. Tak ada niat pula untuk menyepelekan peristiwa tragis itu dan mengabaikan kesedihan para keluarga yang bersedih hati. Tidak juga berniat untuk menunjuk dan menghakimi siapa yang bersalah dalam hal ini. Namun, saya hanya berusaha mendalami makna kecelakaan itu, secara jernih dan mendalam.

Sudah jelas dan pasti, kewajiban kita semua untuk selalu berbuat kebajikan kepada sesama. Membantu sesama untuk hal-hal yang baik adalah pedoman hidup kita.

Life mission sebagai seorang yang menyakini suatu prinsip. “Cintailah yang di bumi agar dicintai yang di langit” adalah hal yang wajib kita pegang dan kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“ Jangan pernah menyakiti orang dengan sengaja, hanya karena mereka pernah menyakiti Anda secara tak sengaja ( karena kecelakaan)”.

Menurut prinsip John F. Kennedy “maafkanlah tapi jangan lupakan”. Kata “jangan lupakan” adalah anjuran bagi kita sebagai upaya kewaspadaan di kemudian hari terhadap orang yang menyakiti kita. Itu juga sekaligus sebagai pembelajaran, agar kita bisa mengambil hikmah (lesson learned), agar peristiwa serupa tak akan kita alami lagi.

Kesalahan demi kesalahan, di kemudian hari masih akan terjadi. Kecelakaan demi kecelakaan yang serupa pun, mungkin saja akan terus terjadi. Sekali lagi, kesalahan ataupun yang namanya kecelakaan itu adalah bagian dari siklus kehidupan manusia.

Namun, sebagai mahluk yang berada dalam kasta tertinggi mahluk ciptaanNya, pastilah kita semua akan terus berusaha memperbaiki segala sesuatu, segala hal, agar kehidupan di kemudian hari akan bertambah baik. Kesalahan atau kecelakaan serupa tak akan terjadi lagi. Paling tidak, musibah serupa diminimalisir.

Usahakanlah segenap perbaikan yang diperlukan dengan penuh tanggung jawab, penuh cinta kasih. Seoptimal mungkin. Sesuai dengan besar kecilnya kewenangan Anda.

“Tak semua orang mampu melakukan hal-hal besar. Namun setiap orang mampu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar,” kata Bunda Teresa.

Editor: Bambang Supriyanto

Berita Terkini Lainnya