PENCEMARAN PABRIK SEMEN : Kado Polusi dari Biringkassi

Oleh: Amri Nur Rahmat 09 November 2018 | 02:00 WIB
PENCEMARAN PABRIK SEMEN : Kado Polusi dari Biringkassi
Ilustrasi asap pabrik./Bloomberg-Luke Sharrett

PT Semen Tonasa dalam kurun 16 tahun terakhir, baru tercatat tiga kali berada di peringkat hijau pada Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Peringkat hijau paling terahir, diperoleh perseroan pada 2016. Adapun, pada tahun berikutnya turun kasta berada pada kategori biru.

Pada tahun ini, produsen semen pelat merah yang berbasis di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, itu berada dalam daftar kandidat hijau pada Proper 2017—2018.

Entinas anak usaha dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. ini berada di urutan ke-44 daftar kandidat hijau Proper 2018 dengan skor sementara 67 poin. Angka ini sesuai dengan penilaian dari Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Jika kemudian Tonasa akhirnya diganjar dalam jajaran peringkat hijau, ini akan menjadi gelar keempat Proper Hijau dan menjadi hadiah ulang tahun ke-50 perseroan pada tahun ini. Namun, jika hasilnya berkata lain tentu akan menjadi catatan tersendiri bagi perseroan untuk semakin berbenah.

Secara umum, konsistensi pengelolaan lingkungan yang dilakukan Tonasa selama beroperasi relatif naik turun, pasang surut. Ini bisa tergambar dari predikat Proper Hijau yang sejauh ini baru terengkuh sebanyak tiga kali, sedangkan pelaksanaan Proper dari KLHK sudah berjalan sejak 2002 dan bergulir rutin setiap tahun.

Memang pada tahun ini, peluang untuk mendapatkan Proper Hijau terbuka lebar, tetapi itu dibarengi pula dengan riak pencemaran lingkungan di sekitar wilayah operasional.

Paling anyar, permasalahan lingkungan muncul di sekitar area fasilitas coal unloading dan open yard storage milik perseroan yang berlokasi di Pelabuhan Khusus Biringkassi Pangkep.

Aktivitas dari fasilitas itu membuat kualitas udara di sekitar kawasan memburuk serta debu dari material batu bara hinggap hingga ke permukiman warga yang berada di sekitarnya.

Rahmatia (48 tahun), warga setempat, mengemukakan kondisi itu bahkan telah berjalan hampir 4 tahun terakhir, atau terhitung sejak fasilitas pembongkaran batu bara itu dioperasikan efektif oleh Tonasa.

“Sebenarnya hal ini sudah [terjadi] 4 tahun sehingga membuat kami kesulitan. Rumah kami, hampir seluruh sudut sudah terkena debu batu bara. Tonasa hanya janji carikan jalan keluar, tetapi tidak pernah ada buktinya,” ujar perempuan paruh baya ini saat berbincang dengan Bisnis.

Adapun, titik hunian dari Rahmatia ini hanya berjarak sekitar 30 meter dari area fasilitas pembongkaran batu bara milik Semen Tonasa.

TUNTUTAN WARGA

Dia menceritakan bahwa debu batu bara yang berwarna hitam itu bahkan muncul hampir tiap saat yang berbaur dengan aktivitas keseharian, termasuk dapur miliknya yang saat ini dianggapnya sudah sangat terpapar polusi debu batu bara.

Kondisi itu akhirnya menjadi landasan bagi Rahmatia bersama dengan warga sekitar lainnya menuntut langkah konkret Tonasa atas pencemaran tersebut.

Menurutnya, beberapa warga termasuk dirinya yang terpapar debu hitam kadang mengalami iritas kulit dan beharap tidak mengalami gangguan pernapasan lantaran pencemaran udara tersebut.

“Pekan lalu kami sudah dipertemukan dengan pimpinan Tonasa. Kesepakatan, mereka akan benahi itu semua dalam 2 minggu ke depan. Kami menunggu, harapan kami mudahan ada solusi bagi warga. Kami hanya ingin yang baiknya, untuk warga dan untuk Tonasa sendiri. Mudahan ada solusinya,” urai Rahmatia.

Dia mengungkapkan, keluhan tersebut disampaikan sejak beberapa bulan terakhir setelah warga merasa sudah bersabar hampir 4 tahun terakhir dengan kondisi yang terpapar polusi debu batu bara.

Tak hanya debu batu bara, pencemaran udara itu juga termasuk debu semen yang bersumber dari aktivitas pengangkutan semen curah dari pabrik ke fasilitas pengantongan semen yang juga berada di Pelabuhan Biringkassi.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan (P3L) DLH Pangkep Budi Rusdi mengatakan bahwa hasil tinjauan lapangan yang dilakukan dinas bersama instansi terkait ditemukan fakta bahwa jarak fasilitas pengelolaan batu bara tersebut berada dekat dengan permukiman.

Hal itu tentu saja dinilainya memiliki potensi besar dalam mencemari lingkungan dan berdampak pada kesehatan warga. Budi menjelaskan, dinas juga tengah melakukan analisis dan kajian atas kondisi di wilayah itu, mencakup dampak hingga evaluasi sistem pengelolaan fasilitas milik Tonasa tersebut.

“Kami juga telah merekomendasikan ke Tonasa agar memberikan perhatian besar terutama pada sisi sirkulasi pengangkutan batu bara dan ketinggian penumpukan di stockpile. Kemudian memang perlu ada kajian lagi perihal kelayakan tempat, wadah, jumlah kapasitas penampungan hingga memperhitungkan jarak penampungan dari permukiman warga,” ujarnya.

Sebagai informasi, fasilitas coal unloading system (sistem pembongkaran batu bara) dan open yard storage milik Tonasa telah dioperasikan efektif sejak 2014. Fasilitas ini berkapasitas terpasang hingga 1.000 ton/jam. Adapun, investasi untuk pembangunan fasilitas tersebut mencapai Rp230 miliar yang dialokasikan dari belanja modal perseroan kala itu.

Fasilitas itu dibangun perseroan sebagai solusi terhadap kebutuhan pemenuhan batu bara yang meningkat seiring dengan beroperasinya Pabrik Tonasa unit V.

Sebelum fasilitas itu beroperasi, aktivitas pembongkaran batu bara dilakukan secara konvesional menggunakan excavator, yang jumlahnya disesuaikan dengan besarnya kapal yang sandar. Adapun, kapasitas rata-rata kapal tongkang yang sandar mencapai 8.000 ton, dengan daya bongkar hanya 1,4 juta ton per tahun, ekuivalen 2.778 ton per hari.

Adapun, besaran kebutuhan bahan bakar batu bara perseroan memang mengalami peningkatan signifikan sejak pengoperasian pabrik Tonasa V pada 2014, dari sebelumnya sekitar 1 juta ton per tahun menjadi lebih dari 2 juta ton per tahun.

UPAYA TONASA

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Biro Humas Semen Tonasa A.M. Said Chalik mengatakan bahwa penanganan atas ekses dari operasional fasilitas pembongkaran batu bara maupun tempat penumpukan sudah dilakukan maksimal termasuk dalam merespons keluhan warga sekitar.

Dia mengakui, protes maupun keluhan warga baru diterima pihaknya pertama kali saat medio September 2018 yang berupa komplain debu serta krisis air bersih yang diklaim warga sebagai akibat dari aktivitas perseroan di Biringkassi.

“Sebenarnya, sudah ada beberapa langkah penanganan yang kami lakukan, mulai dari mengurangi ketinggian penumpukan batu bara di stockpile, lalu penerapan kewajiban bagi dump truck pengangkut batu bara milik vendor agar menggunakan terpal pada bak-nya serta lainnya,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia memerinci untuk ketinggian batu bara di stockpile telah diturunkan menjadi 6 meter dari sebelumnya yang mencapai 15 meter. Ini dimaksudkan untuk menekan volume maupun intensitas paparan debu ke permukikan sekitar.

Adapun, untuk kebijakan penggunaan terpal pada truk milik vendor, juga dilakukan secara tegas sehingga aktivitas bisa lebih hijau tanpa mengganggu masyarakat sekitar.

“Perlu diketahui juga bahwa setiap bulan kami habis ratusan juta untuk masyarakat sekitar Biringkassi. Salah satunya melalui penyediaan air bersih untuk mereka yang rutin dilakukan setiap hari, dan beberapa kompensasi lainnya,” papar Said.

Kendati demikian, perencanaan juga telah dirancang perseroan untuk meminimalisir efek dari aktivitas pembongkaran batu bara, yakni melalui pembangunan gudang khusus dengan konstruksi tertutup untuk penampungan batu bara.

“Ini sudah masuk dalam pembahasan manajemen, tetapi alokasi anggaraanya baru bisa dilakukan tahun depan.”

Secara lebih luas, dampak negatif dari aktivitas pembongkaran batu bara di Biringkassi itu juga sebenarnya memengaruhi keberlangsungan ekosistem laut sekitar pelabuhan.

Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Selatan Muhammad Al Amin saat dimintai konfirmasi berjanji untuk segera melakukan kajian terhadap kondisi tersebut.

Kini, PT Semen Tonasa sudah menapaki usia emas. Sebuah usia yang menandakan seseorang telah ditaburi oleh kematangan jiwa dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, akankah PT Semen Tonasa secara bijak bisa mengatasi masalah pencemaran udara di sekitar fasilitas miliknya?

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya