RASTER : Solusi Jalan Tengah bagi Kepentingan Semua Pihak

Oleh: Andini Ristyaningrum 09 November 2018 | 02:00 WIB
RASTER : Solusi Jalan Tengah bagi Kepentingan Semua Pihak
Pekerja membongkar muatan semen di Pelabuhan Makassar, Senin (28/8)./JIBI-Paulus Tandi Bone

Kasus pencemaran lingkungan akibat debu batu bara milik PT Semen Tonasa tak urung memaksa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turun tangan. Pemprov mendesak PT Semen Tonasa agar segera membangun fasilitas tertutup untuk penumpukan batu bara.

Hal itu dilakukan agar aktivitas pabrik perusahaan pelat merah ini dapat meminimalisir potensi pencemaran udara yang berdampak pada masyarakat sekitar.

Sebelumnya, warga di kawasan pelabuhan Biringkassi, Kabupaten Pangkep mengeluhkan aktivitas pabrik PT Semen Tonasa. Sejak beberapa tahun terakhir, warga masih dihadapkan pada persoalan pencemaran lingkungan.

Pencemaran itu terjadi mulai dari debu akibat penumpukan batu bara di kawasan pelabuhan, hingga sulitnya memperoleh air bersih.

Menanggapi keluhan masyarakat Biringkassi Pangkep, Pemprov Sulsel berupaya mencari jalan tengah agar permasalahan lingkungan yang muncul di sekitar area fasilitas coal unloading dan open yard storage PT Semen Tonasa bisa segera teratasi.

Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyatakan bahwa keluhan masyarakat di kawasan itu terjadi secara periodik. Menurutnya, debu dari material batu bara yang berhamburan hingga ke permukiman warga terjadi ketika adanya angin kencang.

“Pihak PT Semen Tonasa sudah menjelaskan debu yang hinggap sampai ke permukiman warga itu berasal dari aktivitas penumpukan batu bara di dekat pelabuhan,” ungkap Andi Sudirman, belum lama ini.

Dia memaparkan, berdasarkan hasil pembicaraan dengan pihak PT Semen Tonasa, maka dirumuskan solusi untuk pembangunan penyimpanan batu bara. Bangunan yang didesain berupa stadion atau GOR itu rencananya direalisasikan pada 2019.

Konsep indoor atau ruangan tertutup, menurut Andi, bisa menjadi solusi yang tepat agar debu batu bara yang berwarna hitam itu tak lagi mengganggu aktivitas warga dan mencemari lingkungan di kawasan tersebut.

“Ya, memang tidak mudah. Namun, ini sedang kami rancang agar tak menimbulkan permasalahan lagi,” terang Wagub Andi.

Hasbi Nur, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulsel, mengatakan bahwa PT Semen Tonasa juga diminta untuk meminimalisir kendaraan pengangkut operasionalnya. Nyatanya, tak hanya dalam persoalan debu batu bara yang menganggu warga setempat.

Permasalahan lain yang menghantui warga yaitu sulitnya memperoleh air bersih di beberapa lokasi. Oleh karena itu, PT Semen Tonasa diminta untuk fokus menjalankan program CSR dalam memenuhi hak-hak dan kebutuhan warga di sekitar pabrik yang terdampak.

Menurutnya, dalam menuntaskan permasalahan ini dibutuhkan sinergitas dari semua pihak. Untuk menyelesaikan permasalahan warga setempat Hasbi menyatakan bahwa tak hanya pemerintah yang seharusnya bekerja tetapi seluruh pihak, termasuk swasta. (K36)

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya