PT INKA Ungkap Sejumlah Proyek yang Sedang Digarap

Oleh: Wibi Pangestu Pratama 08 November 2018 | 02:02 WIB
PT INKA Ungkap Sejumlah Proyek yang Sedang Digarap
Menristekdikti Mohamad Nasir menikmati kereta sleeper seat produksi PT Inka, Jumat (8/6/2018)/JIBI

Bisnis.com, MADIUN – Pembangunan berbagai proyek infrastruktur transportasi jadi angin segar bagi pabrikan kereta, PT INKA. Permintaan rangkaian kereta dan komponennya dari luar negeri pun membuat perusahaan plat merah tersebut catatkan laba bersih hingga tiga digit.

Hal tersebut disampaikan Budi Noviantoro, Direktur Utama PT INKA, kepada Bisnis saat kunjungan media ke pabrik INKA, Rabu (07/11/2018). Dalam kesempatan tersebut, Budi mengajak Bisnis berkeliling pabrik seluas 83 hektar sambil menunjukkan fasilitas serta berbagai proyek permintaan dalam dan luar negeri.

Pabrik INKA di Madiun memiliki kapasitas produksi sebanyak dua kereta dalam tiga hari. Jumlah tersebut meningkat dari satu kereta dalam dua hari, seiring meningkatnya permintaan produksi.

Budi menjelaskan, saat ini INKA tengah menggarap proyek peremajaan 438 kereta milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan nilai sekitar Rp5-5,5 miliar per kereta. Hingga hari ini, Rabu (07/11/2018), Budi menjelaskan peremajaan yang telah rampung mencapai 200-an kereta.

Selain itu, INKA pun tengah menggarap kereta sleeper, yakni kereta kelas premium pesanan KAI. Menurutnya kereta tersebut merupakan proyek baru dari KAI yang mendapat respon baik sehingga kereta sleeper tersebut kembali dipesan. Kereta dengan 26 kursi tersebut ditargetkan rampung pada Januari 2019.

Selain kedua proyek tadi, Budi menjelaskan INKA bertanggung jawab dalam menyelesaikan proyek kereta Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek. Proyek ini menyusul berbagai proyek infrastrktur lain yang sebelumnya dikerjakan INKA, yakni kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek, KRL bandara di Jakarta dan Palembang, dan proyek kereta lainnya.

Berbagai proyek tersebut dinilai mendukung pertumbuhan industri perkeretaapian dalam negeri. Budi menjelaskan, getolnya pembangunan infrastruktur bahkan membuat INKA meningkatkan target pendapatan hingga Rp3,7 triliun pada tahun depan. Target tersebut meningkat dari target tahun ini sebesar Rp3,1 triliun.

Sebagai satu-satunya perusahaan yang memproduksi kereta di Indonesia, bahkan di Asean, INKA menguasai perkeretaan mulai dari produksi hingga perawatan. "Semua kereta pasti INKA, kecuali lokomotif," ujar Budi.

Selain permintaan dalam negeri pun INKA kini tengah bergeliat memenuhi permintaan luar negeri. Saat ini, INKA tengah mengerjakan proyek pesanan kereta dari Bangladesh sebanyak 250 kereta. Proyek senilai Rp1,3 triliun tersebut ditargetkan akan rampung pada Agustus 2020.

Data INKA menunjukkan bahwa INKA telah menjalin mitra dengan enam negara yakni Bangladesh, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Australia. Budi pun menjelaskan masih terdapat delapan negara yang potensial untuk menjadi pelanggan INKA, satu negara yang tengah melakukan negosiasi, dan satu negara lain yang mengunjungi pabrik INKA pada hari ini, Rabu (07/11/2018).

Salah satu negara yang menjadi sorotan Budi adalah Filipina. Negara ini hendak membeli lokomotif dan kereta barang untuk mengangkut peti kemas. Budi menjelaskan, INKA memilih langkah sharing profit dalam memenuhi pesanan kereta barang, lain halnya dengan kereta penumpang yang akan dijual secara langsung, atau 'jual putus' ujar Doni.

"Aku bilang nanti dulu. Dia bilang kira-kira harganya Rp350 miliar total. Kalau saya untung 10%, saya hanya untung Rp35 miliar, sekali doang kan? Jual putus namanya," ujar Doni.

Langkah yang diambil INKA pun yakni dengan memberikan kereta barang, kemudian keuntungan dari pengoperasian kereta tersebut dibagi antara Filipina dan Indonesia. Dengan cara tersebut, Doni menilai keuntungan yang diraih INKA akan lebih besar karena tidak hanya bersifat sekali, melainkan seperti investasi.

Cara yang sama pun akan diterapkan pada Senegal yang hendak membeli kereta barang untuk angkutan dari pelabuhan di Dakkar ke Mali. Jarak sepanjang 1.223 km tersebut dinilai akan lebih efisien jika ditempuh dengan kereta. INKA melihat peluang besar di sana.

Menurut Doni, langkah tersebut diambil untuk terus meningkatkan INKA sebagai ujung tombak industri perkeretaan Indonesia. Dengan keuntungan yang meningkat, INKA dapat terus mengembangkan unit manufaktur lainnya seperti komponen kereta, yang saat ini tengah berkembang.

Editor: Andhika Anggoro Wening

Berita Terkini Lainnya