KOMODITAS KACANG-KACANGAN : Ewindo Incar 30% Pasar Benih Kacang Hijau

Oleh: Pandu Gumilar 08 November 2018 | 02:00 WIB

JAKARTA — PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menargetkan bisa menguasai 30% pangsa pasar benih kacang hijau dalam lima tahun ke depan melalui varietas unggulan bermerek Vima 1.

Vima 1 dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi (Balitkabi) Kementerian Pertanian di Malang. Produktivitasnya mencapai 1,76 ton/ha dengan masa tanam 57 hari. Adapun, tiap hectare lahan kebun kacang hijau membutuhkan benih 20 kg dengan daya tumbuh 90%.

Managing Director Ewindo Glenn Pardede mengatakan peluncuran benih ini sebagai upaya untuk meningkatkan produksi kacang hijau yang sejalan dengan agenda peningkatan ketahanan pangan dan gizi nasional Pemerintah Indonesia.

Sebagai awalan, Ewindo menargetkan penjualan sebesar 60 ton pada 2019. Namun, Glenn menargetkan dalam 5 tahun ke depan perusahaannya bisa memproduksi dan menjual benih kacang hijau sebanyak 1.800 ton di 2023. Jumlah tersebut setara dengan 30% dari kebutuhan benih nasional yakni 6.000 ton.

Glenn mengatakan sebagai satu-satunya perusahaan produsen benih kacang hijau, berharap mendapatkan dukungan dari semua pemangkukepentingan dalam hal peningkatan produktivitas dan pendapatan petani kacang hijau di Indonesia melalui penggunaan benih kacang hijau berkualitas.

"Niat kami melakukan ekspansi ke komoditas kacang hijau tersebut, salah satunya untuk mendongkrak konsumsi kacang hijau yang masih rendah di Indonesia terutama untuk pemenuhan gizi di masyarakat," katanya, Rabu (7/11).

Direktur Marketing Ewindo Afrizal Gindow menambahkan perusahaannya sudah melakukan studi sejak 2015, karena merasa ganjil sebab benih kacang hijau masih diimpor dari Myanmar. Ewindo, tambahnya, berani terjun ke bisnis benih tanaman pangan karena melihat potensi yang besar.

Namun upaya Ewindo untuk mengembangkan komoditas kacang hijau bisa mendapatkan tantangan dari sisi regulator. Pasalnya, program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian masih fokus kepada padi, jagung dan kedelai (pajale).

Semenjak prioritas diberikan kepada pertanaman pajale, volume ekspor kacang hijau kian menurun setiap tahunnya. Berdasarkan data yang dilansir oleh Ditjen Tanaman Pangan pada tahun 2012, ekspor kacang hijau mencapai 44.378 ton, lalu pada 2015 49.697 ton, sedangkan pada 2018 ini menurun drastis yakni 2.041 ton.

Meski begitu, Glenn tetap optimistis benih yang dikembangkan oleh Ewindo akan diterima oleh pasar. Salah satu caranya adalah menyasar lahan marjinal yang kering dan berada di bagian Indonesia Timur. Strategi tersebut, kata Glenn, pernah berhasil ketika Ewindo memasarkan benih kangkung di Gresik.

"Kalau lahan itu terlalu bagus dia pasti tanam hortikultura seperti cabai atau tomat yang menghasilkan uang banyak. Jadi kami akan main di lahan marjinal yang kering dan ini cocok buat kacang hijau. Intinya kami akan menempati lahan yang selama ini tidak dioptimalkan," katanya.

Glenn juga mengatakan akan memperkuat pasar benih dengan mempromosikan kacang hijau kepada pelaku usaha industri hilir. Ewindo akan menjajaki kerjasama dengan para pelaku usaha lainnya.

"Dari sisi pasar kami kerjasama dengan perusahaan yang bisa mengolah kacang hijau menjadi punya nilai tambah. Kami harus develop pasar terlebih dahulu. Misalnya pengrajin kacang hijau itu sekarang berkurang karena produksinya juga turun. Jadi kami mengedukasi pasar dan [menyasar] sisi produksi," katanya.

Sayangnya Glenn tidak ingin mengungkapkan berapa besar perusahaannya menanamkan investasi untuk benih Vima 1. Glenn hanya mengungkapkan bahwa perusahaannya cukup berinvestasi untuk memproduksi benihnya saja, sementara infrastruktur seperti gudang dan pabrik telah mereka miliki. "Benih ini akan kami lepas ke pasaran Rp18.000/kg," katanya. (Pandu Gumilar)

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya