PERTUMBUHAN DAERAH : Ekonomi Sulut Hadapi Tantangan Berat

Oleh: Deandra Syarizka 07 November 2018 | 02:00 WIB
PERTUMBUHAN DAERAH : Ekonomi Sulut Hadapi Tantangan Berat
Tampak depan Kantor Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara /Bisnis-Kurniawan A. Wicaksono

MANADO — Pelambatan kinerja sektor pertanian yang terjadi selama dua kuartal terakhir menjadi tantangan terbesar Provinsi Sulawesi Utara dalam mencapai target pertumbuhan perekonomian tahun ini yang ditetapkan pada rentang 6,1%—6,6%.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulut Soekowardojo mengatakan bahwa pencapaian target pada tahun ini bisa dicapai hanya bila pertumbuhan ekonomi Sulut pada kuartal IV dapat mencapai di atas 6%. Namun, pihaknya ragu dapat mencapai angka pertumbuhan tersebut mengingat data pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal terakhir menunjukkan tren perlambatan.

“Bahwa kita tumbuh di atas nasional memang positif, kalau mau lebih lagi kita harus tumbuh tidak hanya di atas nasional, tetapi di atas 6%,” ujarnya, Selasa (6/10).

Adapun pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada kuartal III terkoreksi menjadi 5,66%, atau menurun 0,17% dibandingkan dengan kuartal II 2018 sebesar 5,83%.

Pencapaian tersebut berarti telah terjadi penurunan yang lebih dalam bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, mana kala pertumbuhan ekonomi Sulut menyentuh level 6,49%.

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi Sulut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,17%.

Soeko menjelaskan, kinerja sektor pertanian yang mendominasi struktur perekonomian Sulut menjadi tantangan terbesar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Rendahnya harga kopra yang anjlok hingga 40% sepanjang tahun menjadi salah satu faktor.

Padahal, kopra merupakan salah satu komoditas ekspor utama Sulut. Penurunan harga kopra tree diduga terjadi akibat suplai yang berlebih dan dibarengi dengan penurunan harga komoditas minyak kelapa di dunia.

“Karena harga kopra terlalu rendah sehingga nilai tambah di sektor pertanian hanya naik 1,7%. Imbasnya ke industri pengolahan juga,” ujarnya.

Soeko menilai, salah satu solusi jangka panjang yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja sektor pertanian Sulut adalah dengan melakukan penghiliran. Selain itu, juga dengan menghasilkan produk turunan kelapa yang lebih memiliki nilai tambah di pasar ketimbang hanya kopra, minyak kelapa, dan arang.

“Salah satu upaya mengurangi ketergantungan pada ekspor barang mentah adalah dengan penghiliran. Namun penghiliran perlu kepastian barang baku,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, di samping sektor pertanian, dua sektor lainnya yang menunjukkan kinerja melambat adalah sektor industri pengolahan serta jasa keuangan dan asuransi.

Sektor industri pengolahan yang berkontribusi 8,8% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut hanya 1,76%. Sementara, sektor jasa keuangan dan asuransi yang berkontribusi 3,7% terhadap PDRB bahkan mencatatkan pertumbuhan yang minus 0,57%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara Ateng Hartono menjelaskan di sisi produksi, pertumbuhan ekonomi Sulut didorong hampir oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa lainnya yang tumbuh 11,96%, diikuti oleh jasa kesehatan yang tumbuh 11,21%, dan konstruksi 10,49%.

“Beberapa sektor yang berkontribusi cukup besar kepada PDRB [produk domestik regional bruto] tetapi tumbuh melambat juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi tersendat,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan kinerja sektor pertanian yang memiliki kontribusi tertinggi terhadap PDRB Sulut yaitu sebesar 21% diakibatkan oleh penurunan produksi jagung. Selain itu, tanaman perkebunan juga tumbuh negatif akibat anjloknya harga kopra.

Lebih lanjut, dia menjabarkan, peningkatan jumlah wisatawan ke Bumi Nyiur Melambai menjadi salah satu faktor penyebab pesatnya pertumbuhan sektor jasa lainnya. Terlebih lagi, banyak penyelenggaraan acara pariwisata seperti Manado Fiesta, Tomohon International Flower Festival selama kuartal ketiga tersebut.

Sementara itu, sektor jasa kesehatan tumbuh pesat akibat peningkatan realisasi anggaran fungsi kesehatan dan pendidikan terutama dari pendanaan APBN. Adapun sektor konstruksi tumbuh tinggi karena adanya percepatan penyelesaian beberapa proyek nasional seperti jalan tol Manado—Bitung dan Bendungan Kuwil Kawangkoan, serta peningkatan belanja modal pemerintah.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya